Sukses

4 Fakta & Mitos Penyebab Kegemukan

Pernah dengar orang berkata: ?Saya gemuk karena dari sono-nya?? atau Anda pernah mendengar

KLIKDOKTER.com - Kegemukan atau biasa disebut obesitas merupakan masalah yang besar pada abad ini. Jumlah kasus obesitas terus meningkat. Apakah Anda tahu jika terjadi kegemukan maka risiko untuk menderita diabetes dan penyakit jantung juga meningkat di masa depan Anda?

Lalu kenapa orang bisa mengalami kegemukan? Selain faktor makan berlebihan dan kurang olahraga, apakah benar memang 'dari sononya' orang bisa gemuk? Atau karena faktor tulangnya besar? Sebelum kita ketahui lebih jauh apa pencetus kegemukan sebenarnya, ada benarnya kita telusuri terlebih dahulu apa itu kegemukan dalam dunia medis.

Kegemukan = Obesitas

Obesitas adalah keadaan di mana terdapat kelebihan lemak dalam tubuh. Standar definisi dari obesitas dan overweight dilihat berdasarkan indeks massa tubuh (IMT).  IMT diukur dengan satuan berat badan dan tinggi badan ((Berat badan/tinggi badan (kg/m2)). Obesitas dapat meningkatkan mortalitas (angka kematian) seseorang dengan penyakit kronis yang mengancam jiwa seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit  jantung dan pembuluh darah, kantung empedu, sensitifitas hormon dan kanker saluran cerna.

Nah, berikut ini adalah paparan-paparan 4 fakta dan mitos penyebab kegemukan lebih jelasnya.

Klik 'next' untuk selanjutnya.

 

1 dari 5 halaman

1. Mitos: ?Saya gemuk karena dari sono-nya?

Fakta: Tidak sepenuhnya benar.

Kegemukan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Terdapat faktor yang dapat dimodifikasi dan ada faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang dapat dimodifikasi adalah pola hidup yang termasuk pola makan dan olahraga. Sedangkan salah satu contoh faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah genetik.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah di identifikasi berbagai gen dalam tubuh yang bertanggung jawab terhadap kegemukan. Gen kegemukan bukanlah vonis mutlak Anda akan menjadi gemuk. Namun gen ini dikombinasikan dengan faktor pola hidup yang menunjang kegemukan, merupakan dua hal yang memperbesar kemungkinan seseorang menjadi gemuk.Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa terdapat interaksi kuat antara faktor pola makan dan genetik seseorang. Seseorang dengan gen kegemukan lebih rentan untuk menjadi gemuk, akibat dari minuman berpemanis atau soft drink. Kegemukan bukanlah sebuah “nasib” yang tidak dapat diubah. Peningkatan risiko pada seorang dengan gen kegemukan bisa ditekan dengan pemilihan makanan dan minuman yang lebih sehat. 

2 dari 5 halaman

2. Mitos: ?Saya Tidak Gemuk, Tapi Hanya Karena Tulang Saya Besar?

gemuk tulang besarFakta: Salah

Meskipun sebagian orang terlahir dengan massa, volume dan dimensi ukuran tulangnya yang lebih besar dari ukuran normal. Namun hal tersebut bukan ‘alasan’ pencetus karena kondisi kegemukan.

Gambar di sebelah menerangkan; bahwa segemuk apapun dimensi tulang tetap umum sama dengan kebanyakan orang lainnya, bahkan sama dengan orang yang tidak gemuk.

Dalih 'I'm Not Fat, I'm Big Boned", kebanyakan dijadikan pembenaran sebagai kondisi kegemukan. Padahal, obesitas yang notabene adalah sebagai pencetus berbagai penyakit, tidak bisa diremehkan dan harus disikapi serta disolusikan secara bijaksana.

3 dari 5 halaman

3. Mitos: Gemuk Karena Kebanyakan Minuman Bersoda

obesitas kegemukanFakta: Benar

Selain faktor gaya hidup yang paling berperan, pola makan dan minum juga sangat mempengaruhi kondisi kegemukan. Salah satu bentuk minuman yang digemari saat ini adalah soft drink atau minuman ringan.

Soft drink merupakan minuman dengan pemanis yang umum ditemui dimana-mana. Salah satu bentuk soft drink yang biasa ditemui adalah minuman bersoda.

Sayangnya soft drink memiliki nilai nutrisi yang rendah. Selain itu, soft drink identik dengan makanan cepat saji berkalori tinggi. 

Keduanya merupakan bentuk makanan yang dapat menambah risiko kegemukan jika dikonsumsi terus menerus.

4 dari 5 halaman

4. Mitos: Gemuk Belum Tentu Jadi Diabetes

Fakta: Salah

Dengan kondisi kegemukan, justru  Anda malah menambah risiko mendapatkan diabetes. Ditambah lagi jika Anda tidak merubah dan mengurangi asupan minuman bersoda. Semakin banyak bukti yang mendukung hubungan peningkatan konsumsi soft drink dengan berbagai penyakit kronis seperti diabetes.

Penyebab utama hubungan diabetes dan minuman bersoda adalah penggunaan sirup jagung yang kaya fruktosa. Konsumsi fruktosa menyebabkan perkembangan resistensi insulin. Kedua hal ini akan mempercepat perlemakan hati dan diabetes tipe 2.

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa pemberian minuman non-kalori sebagai ganti minuman berpemanis, dapat menurunkan berat badan dan akumulasi lemak pada anak-anak. Hal ini memberikan sebuah hubungan kausal antara minuman berpemanis, kenaikan berat badan dan risiko obesitas.

Berbagai faktor diduga turut menyumbang pada peningkatan angka obesitas di dunia. Selain faktor genetik, pola makan yang kaya kalori dan jarang berolahraga diduga berperan penting dalam peningkatan kasus kegemukan di dunia.

Perlu ditekankan bahwa untuk memecahkan masalah kegemukan diperlukan pendekatan multifaktor. Perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas merupakan langkah awal yang baik. Pola makan yang rendah lemak, kaya buah dan sayuran, ditambah pengurangan konsumsi soft drink merupakan kombinasi yang tepat bagi Anda yang ingin mempertahankan berat badan ideal dan mencegah terjadinya kegemukan.

Baca juga:

0 Komentar

Belum ada komentar