Sukses

Anak Juga Bisa Kena Keputihan

Ternyata keputihan bukan monopoli wanita dewasa saja. Bahkan bayi bisa mengalaminya. Keputihan, kata dr. Hilda Adelina bisa terjadi pada siapa saja. Termasuk pada balita, bahkan bayi

Sumber : kiatsehat.com

Ternyata keputihan bukan monopoli wanita dewasa saja. Bahkan bayi bisa mengalaminya. Keputihan, kata dr. Hilda Adelina bisa terjadi pada siapa saja. Termasuk pada balita, bahkan bayi. Keputihan, menurutnya adalah semua cairan yang keluar dari vagina selain darah. Dalam bahasa kedokteran, gejala ini disebut fluor albus, leukorrhea, vaginal discharge, atau awam sering menyebutnya pektai. Keputihan dibedakan menjadi dua, yaitu keputihan fisiologi atau normal dan patologis atau penyakit. "Jadi, tidak semua keputihan adalah penyakit. Pada anak pun, keputihan normal juga bisa terjadi," ujarnya saat hadir sebagai narasumber Talkshow “Deteksi Dini Kanker” di Radio Antariksa beberapa waktu lalu.

Ada dua hal yang menjadi faktor pendorong keputihan, yaitu faktor endogen dari dalam tubuh dan faktor eksogen dari luar tubuh yang keduanya saling mempengaruhi. Pada bayi atau anak, yang menjadi penyebab keputihan adalah kelainan pada lubang kemaluan. Inilah yang disebut sebagai faktor endogen. Faktor ini disebabkan oleh belum terbentuknya kulit anak, terutama pada bayi dengan sempurna. Permukaan kulit sebagai pintu masuk mikroorganisme yang masih sangat tipis dan rentan, serta mudah mengalami peradangan. Letak lubang kemaluan pada bayi dan anak masih sangat dekat dengan anus, sehingga mudah terkontaminasi oleh bakteri dari anus maupun iritasi akibat feses (kotoran), dll.

Sementara keputihan yang disebabkan faktor eksogen dibedakan menjadi 2, yaitu yang disebabkan oleh infeksi dan noninfeksi. Berikut hal-hal yang bisa menjadi penyebab Infeksi : bakteri (Haemophilus influenzae, Shigella eischeria coli, Chlamydia trachomatis, dan sebagainya), jamur (candida), parasit (Trichomonas vaginalis, Oxyuris enterobius vermicularis), cacing kremi. Noninfeksi: Masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak.

Pada bayi, hal ini biasanya terjadi bila kapas atau tisu yang dipakai untuk membersihkan kotoran ada yang tertinggal. Sementara pada anak, benda asing yang masuk biasanya pasir karena anak-anak suka duduk dan bermain di atasnya, manik-manik, biji-bijian, atau bubuk krayon. Akibatnya terjadi peradangan pada vulva (lubang luar vagina) atau pada liang vagina yang kemudian menimbulkan keputihan. Cebok yang tidak bersih, akan menyebabkan sisa kotoran yang tertinggal bisa dibersihkan secara seksama.

Namun setelah agak besar, biasanya anak sudah malu dan orang tua pun menganggapnya bisa cebok sendiri. Padahal, mungkin ceboknya tidak bersih benar. "Akibatnya terjadi infeksi yang menyebabkan keputihan," ujar salah satu dokter Tim Bidadari dari Pusat Deteksi Dini Kanker Prof. Roem Soedoko& dr. Etty Ananto ini.  Duduk dan jongkok sembarangan di tanah atau di lantai juga jadi penyebabnya. Hal ini disebabkan karena vaginanya belum menutup sempurna, maka mudah saja jamur, bakteri, dan benda asing masuk ke daerah itu. Akibatnya bibit penyakit di tangan pindah ke vagina dan menyebabkan keputihan.

Sebelum telanjur terjadi keputihan pada anak, ada baiknya mencegah dengan senantiasa menjaga kebersihan seputar kemaluan. Kalau pada bayi dan anak, tentunya masih tergantung pada orang tuanya. Cebok diguyur dari depan ke belakang. Lebih bagus bila menggunakan shower/selang pancuran. Setelah cebok, keringkan daerah seputar kemaluan. Sediakan handuk kecil khusus untuk itu. Saat berenang, hindari pakaian renang yang kesempitan. Kenakan pakaian yang tidak kelewat ketat. Ganti celana dalam anak minimal 2-3 kali sehari, supaya celana selalu dalam keadaan kering.

1 Komentar