Sukses

Mengatasi Nyeri Leher dengan Ilmu Rehabilitasi Medik

Mengatasi nyeri leher dapat dilakukan dengan ilmu rehabilitasi medik. Sebenarnya, apa itu ilmu rehabilitasi medik? Yuk kita ketahui bersama-sama mengenai ilmu rehabilitasi medik di sini.

Nyeri leher adalah keluhan yang sering ditemukan di masyarakat. Dengan peningkatan frekuensi penggunaan gadget dan komputer, kejadian nyeri leher ini juga diperkirakan meningkat.

Pasalnya, nyeri leher dapat disebabkan oleh kebiasaan bekerja, posisi tidur yang tidak baik, usia, serta proses degenerasi pada jaringan ikat dan sendi leher.

Ada berbagai cara yang ditawarkan di masyarakat untuk mengatasi nyeri leher yang terjadi, mulai dari kerokan sederhana, pijat leher, manipulasi leher oleh terapis-terapis tertentu, hingga penggunaan obat oles herbal maupun bahan obat-obatan yang sudah terbukti bermanfaat di dunia medis. Namun secara medis, terdapat penanganan menyeluruh yang ditawarkan oleh bidang ilmu Rehabilitasi Medik.

Apa itu Penanganan Rehabilitasi Medik?

Penanganan rehabilitasi medik pada nyeri leher merupakan penanganan non operatif yang berdasarkan bukti ilmiah dan didukung oleh hasil-hasil penelitian dengan metode yang benar.

Terapi Rehabilitasi Medik harus dilakukan berdasarkan diagnosis yang tepat, masalah fungsional yang juga harus diatasi, serta mempertimbangkan indikasi dan kontraindikasi setiap terapi sehingga terapi yang diberikan dapat terjamin keamanannya. Bila sebuah kondisi tidak dapat dilakukan penanganan rehabilitasi medik, misalnya membutuhkan operasi, rujukan harus segera dilakukan agar pasien mendapatkan penanganan yang sesuai secara maksimal.

Untuk itu, diagnosis yang tepat untuk mengetahui penyebab tepat dari keluhan nyeri leher harus dilakukan dengan saksama. Jika suatu keluhan nyeri leher sudah terjadi dalam beberapa waktu lama tanpa adanya perbaikan maka perlu dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh untuk memastikan “akar” permasalahan yang menyebabkan terjadinya keluhan.

Setelah diagnosisnya diketahui, maka penanganan rehabilitasi medik pada nyeri leher mencakup penggunaan obat-obatan minum, obat-obat suntik, terapi fisika, latihan fisik yang diharapkan dapat memperbaiki keluhan, ortosis (penggunaan alat untuk menyejajarkan masalah tulang), serta edukasi untuk pencegahan timbulnya masalah nyeri leher (misalnya postur yang baik saat beraktivitas). Penanganan difokuskan pada masalah fungsional pasien yang dapat mengganggu kualitas hidupnya.

Sebagai contoh, pasien datang dengan nyeri leher dan ditemukan adanya saraf yang terjepit, misalnya Hernia Nucleus Pulposus (HNP). Masalah yang dikeluhkan adalah nyeri leher yang dapat disebabkan oleh saraf yang terjepit maupun kerusakan jaringan ikat sekitar sendi (bantalan sendi dan lain-lain). Saraf yang terjepit dapat menyebabkan kekencangan otot yang berlebihan sehingga menyebabkan kontraksi dan relaksasi otot leher menjadi tidak seimbang, dan pada akhirnya menyebabkan perubahan postur leher yang akan semakin memperberat kerusakan jaringan dan keluhan yang dialami oleh pasien.

Penanganan rehabilitasi medik akan mengatasi keluhan nyeri, baik dari jepitan saraf, otot, maupun dari postur yang tidak sehat. Untuk mengatasi nyeri dengan cepat, biasanya obat-obatan minum dan obat suntik dapat digunakan. Namun harus selalu diingat, nyeri adalah tanda alami tubuh bahwa ada sesuatu yang salah sehingga menghilangkan nyeri tanpa mengatasi gangguan postur dan biomekanik dapat menyebabkan keadaan memburuk.

Selain dengan obat-obatan minum dan terapi fisika, manipulasi manual dan latihan terapeutik juga dapat mengatasi nyeri, terutama bila nyeri yang dirasakan disebabkan oleh kekencangan otot dan kontraksi relaksasi otot yang tidak seimbang. Penggunaan ortosis dan edukasi aktivitas kemudian dapat mencegah kembalinya rasa nyeri.  

Penggunaan modalitas yang tepat akan menentukan efektivitas program rehabilitasi. Terkadang, terapi yang tepat tidak dapat dilakukan karena alasan keamanan untuk pasien. Sebagai contoh, manipulasi manual (menggerakkan sendi dengan tangan) sangat berbahaya bila dilakukan pada sendi leher yang tidak stabil. Oleh karena itu, pertimbangan efektivitas dan keamanan pasien harus dipikirkan dengan baik sebelum dilakukan terapi.

Ditulis oleh:

dr. Ferius Soewito, Sp.KFR

Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik

 

 

 

0 Komentar

Belum ada komentar