Sukses

Bayi yang Terinfeksi Virus Zika Dapat Mengalami Kerusakan Mata

Bayi yang terinfeksi virus zika tidak hanya lahir dengan ukuran kepala yang tidak normal, tetapi juga kelainan pada mata bayi tersebut. Benarkah demikian? Berikut info medisnya.

Bayi yang terinfeksi virus Zika dapat lahir tidak hanya dengan ukuran kepala yang tidak semestinya, yaitu lebih kecil dari normal, tetapi juga kelainan pada mata yang mengancam penglihatan bayi tersebut, demikian laporan yang disampaikan peneliti pada Selasa, 9 Februari 2016 di dalam jurnal JAMA Opthalmology.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa terdapat kerusakan pada retina, atau lapisan terdalam dari bola mata yang mengubah cahaya menjadi impuls listrik, dan saraf optik, atau bundel serat saraf yang berfungsi mengirimkan informasi penglihatan dari retina ke otak, pada 10 dari 29 bayi baru lahir yang diperiksa di Rumah Sakit Roberto Santos di Salvador, Brazil.

Bayi-bayi tesebut diduga terinfeksi virus Zika dan menderita mikrosefali, atau kondisi ukuran kepala yang lebih kecil dari ukuran normal. Penyebab-penyebab kelainan serupa, seperti infeksi rubella atau toxoplasmosis, telah lebih dulu disingkirkan.

7 dari 10 bayi yang baru lahir tersebut memiliki kelainan pada kedua matanya, sedangkan 3 bayi lainnya mempunyai kelainan pada salah satu mata. Masalah yang paling umum yang ditemukan adalah adanya pigmen-pigmen hitam pada bagian belakang mata, kerusakan yang luas pada jaringan retinanya, atau kerusakan pada lapisan pembuluh darah dan jaringan di bawah retina.

Dr. Lee M. Jampol, seorang profesor oftalmologi dari Northwest University menyatakan bahwa seberapa besar kemungkinan bayi-bayi tersebut dapat melihat belum dapat diketahui hingga saat ini. Akan tetapi, ia juga menambahkan bahwa bila dilihat dari tanda-tanda yang ada, terlihat adanya kerusakan pada mata bayi yang terinfeksi virus zika tersebut.

Disamping itu, dr. Rubens Belfort Jr juga menjelaskan bahwa kerusakan itu sendiri tidak dapat diperbaiki, namun demikian semakin awal dilakukan diagnosis, maka akan lebih baik. Selain itu, dr. Rubens Belfort Jr juga menyebutkan bahwa berdasarkan pengalamannya, sebagian besar anak-anak yang mengalami hal ini akan menderita kebutaan.

Untuk mengetahui adanya potensi gangguan pada mata, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan setiap bayi dari ibu yang tinggal atau ibu yang mengunjungi negara-negara endemis virus Zika selama kehamilan agar segera dilakukan pemeriksaan guna mengetahui apakah ada infeksi virus Zika atau tidak. Apabila tes yang dilakukan pada ibu hasilnya positif, maka bayi harus menjalani pemeriksaan mata 1 bulan setelah lahir.

Pada studi terbaru, sekitar 80% para ibu melaporkan gejala-gejala infeksi virus Zika, seperti kemerahan pada kulit atau demam pada masa kehamilan, terutama pada trimester pertama. Akan tetapi, tidak ada ibu yang melaporkan gejala mata merah.

0 Komentar

Belum ada komentar