Sukses

Debat Ganja Sebagai Anti Nyeri

Di Inggris dan di Amerika Serikat, ide ganja (cannabis sativa) untukj digunakan sebagai anti nyeri kembali meramaikan dunia medis. Bagaimana di Indonesia? Berikut paparan dr. Dayen Tri Rejeki Herdiana disini.

KlikDokter.com - Di Inggris baru-baru ini, ide ganja (cannabis sativa) untuk digunakan sebagai anti nyeri kembali meramaikan dunia medis. Kendati legalitas penggunaannya masih dilarang di beberapa negara, tidak menjadikan penelitian dari University College London berhenti.

Pakar pengobatan nyeri University College London, Tony Dickenson mengemukakan dengan merokok ganja dengan pipa efektif untuk meredakan nyeri pada pasien yang menderita kerusakan saraf.

Lebih lanjut ditemukan indikasi pada pasien adanya perbaikan kualitas tidur dan peredaan terhadap kecemasan. Namun demikian, para peneliti harus melakukan kajian lebih lanjut, hal ini dikarenakan dampak dari ganja tersebut masih terbilang potensi kecil.

Mengkonsumsi ganja dapat mempengaruhi perubahan struktur otak. Nah lho? Berikut ini penjelasannya:

1 dari 2 halaman

Ganja : Abnormalitas Struktur Otak

tetrahydrocannabinol, THC, GanjaWalau demikian, masih perlu dipertimbangkan mengenai ancaman paparan ganja dalam waktu yang lama dan jumlah yang banyak. Yakni berkaitan dengan abnormalitas struktur otak.

Peneliti dari Universitas Melbourne, Australia, menemukan bahwa hipokampus dan amygdala (salah satu bagian di otak), berukuran lebih kecil pada pengguna ganja berat dibandingkan dengan mereka yang tidak mengkonsumsi ganja. Reduksi volume rata-rata berkisar 12% di hipokampus dan 7,1% di amygdala.  Penggunaan ganja juga berkaitan dengan gejala dari gangguan psikotik.

“Penemuan ini membantah persepsi yang tersebar luas mengenai penggunaan ganja yang tidak menyebabkan sekuel kelainan organ tubuh.  Meskipun penggunaan yang sedikit tidak akan menyebabkan efek neurotoksik (kelainan pada saraf), hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa konsumsi ganja dalam jumlah banyak setiap harinya dapat mengakibatkan toksik untuk jaringan otak manusia,” kata peneliti tersebut.

Didapatkan data bahwa 15 juta penduduk Amerika menggunakan ganja setiap bulannya. 3,4 juta penduduk konsumsi setiap harinya dengan durasi 12 bulan atau lebih, dan setiap tahunnya 2,1 juta penduduk mulai mengkonsumsi obat-obatan. Penelitian ini dipublikasikan pada bulan Juni 2008 dalam Archives of General Psychiatry. 

Sumber : www.thisislondon.co.uk

1 Komentar

  • wedus wedan

    sebagai dokter anda tidak tahu apa2 ,, dan apa yg di rasakan pasien anda tidak tahu apa itu ketenangan atw kesenangan. pahamilah pasien anda .. maka itu bila ada pasien yg hrs mengkonsumsi ganja untuk media medis nya tolong jangan di kucil kan krn memang fix ganja itu sudah di legalkan di dunia luas