Sukses

Layanan Medis Berkualitas

ASEAN Free Trade Area 2010 semakin didepan mata, pada bidang layanan kesehatan, Indonesia justru lebih siap sebagai konsumen dari rumah sakit-rumah sakit yang lebih berkualitas milik negara-negara

Sebuah Penantian Harapan Masyarakat

Oleh: Dimas Aninditya

Sebagai mini barometer, Klikdokter.com dalam penyelenggaraan polling pada fitur Opini Anda edisi 18 Mei 2009 menyoal “Kesiapan Para Tenaga Kesehatan Indonesia Menyambut Persaingan AFTA 2010”, berdasarkan kolektif hasil per tanggal 5 Juni 2009, ditemukan sejumlah 66,67% responden mengutarakan pendapat para pelaku kesehatan Indonesia masih belum memiliki kapabilitas untuk bersaing dengan kompetitor asing kelak. Sementara sisa 33.33% mengutarakan keyakinan bahwasanya Indonesia sudah memiliki kemampuan dan kualitas untuk bersaing di  masa depan dalam urusan pelayanan kesehatan.

Persepsi Publik
Suara mayoritas dari hasil polling tersebut bukan tidak berarti merupakan refleksi mini dari sebuah bentuk persepsi publik. Sebagaimana kita ketahui, persepsi publik mengambil suatu peran yang sangat penting dalam pembentukan suatu karakter, baik itu bersifat individuil, institusi, maupun suatu golongan.

Sedihnya, belum sempat kita berbenah dalam membentuk suatu persepsi kuat akan mapannya kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia, baru-baru ini kembali mengemuka sebuah kasus dugaan malapraktik yang dilakukan sebuah rumah sakit swasta di kawasan Serpong, Tangerang pada seorang pasiennya pada beberapa tahun lalu.

Klimaksnya, persepsi publik kian terbentuk menjadi sikap pesimistis kepada pelayanan kesehatan Indonesia ketika publik mengetahui nasib sang pasien berada di tahanan polisi atas dakwaan pencemaran nama baik rumah sakit terkait.

Secara tidak langsung, berkat geliat pemberitaan media massa, institusi rumah sakit tersebut terancam mengalami kematian karakter akibat semakin solidnya bentuk sebuah persepsi publik kepada rumah sakit tersebut.

Padahal, dalam proses kegiatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, para pelaku kesehatan sedang mengimplementasikan sebuah sumpah luhur yang merupakan pengejewantahan dari pengabdian ilmu kedokteran kepada masyarakat. Pun, sebagaimana kita ketahui bersama, prosesi pengambilan sumpah nan luhur tersebut harus melalui proses yang tidak mudah, (ulangi) sangat-tidak-mudah. Jangankan pengorbanan, jiwa dan raga seorang yang menjalani profesi dokter, dituntut untuk mengamalkan ilmunya secara konsisten kepada masyarakat hingga hayat tak lagi dikandung badan.

Pertanyaan pun mengemuka, bagaimana dengan nasib pelayanan kesehatan yang sedang mati-matian meningkatkan kualitas pelayanan menyongsong program pemerintah semacam Jaminan Kesehatan Nasional yang baru saja diluncurkan?

Ancaman Sekaligus Peluang
Penting untuk diketahui bersama, jika kita kehilangan kesempatan bersaing dalam pelayanan kesehatan di masa depan, jangan heran jika angka pasien tetap rumah sakit negara tetangga berwarganegara Indonesia melonjak tinggi. Terlebih mengkhawatirkan lagi, perkembangan keilmuan medis di Indonesia juga akan terancam terhambat.

Belum lagi dari segi ekonomi, bukan tidak mungkin, jika Indonesia memiliki kapabilitas menarik animo pasien luar negeri dengan kualitas pelayanan kesehatan yang sangat layak diatas standar internasional, maka kita bisa membayar lunas utang luar negeri yang bernominal luar biasa –hingga disebut-sebut begitu seorang anak lahir di negeri ini, ia sudah ikut menganggung beban hutang negara hingga Rp. 7,7 juta-  dengan kontribusi pemasukkan devisa dari kunjungan para pasien luar negeri tersebut.

Peningkatan Kualitas Multi-Dimensi
Jelas, jika kita menaruh harapan besar dari kemenangan kompetitisi denga cara yang sehat, maka diperlukan segera pembenahan karakter pelayanan medis Indonesia. Pun, jika kita ingin bahu membahu membangun ulang sebuah persepsi publik yang positif mengenai kualitas medis Indonesia, mulailah dengan meraih kepercayaanpublik.

Tak perlu jauh bicara menyoal perlunya meningkatkan kemampuan komunikasi dokter dengan pasien atau bahkan penggalakan program riset studi kasus terhadap penyakit di Indonesia yang kian variatif dewasa ini. Pembenahan secara sains akan sangat mudah dilakukan jika diawali pembenahan moral dari segenap pelaku kesehatan. Karena jika sebuah perbuatan yang diawali dengan niat mulia dan tulus, maka akan berakhir dengan kebaikan dan keberkahan pula. Setidaknya, kurang lebih demikianlah 'reaksi kimia'  yang telah Tuhan komposisikan secara empiris.

Tinjaulah dari segi kuantitas penduduk, dengan 230 juta jiwa, bukankah semakin besar potensi varian riset studi kasus penyakit yang ada? Bukankah seorang pelaku kesehatan sejati akan semakin tinggi ilmunya ketika ia semakin sering berpengalaman mengatasi beraneka kasus kesehatan?

Tengoklah lembaga pendidikan kedokteran masa kini, bukankah sudah semakin banyak generasi penerus bangsa yang memilih jalan hidup berprofesi dokter dibandingkan tahun-tahun sebelumnya? Artinya, Indonesia semakin banyak memiliki generasi penerus yang berpola pikir cemerlang, karena sudah rahasia umum, untuk mengawali sebuah pendidikan akademis kedokteran, persyaratan tingginya angka kecerdasan IQ minimal diatas 130.

Indonesia sudah memiliki berlian. Tinggal bagaimana usaha kita mengasah berlian tersebut menarik dan menjadi primadona masyarakat. Tentunya, kehadiran sebuah pelayanan medis yang berkualitas sudah sangat dinantikan dan dirindukan oleh masyarakat.[](DA)

 

    0 Komentar

    Belum ada komentar