Sukses

Transplantasi Ginjal di Indonesia: Pencapaian dan Hambatannya

Transplantasi ginjal merupakan sebuah tindakan yang penting, namun sulit untuk dilakukan sehubungan dengan hambatannya. Lalu, bagaimana dengan pencapaian dan hambatan transplantasi ginjal di Indonesia? Berikut ulasannya.

Seperti petir di siang bolong rasanya ketika dokter memvonis terjadi gagal ginjal pada seseorang sehingga orang tersebut harus menjalani proses cuci darah. Orang dengan gagal ginjal stadium 5 memang harus menjalani cuci darah (hemodialisis) untuk menggantikan fungsi ginjalnya dalam menyaring racun-racun dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.

Yang menjadi beban bagi mereka yang mengalami gagal ginjal adalah proses cuci darah yang harus dilakukan seumur hidup. Selain harus menghabiskan banyak waktu di rumah sakit, biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Tergantung dari tingkat kerusakan ginjalnya, seseorang harus melakukan cuci darah dari satu hingga dua kali dalam seminggu.

Alternatif apa yang dapat dilakukan selain cuci darah?

Dibandingkan dengan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani cuci darah, ada alternatif solusi lain yang dipandang lebih baik bagi penderita gagal ginjal, yaitu transplantasi organ.

Dengan melakukan transplantasi organ, yakni ginjal, yang hanya dilakukan sekali saja, orang yang mengalami gagal ginjal bisa mendapatkan ginjal baru yang dapat berfungsi dengan baik. Transplantasi ginjal ini merupakan sesuatu yang sering dilakukan. Sebanyak 70% operasi transplantasi organ di seluruh dunia adalah transplantasi ginjal.

Transplantasi ginjal, bagaimana syaratnya?

Tidak sembarang orang dapat menjadi donor untuk transplantasi organ. Pendonor harus berusia antara 18 hingga 60 tahun dan memenuhi syarat kesehatan tertentu. Akan lebih baik lagi jika sang pendonor memiliki hubungan darah dengan penerima ginjal. Jikalau tidak ada hubungan darah, sang pendonor masih dapat menjadi mendonorkan ginjalnya, namun prosedur yang harus dilakukan akan lebih rumit dan berpengaruh kepada biaya yang dibutuhkan. Setelah menjalani transplantasi ginjal, penerima harus tetap mengonsumsi obat-obatan untuk menekan sistem kekebalan tubuh agar ginjal barunya tidak mengalami penolakan.

Para ahli berpendapat bahwa transplantasi ginjal merupakan terapi terbaik bagi yang mengalami gagal ginjal jika dibandingkan dengan cuci darah. Selain hasil akhir yang lebih baik, secara keseluhan harganya pun lebih ekonomis. Selain itu, kualitas hidup pasien yang melakukan transplantasi ini akan menjadi lebih baik.

Transplantasi ginjal dan pencapaiannya di Indonesia

Transplantasi ginjal di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1977.  Hingga kini, kurang lebih 600 operasi transplantasi ginjal telah dilakukan di Indonesia.

Sejauh ini sudah ada beberapa rumah sakit yang berhasil melakukan transplantasi ini. Rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), RS Cikini, RS Gatot Subroto, RS Karyadi, RS Telogorejo, RS Sutomo, RS Sardjito, RS Pirngadi, RS Hasan Sadikin, dan RS Advent. Bahkan pada tahun 2013, RSCM telah berhasil melakuan transplantasi ginjal pada seorang anak berusia 12 tahun.

Transplantasi ginjal dan hambatannya

Meskipun telah dapat melakukan operasi transplantasi ginjal dengan teknologi terkini dan angka keberhasilan yang baik, jumlah operasi yang dilakukan di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara-negara lainnya di Asia, bahkan di dunia.

Sebenarnya, jumlah pasien yang memerlukan transplantasi ginjal sangatlah banyak, yakni diperkirakan lebih dari 100.000 orang yang memerlukan transplantasi ginjal. Oleh karena itu, antrean penerima donor ginjal untuk mendapatkan transplantasi ginjal sudah sangat panjang.

Namun sejauh ini, hanya 20% saja yang dapat tertolong dengan transplantasi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain biaya, regulasi, pandangan masyarakat, ketersediaan fasilitas, dan informasi yang sampai ke telinga masyarakat.

Tak jarang pasien melakukan prosedur transplantasi ginjal ini di negeri seberang dengan berbagai alasan. Proses yang tidak mudah dan tidak murah harus dijalani untuk mencari donor yang tepat, menjalani operasi, hingga mengonsumsi obat-obatan tertentu untuk mencegah reaksi penolakan.

Regulasi juga hanya memperbolehkan donor untuk memberikan ginjalnya secara sukarela, tanpa dibayar. Sementara itu, tidak banyak orang yang secara sukarela bersedia untuk memberikan ginjalnya, jika bukan untuk keluarga.

Transplantasi ginjal dan solusinya

Untuk menambah jumlah donor, diharapkan dapat dibuat suatu peraturan yang memudahkan donor organ dari kadaver (jenazah), di mana keluarga atau orang yang telah meninggal dunia sebelumnya menandatangani persetujuan (jika bersedia) untuk mendonorkan organnya bagi mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, berbagai persiapan telah dapat dilakukan sebelumnya untuk dapat mengatasi antrean panjang orang yang membutuhkan donor tersebut.

Selain perbaikan kualitas pelayanan, sarana, dan prasarana rumah sakit, penyuluhan juga harus disebarluaskan kepada masyarakat bahwa pendonor masih dapat menjalani kehidupan normal dan sehat, bahkan setelah memberikan salah satu ginjalnya.

Dan akan lebih baik lagi jika terdapat sistem asuransi kesehatan yang dapat memfasilitasi proses transplantasi ginjal ini, baik dari proses pencarian donor hingga pengobatan pasca operasi.

 

Sumber:

Acta medica indonesia J internal medicine, HMS Markum

Bennett, P.N. and Hany, A. 2009-03, Barriers to kidney transplants in Indonesia : a literature review, International nursing review, vol. 56, no. 1, pp. 41-49.

Jakarta Globe

Mayo Clinic

0 Komentar

Belum ada komentar