Sukses

Awas Penyakit Paru Obstruktif Kronik

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, pada tahun 2030 Penyakit Paru Obstruktif Kronik akan jadi penyebab kematian ketiga di dunia.

Klikdokter.com - Masyarakat diimbau agar menghindari beberapa faktor risiko penyebab penyakit paru obstruktif kronik. Karena seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup, kebiasaan merokok dan polusi udara diperkirakan kasus penyakit ini meningkat di Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Kamis (5/3), di Jakarta, PPOK merupakan salah satu penyakit tidak menular yang jadi prioritas program Departemen Kesehatan.

Selain PPOK, pihaknya memfokuskan pada pencegahan dan penanggulangan beberapa penyakit tidak menular lainnya dengan angka kesakitan dan kematian tinggi di Indonesia yaitu kanker, penyakit jantung, diabetes, dan stroke.        

Prof Wiwien Heru Wiyono, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar tetap bidang Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, akhir pekan lalu, menjelaskan, PPOK ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran pernapasan yang tidak sepenuhnya reversibel, selalu progresif . Hal ini disertai respons inflamasi paru abnormal terhadap partikel atau gas berbahaya.

Gejala PPOK antara lain, batuk kronik, produksi dahak, sesak napas dan hambatan aktivitas pada individu. Beberapa faktor risiko penyakit ini adalah, genetik atau keturunan, pajanan terhadap bahan berbahaya seperti asap rokok, debu, bahan kimia di lingkungan kerja, polusi udara serta infeksi.

PPOK adalah penyakit yang progresif, faal paru pasien diperkirakan akan memburuk dari waktu ke waktu meskipun dengan pengobatan yang maksimal. Gejala klinis dan pengukuran hambatan aliran udara dengan pemeriksaan spirometri harus dilakukan untuk menilai beratnya penyakit, evaluasi pengobatan dan evaluasi perjalanan penyakit tersebut, kata Wiwien.

Penyakit itu berhubungan dengan efek sistemik seperti inflamasi atau peradangan sistemik, abnormaliti nutrisi, berat badan menurun dan disfungsi otot rangka. Inflamasi sistemik berhubungan dengan terdapatnya stres oksidatif sistemik, konsentrasi abnormal sitokin sirkulasi dan aktivasi sel-sel inflamasi sistemik. Efek sistemik berkontribusi penting terhadap timbulnya gejala dan hambatan aktivitas pasien PPOK yang pada akhirnya mempengaruhi beratnya penyakit, progresivitas penyakit dan kualitas hidup.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, pada tahun 2030 PPOK akan jadi penyebab kematian ketiga di dunia. Meningkatnya prevalensi penyakit itu terkait bertambahnya usia harapan hidup penduduk, pergeseran pola penyakit infeksi yang menurun sedangkan penyakit degeneratif bertambah, meningkatnya kebiasaan merokok, dan polusi udara.

"Merokok merupakan faktor risiko terbesar PPOK, menimbulkan beban ekonomi yang besar pada masyarakat," ujar nya.

Menurut Wiwien, PPOK memberikan dampak ekonomi cukup besar di kalangan masyarakat. Total biaya ekonomi untuk PPOK di negara maju seperti Amerika Serikat pada tahun 1993 diperkirakan 23,9 miliar dollar AS dan meningkat menjadi 38,8 miliar dollar AS tahun 2005.

Di Inggris, total biaya ekonomi untuk PPOK dalam satu tahun diperkirakan 714 juta euro pada tahun 2003. Rata-rata biaya yang dikeluarkan pasien per tahun 4.119 dollar AS di Amerika Serikat, 3.196 dollar di Spanyol, 606 dollar AS di Belanda dan 522 dollar AS di Perancis.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman website kami.[](PDPI)

Baca juga:

Sumber : klikpdpi.com

 

0 Komentar

Belum ada komentar