Sukses

Make-up Permanen, Amankah?

Make-up merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari wanita. Namun, Amankah Make-up permanen untuk dilakukan? Berikut ulasannya.

Make-up seringkali membuat penampilan Anda lebih menawan. Make-up yang membuat bibir merah merona, alis berbentuk sempurna, dan eyeliner yang membuat mata Anda lebih menawan seakan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.

Make-up permanen menjanjikan Anda akan rasa percaya diri yang lebih ketika Anda bekerja sepanjang hari, ketika pergi ke pusat perbelanjaan, dan ketika bangun di pagi hari dengan make-up yang masih menempel dan tidak akan luntur.

Di tangan orang yang ahli, prosedur make-up permanen umumnya aman untuk dilakukan. Namun, jika prosedur make-up permanen dilakukan oleh sembarang orang dan orang tersebut tidak ahli maka dapat berakibat fatal, seperti terjadinya infeksi.

Make-up permanen dianggap sebagai micropigmentation, mirip dengan tato. Proses ini menggunakan jarum untuk memasukkan butiran pigmen di bawah lapisan kulit paling atas. Tato dan beberapa teknik, seperti filler, ataupun botox mempunyai teknik atau prosedur yang serupa. "Prosedur mereka sama, tetapi digunakan untuk tujuan yang berbeda," kata dokter spesialis mata Charles S. Zwerling, MD, yang menciptakan istilah micropigmentation.

Make-up permanen untuk eyeliner adalah yang paling populer, diikuti oleh alis dan warna bibir. Beberapa praktisi menawarkan blush on dan eye shadow, tapi Zwerling, ketua American Academy of Micropigmentation (AAM) di Goldsboro, NC, mengatakan bahwa ia benar-benar tidak setuju dengan hal ini. Zwerling mengatakan bahwa hal ini sangatlah buruk. Pasalnya, Anda tidak bisa yakin begitu saja dengan apa yang akan dilakukan, dan jika Anda mendapatkan reaksi alergi, maka areanya pun akan sangat besar.

Make-up permanen dan reaksi alergi yang merugikan

"Reaksi alergi terhadap pigmen cukup langka dan sulit untuk menangani iritasi tersebut," kata juru bicara FDA, Stanley Milstein, PhD, di Washington, DC. “Setiap kali Anda menanamkan benda asing ke dalam kulit maka hal tersebut memiliki potensi terjadinya alergi. Reaksi dapat terjadi setahun kemudian sebagai ruam atau reaksi alergi sistem kekebalan tubuh."

Zwerling mengatakan bahwa pigmen, seperti iron oxide, jarang menimbulkan reaksi alergi. Iron oxide telah terbukti menjadi pigmen paling aman. Apa pun yang bersifat nabati, organik, atau alami adalah yang paling berisiko. Pasalnya, produk alami dalam sayuran dan rempah-rempah dapat menyebabkan reaksi alergi yang mengerikan.

Reaksi alergi yang dapat terjadi adalah granuloma, yang banyak terbentuk di dalam jaringan di sekitar zat asing, dan keloid, yang tumbuh dengan cepat di jaringan parut pada bekas luka. Keloid yang muncul lebih sering diakibatkan karena penghapusan make-up permanen.

Pada bulan Juli 2004, Food and Drug Administration (FDA) mengingatkan masyarakat tentang sejumlah efek samping yang dilaporkan pada individu yang telah menjalani prosedur micropigmentation tertentu. Pada bulan Juli 2004, FDA telah mendapat laporan lebih dari 50 efek samping dan hal ini sedang diselidiki lebih lanjut.

Reaksi yang telah dilaporkan meliputi pembengkakan, retak, kulit mengelupas, dan terbentuknya jaringan parut, serta pembentukan granuloma pada bidang mata dan bibir. Pada beberapa kasus, efek samping yang dilaporkan menyebabkan hal yang serius sehingga dapat mengakibatkan kesulitan ketika makan dan berbicara.

Make-up permanen dan infeksi

Pada bulan Desember 2003, di San Antonio ditemukan sebuah salon make-up permanen yang bersalah karena menginfeksi wanita yang menjadi pelanggannya dengan hepatitis C.  Hal ini dapat terjadi karena serangkaian kegiatan touch-up untuk warna bibir wanita tersebut. Wanita yang menjalani make-up permanen tersebut diharuskan untuk membayar mahal untuk serangkaian prosedur make-up permanen yang ia lakukan. Namun, walaupun ia sudah membayar mahal, tetap saja wanita itu harus tertular penyakit karena alat yang digunakan tidak steril.

Sekitar 10 kasus penularan hepatitis dari prosedur make-up permanen pernah dilaporkan dan sebagian besar kasus lainnya adalah kasus AIDS. Hal ini disebabkan karena mayoritas praktisi yang melakukan make-up permanen ini menggunakan peralatan yang tidak steril. Pasalnya, peralatan yang tidak steril seperti jarum yang digunakan pada prosedur make-up permanen dapat menularkan penyakit menular, seperti hepatitis.

0 Komentar

Belum ada komentar