Sukses

Tips Obesitas pada Anak

Obesitas telah mencapai status epidemi global dengan setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat overweight atau obesitas. Jumlah anak yang mengalami obesitas bertambah 2 kali lupat pada anak dan tiga kali lipat pada remaja pada 30 tahun terakhir...

Oleh: dr. Puti Naindra Alevia

KlikDokter.com - Obesitas telah mencapai status epidemi global dengan setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat overweight atau obesitas. Jumlah anak yang mengalami obesitas bertambah 2 kali lupat pada anak dan tiga kali lipat pada remaja pada 30 tahun terakhir.

Obesitas atau overweight?
Bila Anda melihat seorang anak dengan berat badan yang berlebih, kapankah anak tersebut dapat dibilang mengalami obesitas? Obesitas dan overweight adalah dua istilah yang sering digunakan untuk menyatakan adanya kelebihan berat badan, namun sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda. Overweight adalah kelebihan berat badan (dibandingkan berat badan ideal) yang disebabkan oleh penimbunan jaringan lemak atau non lemak (otot). Sedangkan obesitas adalah suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemas tubuh secara berlebihan. Kata ‘obesitas’ itu sendiri berasal dari bahasa latin yang artinya ‘makan berlebihan’.

Perilaku Makan

  • Peran faktor nutrisional ini dimulai sejak anak masih di dalam kandungan. Jumlah lemak tubuh dan pertumbuhan bayi sangat dipengaruhi oleh berat badan maternal dan kenaikan berat badan ibu hamil.
  • Setelah itu perilaku makan mulai terkondisi dan terlatih sejak bulan-bulan pertama kehidupan. Contohnya adalah pemberian susu botol yang cenderung diberikan dalam jumlah berlebihan sehingga risiko obesitas lebih besar daripada ASI saja. Akibatnya anak terbiasa untuk mengkonsumsi makanan melebihi kebutuhan dan berlanjut ke masa pra-sekolah, masa usia sekolah, sampai masa remaja. Kenaikan berat badan juga dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya lama makan.
  • Pengaruh diet terutama tinggi kalori (karbohidrat dan lemak). Anak usia sekolah memiliki kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji (junk food dan fast food) yang umumnya mengandung energi tinggi karena 40 – 50% berasal dari lemak. Kebiasaan lain adalah mengkonsumsi makanan camilan yang mengandung banyak gula.

Aktivitas
Pada anak obesitas, aktivitas sehari-hari maupun hobi sering berhubungan dengan makan, misalnya pada saat pergi ke pusat perbelanjaan makan es krim dan fast food, berenang sambil makan kentang goring di pinggir kolam, dll. Anak-anak sekarang juga memiliki penurunan aktivitas fisik, cenderung lebih banyak di dalam rumah untuk menonton TV, bermain games computer, dll.

Bagaimana tatalaksana anak obesitas?
Prinsip tatalaksana obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi. Caranya adalah dengan pengaturan diet, peningkatan aktivitas fisik, mengubah pola hidup (modifikasi perilaku), dan keterlibatan keluarga dalam proses terapi.

Pengaturan Diet
Langkah awal adalah untuk menumbuhkan motivasi anak untuk ingin menurunkan berat badan setelah anak mengetahui berat badan ideal yang disesuaikan dengan umur dan tinggi badannya. Kemudian membuat kesepakatan bersama berapa target penurunan berat badan yang dikehendaki.

Pengaturan diet kalori sesuai kebutuhan normal, pengurangan kalori 200 – 500 kalori per hari dengan target penurunan berat badan 0,5 kg per minggu. Penurunan berat badan ditargetkan sampai mencapai kira-kira 10% di atas berat badan ideal atau cukup dipertahankan agar tidak bertambah, karena pertumbuhan linier masih berlangsung. Diet tinggi serat.

Prinsip pengaturan diet:

  • Mempertahankan berat badan dan pertumbuhan normal
  • Masukan makanan dengan kandungan karbohidrat rendah (48% energi total)
  • Menurunkan masukan lemak (<30% energi total) dengan lemak tak jenuh (10% energi total), kolesterol tidak lebih dari 300 mg per hari
  • Meningkatkan makanan tinggi serat
  • Makanan dengan mengandung kandungan garam cukup (5 g per hari)
  • Meningkatkan masukan besi, kalsium, dan fluor

Pengaturan aktivitas fisik
Dengan melakukan latihan dan meningkatkan aktivitas harian. Latihan fisik disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Anak usia sekolah dasar dapat memulai dengan ketrampilan otot seperti bersepeda, berenang, menari, karate, sepakbola, basket. Mulai usia 10 tahun olahraga dalam bentuk kelompok. Aktivitas sehari-hari dioptimalkan seperti berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah, mengurangi lama menonton televisi atau bermain games komputer, menganjurkan bermain di luar rumah setidaknya 20 – 30 menit sehari.

Modifikasi perilaku

  • Pengawasan sendiri terhadap berat badan, masukan makanan, aktivitas fisik, serta mencatat perkembangannya
  • Kontrol terhadap rangsangan dan stimulus misalnya saat menonton TV tidak sambil makan
  • Mengubah perilaku makan, misalnya pasien yang makannya cepat dianjurkan untuk lebih lambat, belajar mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi, mengurangi makanan camilan
  • Penghargaan dan hukuman, yaitu orangtua dianjurkan untuk memberikan dorongan, pujian terhadap keberhasilan atau perilaku sehat yang diperlihatkan oleh anaknya.
  • Pengendalian diri, misalnya dapat mengatasi masalah bila menghadapi rencana bepergian atau pertemuan sosial yang memberikan risiko untuk makan terlalu banyak, yaitu dengan memiliki makanan yang berkalori rendah atau mengimbanginya dengan melakukan latihan tambahan untuk membakar energi.

Peran orang sekitar
Orangtua menyediakan nutrisi yang seimbang, rendah lemak, dan sesuai dengan petunjuk ahli gizi. Anggota keluarga ikut berpartisipasi dalam program diet, mengubah perilaku makan dan aktivitas yang mendukung keberhasilan anak. Guru dan teman sekolah juga diharapkan ikut mendukung misalnya dengan memberikan pujian bila anak berhasil mengikuti program diet dan menurunkan berat badannya.

Terapi intensif
Diterapkan pada obesitas anak dan remaja yang disertai penyakit penyerta dan tidak memberikan respon terhadap terapi konvensional yaitu dengan diet berkalori sangat rendah, pemberian obat, dan terapi bedah:

  • Diet berkalori sangat rendah: bila berat badan > 140% BB ideal (superobesitas)
  • Pemberian obat: penekan nafsu makan (misalnya sibrutamin), penghambat absorbsi zat-zat gizi (misalnya orlistat), dan kelompok lain-lain (misalnya leptin, octeotride, dan metformin). Pemberian obat-obat ini diizinkan untuk anak di atas 12 tahun.
  • Terapi bedah: prinsipnya adalah mengurangi asupan makanan (restriksi) atau memperlambat pengosongan lambung (gastric banding dan vertical-banded gastroplasty). Bedah ini dapat dipertimbangkan jika remaja mengalami kegagalan menurunkan berat badan setelah menjalani program terencana > 6 bulan serta memenuhi persyaratan antropometris, medis, dan psikologis.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman utama website kami.[](PNA)

Sumber: Sjarif DR. Obesitas pada anak dan remaja. Dalam: Buku ajar nutrisi pediatrik dan penyakit metabolik. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011.

    0 Komentar

    Belum ada komentar