Sukses

Seorang Anak Sembuh dari Infeksi HIV

Seorang anak berusia 2,5 tahun di Mississippi, Amerika Serikat dinyatakan sembuh dari infeksi HIV (Human Immunodefieciency Virus, HIV). Simak info medis berikut.

Seorang Anak Sembuh dari Infeksi HIVKlikDokter.com - Seorang anak berusia 2,5 tahun di Mississippi, Amerika Serikat dinyatakan sembuh dari infeksi HIV (Human Immunodefieciency Virus, HIV). Selama ini, baru ada satu orang dewasa bernama Timothy Brown yang pernah mengalami hal serupa. Ia adalah seorang pasien leukemia dari Berlin yang menerima transplantasi sumsum tulang dari seorang donor yang secara genetik resisten terhadap infeksi HIV. Pada pasien anak, ini merupakan kasus pertama dan dapat menjadi batu loncatan perubahan tatalaksana HIV pada bayi baru lahir.

Menurut Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada tahun 2011, 330.000 bayi lahir ke dunia dengan HIV. Sembilan puluh persen dari mereka terlahir di negara-negara dengan sumber daya yang rendah. Secara keseluruhan, lebih dari tiga juta anak yang hidup dari titik paling selatan hingga paling utara bumi hidup dengan virus ini dalam tubuhnya.

Di Indonesia sendiri, data Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) 2010 menyebutkan bahwa 2,6% infeksi HIV baru terjadi karena penularan dari ibu ke janin atau bayinya.

Silakan klik next untuk melanjutkan.

1 dari 2 halaman

Seorang Anak Sembuh dari Infeksi HIV

Penularan HIV pada bayi dapat terjadi saat bayi masih di dalam rahim, saat proses persalinan, atau selama bayi menyusui. Namun, risiko penularan ini dapat diturunkan dengan mengikuti langkah-langkah pencegahan penularan dari ibu ke anak (prevention mother to child transmission, PMTCT) dari Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO):

  • Ibu hamil mengkonsumsi obat antiretroviral selama kehamilannya: menurunkan risiko transmisi ke janin hingga kurang dari 2 persen. 

  • Bayi yang lahir dari ibu positif HIV segera diberikan satu obat antiretroviral zidovudine (profilaksis) dan tidak diberikan air susu ibu secara langsung. Pemberian obat profilaksis tersebut biasanya diberikan selama 4-6 minggu dan dapat menurunkan risiko transmisi sebanyak 66 persen. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya HIV, terapi yang lebih agresif dapat diberikan.

Berbeda dengan petunjuk tatalaksana di atas, bayi Mississipi ini langsung diberikan tiga obat antiretroviral dengan tujuan terapi segera setelah lahir (bukan profilaksis, tanpa konfirmasi status HIV-nya) oleh dr. Hannah Gay yang merawatnya. Hal ini memang dilakukan oleh beberapa dokter pada kasus-kasus yang risiko penularannya dinilai tinggi seperti pada bayi ini. Ia lahir secara prematur di sebuah rumah sakit daerah pada musim gugur tahun 2010. Sang ibu tidak pernah memeriksakan kehamilannya ke dokter dan tidak tahu bahwa ia memiliki HIV. Karena hasil pemeriksaan laboratorium mengindikasikan bahwa ia mungkin terinfeksi, rumah sakit merujuk bayinya ke University of Mississippi Medical Center untuk tatalaksana lebih lanjut. Hasil pemeriksaan laboratorium yang ada setelah terapi dimulai menunjukkan bahwa bayi tersebut memang positif HIV.

Ketika si bayi berusia 18 bulan, ibunya menghentikan sendiri pengobatannya dan tidak lagi memeriksakan anaknya ke dokter. Namun, pada pemeriksaan ulang yang dilakukan satu tahun kemudian, HIV tidak lagi terdeteksi dalam darahnya. Hal ini kemungkinan terjadi karena obat-obat yang diberikan membasmi virus yang ada sebelum terbentuk reservoar virus di tubuh bayi. Satu alasan infeksi HIV tidak dapat disembuhkan adalah karena virus tidur bersembunyi di luar jangkauan obat yang tersedia. Bila terapi obat dihentikan, virus tersebut dapat muncul dari persembunyiannya.

Berbagai penelitian sedang direncanakan untuk melihat apakah pemeriksaan dan terapi agresif dini dapat diterapkan dan berhasil pada bayi-bayi lain. Jika berhasil, terapi Mississippi ini dapat menjadi standar tatalaksana yang baru.

0 Komentar

Belum ada komentar