Sukses

Tas Sekolah Bisa Rusak Tulang Anak

Sulit dipungkiri, belakangan ini banyak sekali anak sekolah yang memakai tas punggung yang bebannya terlalu berat. Masalahnya, jika beban tas sekolah melebihi bebannya bisa-bisa yang jadi korban masa depan kesehatan tubuh anak. Simak selengkapnya dengan dr. Dyah Novita Anggraini disini.

Klikdokter.com – Sulit dipungkiri, belakangan ini banyak sekali anak sekolah yang memakai tas punggung yang bebannya terlalu berat.

Padahal beban yang mampu diangkat oleh seorang kanak-kanak hanya 5-15 % dari berat tubuhnya. Pasalnya, jika beban tas sekolah melebihi bebannya bisa-bisa yang jadi korban masa depan kesehatan tubuh anak.

Tidak tanggung-tanggung, punggung anak jadi cenderung rusak melengkung. Bagaimana bisa?

Sebelum kita mengerti lebih jauh, ada baiknya ketahui terlebih dahulu bagaimana proses pertumbuhan tulang kita dan pengaruh sebuah faktor beban yang ditanggungnya.

Klik ‘next’ untuk selanjutnya.

1 dari 6 halaman

Tas Sekolah Bisa Rusak Tulang Anak

Klikdokter.com – Sulit dipungkiri, belakangan ini banyak sekali anak sekolah yang memakai tas punggung yang bebannya terlalu berat.

Padahal beban yang mampu diangkat oleh seorang kanak-kanak hanya 5-15 % dari berat tubuhnya. Pasalnya, jika beban tas sekolah melebihi bebannya bisa-bisa yang jadi korban masa depan kesehatan tubuh anak.

Tidak tanggung-tanggung, punggung anak jadi cenderung rusak melengkung. Bagaimana bisa?

Sebelum kita mengerti lebih jauh, ada baiknya ketahui terlebih dahulu bagaimana proses pertumbuhan tulang kita dan pengaruh sebuah faktor beban yang ditanggungnya.

Klik ‘next’ untuk selanjutnya.

2 dari 6 halaman

Tas Sekolah & Pertumbuhan Tulang

Berat Badan (kg)

Maksimum Berat Tas Punggung (kg)

30

2,5

30 – 37,5

5

50

7,5

62,5

9

75

10

100 atau lebih

12,5 (pemakaian tas diatas 12,5 kg tidak dianjurkan)

Pertumbuhan tulang dan tinggi badan manusia biasanya berhenti ketika lempeng pertumbuhan (lempeng efifisis) di ujung tulang mulai menutup. Penutupan ini terjadi sekitar usia 16 tahun pada wanita atau 18 tahun pada pria.

Apabila di usia itu pertumbuhan tulang mengalami gangguan itu pasti akan terjadi masalah, dan mengangkat beban yang terlalu berat di batas kemampuan pasti akan menyebabkan masalah sakit punggung/belakang tubuh.

Menurut William Hennrikus MD, dari American Academy of Pediatrics bagian ortopedi, beban tas yang terlalu berat bukan hanya menimbulkan kelainan pada tulang anak saja (kifosis dan skoliosis) tetapi anak juga bisa menderita kelainan pada postur tubuhnya, seperti terhambatnya pertumbuhan tinggi anak. Kifosis adalah kelainan pada tulang punggung yang terlalu membengkok ke belakang.Sedangkan skoliosis adalah kelainan pada ruas-ruas tulang belakang yang membengkok ke samping.

 

Klik ‘next’  untuk selanjutnya.

 

 

3 dari 6 halaman

Tas Sekolah vs Skoliosis & Kifosis

Tanda bahwa tas punggung pada anak Anda sudah melebihi beban seharusnya:

·         Perubahan postur tubuh anak ketika memakai tas punggung.

·         Anak terlihat kesusahan saat meletakkan atau melepaskan tas.

·         Anak mengeluh rasa nyeri ketika memakai tas.

·         Rasa kesemutan atau mati rasa di daerah lengan dan kaki.

·         Adanya tanda kemerahan di bagian punggung.

Bagaimana penanganan kelainan punggung dari dampak tas sekolah yang terlalu berat?

Klik ‘next’ untuk selanjutnya.

4 dari 6 halaman

Penanganan Dampak Kelainan Punggung Akibat Tas Sekolah Terlalu Berat

Berikut penanganan efek samping penggunaan tas punggung pada anak yang dapat Anda lakukan:

  • Membiasakan isi tas sekolah hanya yang diperlukan saja seperti buku pelajaran , buku tulis dan alat tulis.

  • Memberikan pengertian kepada siswa untuk menggunakan tas sekolah , tempat pensil dan barang-barang alat tulis lainnya yang terbuat dari bahan tahan lama namun ringan. 

  • Menunjukkan kepada siswa cara yang benar dalam membawa tas sekolah dan menjelaskan efek samping jika menggunakan tas sekolah yang berat terlalu lama. Berikut cara pemakaian tas yang benar:

    • Selalu menggunakan kedua tali bahu jika memakai ransel di punggung. Dimana tali pada bahu tersebut haruslah turun sekitar 1 sampai dengan 2 inci dari bagian atas bahu

    • Tempatkan benda terberat dalam ransel berada paling dekat dengan punggung anak

    • Isi seluruh bagian sehingga beban merata di seluruh ransel dan barang-barang tidak bergeser selama gerakan.

    • Sesuaikan tali agar sesuai untuk tubuh anak, hindari tas punggung yang menggantung dibawah pinggang.

    • Gunakan tali pinggang untuk mengurangi beban pada bahu anak

    • Angkat ransel bukan dengan membungkuk.

  • Tanya anak Anda jika mereka merasa sakit punggung atau sakit

Selain pada aspek anak, diperlukan juga atensi orangtua pada beberapa hal. Apa sajakah? Klik ‘next’ untuk selanjutnya.

5 dari 6 halaman

Peran Orangtua untuk Masalah Punggung Anak Akibat Tas Sekolah

Memberikan pengertian dan kerjasama kepada orangtua:

  • Orangtua harus membantu dalam memilih tas sekolah dan barang-barang yang terbuat dari bahan ringan.

  • Membantu anak-anak untuk berkemas tas sekolah setiap hari sesuai jadwal dan untuk mencegah  anak-anak mereka dari membawa majalah, mainan dan barang-barang yang tidak perlu ke sekolah

Memberikan pengertian kepada sekolah, dengan cara memberikan himbauan / anjuran:

  • Sekolah harus meminimalkan jumlah mata pelajaran untuk setiap hari dan merancang jadwal sedemikian cara agar pelajaran yang membutuhkan untuk membawa sejumlah besar buku teks, buku-buku latihan dan bahan berat (seperti atlas, kertas gambar, karton, dll) tidak diberikan dalam satu hari yang sama akan tetapi merata dalam seminggu.

  • Pilih buku teks yang sesuai. Dalam memilih buku pelajaran, sekolah harus menghindari penggunaan terlalu banyak buku latihan tambahan (pekerjaan rumah).

  • Jika memang harus menggunakan buku latihan tambahan. Guru dapat menggunakan satu halaman kertas saja dalam memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman website kami.[](HM/AN)

 

Ditulis oleh:
dr. Dyah Novita Anggraini
Anggota Redaksi Medis
Klikdokter.com 

 

0 Komentar

Belum ada komentar