Sukses

Menjelaskan Teror Bom kepada Anak

Menjelaskan terror bom kepada anak, mengapa tidak? Namun, menjelaskan terror bom kepada anak harus dengan tenang dan hati-hati agar tidak membuat Si Kecil menjadi takut dan panik.

KlikDokter.com – Teror bom di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat pada tanggal 14 Januari 2016 lalu masih segar di ingatan kita. Walaupun memakan korban jiwa dan sempat membuat panik, polisi akhirnya berhasil mengamankan situasi.

Berkaitan dengan isu teror bom di beberapa tempat di Jakarta, sekolah-sekolah pun memulangkan murid-murid lebih awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Anak-anak tentunya bertanya-tanya, mengapa mereka pulang lebih cepat.

Sudah menjadi reaksi yang umum bagi orang tua untuk menyembunyikan situasi yang mencekam, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, karena naluri orangtua adalah melindungi anak-anaknya.

Namun, bagi Anda yang memiliki anak di atas usia lima tahun, para ahli menyarankan untuk secepatnya memberitahu informasi tersebut kepada anak, dan jangan menundanya. Karena lama-kelamaan Si Kecil akan mengetahui peristiwa tersebut, dan adalah hal yang terbaik jika ia mendengar hal tersebut pertama kali melalui Anda.

Berikut adalah saran untuk menghadapi Si Kecil sesuai dengan usianya:

Usia Prasekolah

Untuk usia ini, yakni usia di bawah lima tahun, para ahli berpendapat agar Anda sebaiknya tidak membicarakan kejadian tersebut kepada anak. Anak usia prasekolah masih belum dapat membedakan fakta dengan ketakutan belaka.

Jika mereka bertanya mengenai hal tersebut, jawablah sekadarnya dan jangan berikan hal-hal yang mendetail. Batasi akses mereka kepada berita di televisi, koran, dan internet mengenai hal ini.

Usia Sekolah Dasar

Anak usia ini umumnya sudah mulai menyadari kejadian yang terjadi di sekitarnya. Ketika Anda menjemputnya lebih awal di sekolah, ia pasti akan bertanya-tanya. Mungkin ia sudah mendengar sedikit informasi dari guru atau teman-temannya, dan menanyakannya kepada Anda.

Anda dapat menjawab pertanyaannya, namun hindari menjawab pertanyaan tersebut secara detail. Selain itu, hindari pula memberikan informasi tentang hal-hal yang tidak ia tanyakan. Usahakan untuk tidak menakuti Si Kecil. Bicaralah dengan tenang, dan jangan pula terlihat takut ataupun gelisah. Pasalnya, emosi Anda dapat menular kepada Si Kecil.

Tanyakanlah kepada anak bagaimana perasaannya setelah mendengar berita tersebut. Katakanlah bahwa merasa takut akan hal ini adalah hal yang wajar dan bukan sesuatu yang memalukan. Kejadian ini adalah hal yang sangat langka. Selain itu, jelaskan juga bahwa orang yang jahat telah ditangkap, dan kemungkinan untuk kejadian ini terjadi kembali sangat kecil.

Pastikan Anda menunjukkan bahwa Si Kecil merasa aman dan disayang.

Usia Sekolah Menengah

Anak usia ini umumnya telah mendengar banyak informasi dari televisi, radio, koran, dan internet. Tanyakan kepada anak apakah ia sudah mendengar berita tersebut, dan apa saja yang ia ketahui mengenai hal tersebut.

Jika mereka bertanya mengenai hal tersebut, jawablah dengan simpel dan hindari memberikan jawaban secara detail, terutama tentang hal-hal “tingkat tinggi” dan menyeramkan. Yakinkan bahwa ia aman, karena polisi dan pemerintah akan berusaha sebisa mungkin agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

Reaksi anak terhadap berita seperti ini berbeda-beda. Ada yang tampak biasa saja dan tidak peduli, ada pula yang menjadi ketakutan. Jika anak Anda ketakutan, buatlah ia tenang dan yakinkan bahwa Anda akan menjaga supaya ia tetap aman, dan jelaskan juga bahwa ketakutan adalah hal wajar yang dialami oleh manusia.

Anda bisa menggali apa saja yg menjadi ketakutannya. Selain itu, Anda juga bisa mencaritahu apakah ia pernah mengalami kejadian menakutkan yang serupa atau tidak.

Jika Anda merasa bahwa anak telah cukup besar dan mengerti, Anda dapat berbagi kepadanya mengenai rencana Anda dalam “misi penyelamatan keluarga”. Misalnya, apa saja yang harus dipersiapkan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, jalan rahasia mana yang akan diambil untuk penyelamatan, nomor telepon darurat apa yang harus dihubungi, ke mana Anda sekeluarga akan mengungsi, dan lain-lain.

Contoh Percakapan

Jika Si Kecil menanyakan mengenai “Apa itu teroris?” Anda dapat menjawab bahwa teroris adalah seseorang yang berusaha untuk menyakiti dan menakuti orang lain. Orang seperti ini sangat sedikit di dunia, dan banyak sekali orang-orang baik yang berusaha keras untuk menangkap mereka.

Apabila pertanyaan selanjutnya adalah “Apa yang mereka lakukan?” Anda bisa mengatakan bahwa mereka memasang bom untuk melukai dan menakuti orang.

Jika Si Kecil bertanya “Apakah hal tersebut akan terjadi di tempat lainnya?” Jawablah bahwa pemerintah dan polisi akan berusaha sebisa mungkin agar hal tersebut tidak terjadi lagi.

Hal Penting yang Perlu Diperhatikan

Bekali Si Kecil dengan nomor telepon penting yang dapat dihubungi dalam keadaan darurat, seperti nomor ponsel orangtua, kakek/nenek, saudara yang lebih tua, nomor telepon polisi, dan rumah sakit, serta pemadam kebakaran. Oleh karena itu, Anda dapat mengizinkan Si Kecil menggunakan ponsel jika dirasakan perlu.

0 Komentar

Belum ada komentar