Sukses

Ryan, Psikopat?

Kasus pembunuhan mutilasi Ir. Heri Santosa (40) yang dilakukan oleh tersangka Verry Idam Henyansyah alias Yansyah alias Ryan (30) beberapa pekan lalu telah mencuri perhatian publik. Kasus mutilasi tersebut berkembang menjadi kasus pembunuhan berantai setelah pihak kepolisian menemukan empat korban pembunuhan Ryan lainnya yang...

Kasus pembunuhan mutilasi Ir. Heri Santosa (40) yang dilakukan oleh tersangka Verry Idam Henyansyah alias Yansyah alias Ryan (30) beberapa pekan lalu telah mencuri perhatian publik. Kasus mutilasi tersebut berkembang menjadi kasus pembunuhan berantai setelah pihak kepolisian menemukan empat korban pembunuhan Ryan lainnya yang terkubur di perkarangan belakangan rumah orangtua tersangka di Jombang, Jawa Timur.

Seiring dengan perkembangan proses penyidikan, pihak kepolisian menemukan korban kekejian Ryan lainnya yang dibantai dalam kurun waktu kurang dari setahun belakangan. Sejauh ini, ditemukan enam jasad lagi yang dikubur oleh tersangka di septic tank di perkarangan rumah orangtuanya. Setidaknya terdapat 26 keluarga yang mengadukan kasus orang hilang berkaitan setelah mengadakan kontak dengan Ryan.

Tak ayal, kekejian tersangka memicu berbagai pendapat dari berbagai pihak, sebagaimana terkutip di harian Kompas edisi Rabu, 23 Juli 2008, Psikiater di Rumah Sakit Dr Soetomo, Nalini M Agung, mengatakan, tersangka Verry atau Ryan diduga memiliki kecenderungan psikopat yang tidak selalu berkait dengan orientasi seksualnya. Dikatakan pula oleh Nalini, gejala penyakit jiwa Ryan itu terlihat dari ekspresi Ryan yang tampak tanpa rasa bersalah ketika menceritakan pembunuhannya dan proses pembunuhan yang cenderung sadis, bahkan memutilasi salah satu korbannya.

Namun asumsi kecenderungan psikopat pada diri Ryan tidak dapat disimpulkan hanya dari penilaian ekspresi sesaat. Diperlukan beberapa tahap dan prosedur untuk dapat menyimpulkan apakah seseorang mengidap anti social personality atau dalam bahasa umumnya dikenal sebagai psikopat.

Secara harfiah psikopat berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.

Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut "orang gila tanpa gangguan mental".

Seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.

Kepala Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, dr Ayu Agung Kusumawardhani, SpKJ(K) menjelaskan, secara umum psikopatis memiliki karakter khusus yang selalu mengabaikan norma-norma sosial maupun norma-norma hukum yang berlaku. Bahwasanya setiap manusia yang terlahir di dunia memiliki karakter dasar masing-masing yang memicu bakat seseorang di masa depan, karakter psikopatis atau orang pengidap kecenderungan anti social personality pun berasal dari karakter dasar bakat di saat terlahir di dunia hingga terbentuk dari faktor-faktor pemicu lainnya yang mendukung seseorang menjadi psikopatis.

Beliau juga menambahkan, karakter dasar bakat psikopatis memiliki beberapa indikasi kuat yang dapat ditemui di masa pembentukannya. Perkembangan karakter psikopatis kebanyakan dipicu dari masa perkembangan masa kecil psikopatis itu sendiri. Beberapa indikasi tersebut yang dapat ditemui di masa kecil yang mengindikasi bakat psikopatis secara umum diantaranya yakni, sadistic, pyromaniac & inkontinensia urine.

Gejala Umum Psikopatis

Sadistic

Perilaku ini merupakan perkembangan dari karakter sifat manusia yang kejam. Sebagai contohnya, ditandai perilaku yang suka menyiksa, manipulatif, senang melihat makhluk hidup selain dirinya menderita, menyukai sifat intimidatif ke makhluk lain, dan lain sebagainya.

Contoh perkembangan dari karakter ini yang paling ekstrim ialah menghilangkan nyawa manusia. Karena pada dasarnya sifat ini disaat kambuh atau terekspresi tanpa didasari sifat penyesalan maupun diperlukannya hipotesa yang kuat untuk memperkuat argumentasi alasan dirinya untuk berbuat sadis hingga membunuh.
Perilaku sadis secara alamiah dimiliki manusia namun prosentase yang hadir disetiap karakter berbeda-beda. Khusus dalam seorang psikopatis prosentase sifat sadistis hadir dalam angka yang tinggi.
Tak ayal, perilaku dasar ini seringkali bersifat berlawanan dengan norma-norma sosial maupun norma hukum.

Pyromaniac

Perilaku pyromania adalah sifat impulsif pada seseorang atau karakter yang menyenangi segala sesuatu dalam kondisi terbakar. Sifat ini dipicu dari perilaku yang menyenangi memulai sebuah nyala api.
Perilaku ini pun dilatar belakangi dengan perihalnya timbulnya euphoria disaat timbulnya nyala api.

Terpicu dari sulitnya control impulse dari dalam diri karakter tersebut, pyromaniac merupakan indikasi lanjutan dari impulse control disorder.

Dari banyak penderita gejala ini, mengakui mendapatkan ketenangan dari aktifitas membakar sesuatu, atau menyalakan api.

Namun demikian, gejala kelainan ini merupakan gejala yang sangat langka. Setidaknya kurang dari 1% dari total semua pengaduan gejala kelainan jiwa di dunia merupakan keluhan pyromania.

Inkontinensia Urine

Maksud dari gejala ini adalah kurangnya kemampuan untuk mengontrol suatu hasrat dorongan. Asumsi umum para ahli menyimpulkan gejala ini hadir ditandai dengan adanya inkontinensia urine (tidak mampu mengontrol impuls buang air kecil hingga mengompol) berlebihan pada di masa pertumbuhan psikopatis.

Lemahnya pengendalian ini mampu memicu lemahnya kontrol impulsif lainnya. Walau belum ada penelitian lebih lanjut mengenai kepastian korelasi medis dengan gejala psikopatis, namun hal tersebut menyimpulkan lemahnya kemampuan kontrol impulsif ini adalah signifikasi awal dari gejala less impulsive control  lainnya.

Gejala Khusus Lainnya

Selain itu gejala lainnya secara khusus diantaranya:

  1. Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
  2. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
  3. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
  4. Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
  5. Sikap antisosial di usia dewasa.
  6. Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
  7. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
  8. Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
  9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
  10. Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
  11. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.

Proses Diagnosa

Dr. Kusumawardhani menjelaskan, untuk mendapatkan kesimpulan apakah seseorang memiliki kecenderungan psikopat atau memiliki kecenderungan anti social personality, diperlukan beberapa tahapan observasi dan prosedur tes.

Seperti halnya diperlukan adanya tes wawancara kepada pengidap secara berkala. Tes tersebut pun merupakan sebuah instrumen modul questioner yang memiliki standar dalam kalangan akademis kedokteran kelainan jiwa. Instrumen ini tersebut disebut juga MMPI atau Minnesota Multiphasic Personality inventory.

Adapun observasi dilakukan secara berkala minimal 3 bulan. Disimpulkan, 3 bulan merupakan batas waktu maksimal rata-rata manusia mampu waktu untuk bermanipulasi, berpura-pura atau berbohong.

Selain itu, diperlukan juga penelusuran dinamik, pengamatan ini dimaksud mencari latar belakang perkembangan masa kecil sang psikopatis. Apakah gejala psikopatis ini disebabkan dari trauma masa kecil atau pun dari kesalahan sistim pengasuhan, dalam proses ini semua perkembangannya menentukan hasil akhir proses penelusuran dinamik ini.

Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.

Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan.

Secara khusus, anti social disorder memiliki 20 ciri-ciri umum. Namun ciri-ciri ini diharapkan tidak membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-pengamatan lainnya. Mengecap seseorang dengan psikopat dengan sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu menjadi jelek.

Lima tahap mendiagnosis psikopat:

  1. Mencocokan kepribadian pasien dengan 20 kriteria yang telah melewati proses standarisasi. Pencocokkan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang-orang terdekat pasien, pengaduan korban, atau pengamatan prilaku pasien dari waktu ke waktu.
  2. Memeriksa kesehatan otak dan tubuh lewan pemindaian menggunakan elektroensefalogram, MRI, dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian gambar hasil PET (positron emission tomography) perbandingan orang normal, pembunuh spontan, dan pembunuh terencana berdarah dingin menunjukkan perbedaan aktivitas otak di bagian prefrontal cortex yang rendah. Bagian otak lobus frontal dipercaya sebagai bagian yang membentuk kepribadian.
  3. Wawancara menggunakan metode DSM IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV) yang dianggap berhasil untuk menentukan kepribadian antisosial.
  4. Memperhatikan gejala kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 15 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan.
  5. Melakukan psikotes. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.

Walau demikian, psikopatis merupakan gejala yang langka. Sistim pengasuhan yang baik serta konsisten kepada anak merupakan penanganan dini yang terbaik untuk menghindari potensi kelainan gejala anti social disorder atau psikopatis. (DA)

0 Komentar

Belum ada komentar