Sukses

Mitos vs Fakta Menstruasi

Mitos tentang menstruasi sudah mengakar dari dahulu. Proses perdarahan yang terjadi secara regular alamiah pada setiap perempuan ini, acapkali membuat kaum perempuan diperlakukan berbeda karena dianggap

Mitos tentang menstruasi sudah mengakar dari dahulu. Proses perdarahan yang terjadi secara regular alamiah pada setiap perempuan ini, acapkali membuat kaum perempuan diperlakukan berbeda karena dianggap tidak bersih atau bahkan disudutkan oleh prasangka tak logis.

Sekalipun kaum hawa saat ini sebagian besar sudah mengetahui lebih banyak tentang serba serbi menstruasi, masih saja proses menstruasi acapkali menghambat para perempuan untuk beraktivitas. Terjebak dalam situasi menahan derita nyeri, masih saja ada cerita saran yang menyesatkan yang disampaikan kepada kaum perempuan hingga meninggalkan jejak kebingungan tak berujung.

Jangan Keramas Saat Menstruasi
Darimana landasan larangan ini. Tetapi sama sekali tidak benar bahwa seorang perempuan tidak boleh keramas saat menstruasi. Keramas merupakan aktivitas untuk menjaga kebersihan diri yang dilakukan secara berkala, dimana dalam hal ini pun memiliki sisi kesehatan yang utama. Jadi, silakan keramas sesuai jadwal yang ada.

Menstruasi dan Minuman Bersoda
Terdapat beberapa mitos yang mengatakan dengan mengonsumsi minuman bersoda, maka akan mempercepat durasi menstruasi dan bahkan ada mitos yang mengemukakan minuman bersoda memberikan pengaruh pada kadar sakit atau nyeri seseorangketika haid.

Tidak ada penelitian yang membuktikn bahwa minuman bersoda dapat mempercepat durasi menstruasi. Bahkan, kandungan dalam minuman bersoda yang berlebihan dapat menimbulkan luka pada usus, beresiko pada berat badan dan gangguan menstruasi itu sendiri. Apalagi, kondisi tersebut kian diperparah jika tidak diimbangi dengan asupan makan yang teratur.

Pun kadar nyeri yang ditimbulkan pada saat haid disebabkan oleh hormon dan juga pengaruh faktor psikis. Bukan karena minuman bersoda.

Disamping itu, minuman soda berkarbonat (soft drink) ternyata juga memiliki kandungan kafein dan  pemanis buatan (aspartame). Kadar kafein yang terkandung memang tidak sebanyak kopi. Penelitian mengenai efek soda yang diminum saat menstruasi memang belum banyak ditemukan.

Namun, dari beberapa yang ada terdapat penelitian epidemiologi yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology pada tahun 1999 mengenai konsumsi kafein dan fungsi menstruasi.  Konsumsi kafein dihubungkan dengan penurunan risiko terjadinya waktu menstruasi yang panjang (lama mens menjadi memendek), dan konsumsi kafein yang berat seringkali dihubungkan dengan peningkatan risiko terjadinya siklus  menstruasi yang pendek.

Kafein dapat menyebabkan konstriksi pembuluh darah uterus (rahim) sehingga terjadi penurunan aliran darah uterus ,yang mana dapat mengurangi perdarahan menstruasi dan memperpendek durasi mens. Selain itu, didapatkan juga bahwa mereka yang mengonsumsi kafein dalam jumlah banyak menjadi dua kali lebih mungkin untuk mengalami siklus menstruasi yang lebih pendek dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi. Efek vasokonstriktor dari kafein ini pun yang kemudian menyebabkan nyeri saat menstruasi terasa lebih berat. Sehingga sebaiknya pada saat menstruasi, wanita mengurangi atau tidak mengonsumsi minuman yang mengandung kafein.

Menstruasi yang Jarang = Tidak Subur
Pendapat ini sama sekali tidak benar. Karena secara medis sel telur tetap dilepaskan oleh indung telus sekalipun siklus menstruasi seorang perempuan tidak beraturan. Jadi sebenarnya tetap subur

Keputihan dan Menstruasi
Keadaan keputihan sering hadir bersamaan dengan kondisi keputihan. Namun, pada dasarnya kondisi keputihan terjadi oleh 2 kategori.  Keputihan dapat timbul dari berbagai keadaan, yaitu secara fisiologis/normal dan secara patologis.

Kondisi yang dimaksud dengan keputihan fisiologis adalah keputihan yang normal terjadi akibat perubahan hormonal, seperti menjelang atau setelah menstruasi, stres, kehamilan, dan pemakaian kontrasepsi.

Sementara keadaan keputihan patologis adalah keputihan yang timbul akibat kondisi medis tertentu dengan penyebab tersering adalah akibat infeksi parasit/jamur/bakteri.

Dengan demikian jelas, bahwa keluarnya cairan vagina setelah periode menstruasi merupakan hal yang wajar ditemukan. Selama cairan tersebut tampak bening (tidak berwarna), tidak berbau, tidak banyak, dan tidak menimbulkan keluhan seperti rasa gatal atau terbakar pada kemaluan, maka Anda tidak perlu merasa khawatir.

Satu hal penting yang perlu diingat untuk dilakukan adalah dengan lebih menjaga kebersihan dan kekeringan daerah kemaluan istri Anda dengan sering mengganti celana dalam apabila berkeringat atau lembab.

Hindari penggunaan celana ketat yang terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat. Apabila ingin menggunakan panty liner pilihlah yang tidak mengandung pengharum dan tidak digunakan selama lebih dari 4-6 jam.

Hindari pula penggunaan produk pembersih kemaluan yang dapat menyebabkan perubahan keasaman dan keseimbangan bakteri dalam liang kemaluan Anda. Dan apabila hendak membilas setelah buang air kecil, lakukanlah dengan arah dari depan ke belakang menggunakan handuk.

Apabila cairan yang keluar tampak berwarna, berbau, bahkan mulai menimbulkan keluhan yang mengganggu seperti gatal dan rasa terbakar pada kemaluan, segera periksakan kondisi Anda ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Bagaimanapun, evaluasi sebaiknya tetap dilakukan untuk menyingkirkan infeksi sebagai penyebab keluarnya cairan dari vagina tersebut. Cairan tersebut akan diambil untuk diperiksa menggunakan mikroskop. Apabila benar ditemukan adanya infeksi, dokter akan memberikan terapi antikuman yang disesuaikan dengan kuman penyebabnya.

Menstruasi dan Minuman Beralkohol
Untuk satu hal ini, tidak sedikit wanita yang memanfaatkan miras sebagai ‘pain killer’ dikala merasakan nyeri yang amat sangat. Hal ini sangat salah. Meminum alkohol justru akan memperpanjang nyeri pada saat menstruasi. Kondisi nyeri pada saat haid dikenal juga sebagai istilah dysmenorrhea (baca: disménoré-Red).

Selain itu, berdasarkan publikasi yang dimuat di The National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism pada tahun 2000, mengatakan bahwa efek alkohol terutama pada peminum yang berat, memiliki kontribusi terhadap kelainan reproduksi. Seperti, berhenti mens, siklus mens tidak teratur, dan siklus menstruasi tanpa ovulasi, menopause dini, dan peningkatan risiko aborsi spontan.

Kelainan tersebut dapat disebabkan oleh pengaruh alkohol terhadap pengaturan hormon dari sistem reproduksi atau secara tidak langsung melalui kelainan lain yang berhubungan dengan kelainan yang berhubungan dengan alkohol seperti penyakit hati, pancreas, malnutrisi, atau kelainan pada janin.  Meskipun efek ini ditemukan pada peminum berat, ternyata social drinker yang minum sekitar tiga kali per hari selama 3 minggu penelitian juga mengalami siklus menstruasi yangabnormal dan ovulasi yang kurang ataupun terhambat. [](RIPI/PNA/DA)

    0 Komentar

    Belum ada komentar