Sukses

Indonesia Merdeka dari Penyakit?

Enampuluhdelapan tahun sudah sebuah bangsa merdeka. Hidup merdeka bebas dari penindasan bangsa asing. Hidup merdeka sejahtera dari ancaman dekadensi kedaulatan. Hidup merdeka bebas dari segala bentuk ancaman kearah dekadensi moral. Hidup merdeka bebas dari segala ancaman kesakitan dari penyakit yang mewabah. Merdeka?

Cerita Negeri Penuh Wabah

Enampuluhdelapan tahun sudah sebuah bangsa merdeka. Hidup merdeka bebas dari penindasan bangsa asing. Hidup merdeka sejahtera dari ancaman dekadensi kedaulatan. Hidup merdeka bebas dari segala bentuk ancaman kearah dekadensi moral. Hidup merdeka bebas dari segala ancaman kesakitan dari penyakit yang mewabah. Merdeka?

Negara Republik Indonesia, dengan populasi sebesar 259 juta jiwa pada tahun 2012 tengah merayakan 68 tahun hidup merdeka dari penindasan hak kebebasan dari bangsa asing namun ironis tertindas oleh kekejaman virus dan bakteri yang mewabah serta merta menjauhkan impian rakyat Indonesia dari hidup sejahtera sentosa bebas dari ancaman penyakit.

Tercatat sedikitnya 8.019 orang dari Februari 2006 sampai 31 Januari 2007 telah menjadi korban keganasan Demam Berdarah Dengue (DBD). 144 diantaranya terdata meninggal dunia. Meninggalkan fakta rasio tingkat kematian mencapai 1,8%. Meningkat 0,8% dari tahun lalu. Langkah negara menyatakan DBD sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) hanya mampu menurunkan jumlah penderita dari 18.929 hingga 8.019 penderita, sementara tingkat kematiannya melonjak. Jika pada tahun lalu negara telah kehilangan 192 jiwa dari total 18.929 korban, hingga pada awal tahun 2007 jumlah penderita menurun hingga 8.019 namun dengan jumlah korban meninggal dunia 144 korban jiwa. Lebih nyaris lagi, DBD bukanlah wabah yang pertama.

Wabah lain yang mencemaskan adalah muntaber, juga merupakan penyakit yang termasuk dalam kategori KLB oleh pemerintah. Muntaber menyerang ke berbagai daerah hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Amukan bakteri Escheria Coli (E. Coli) pathogen sebagai penyebab utama wabah muntaber ini mengikuti perubahan musim dan arah angin yang melanda endemi.

Tak lama berselang, kerabat jauh muntaber, Kaki Gajah ikut mewabah di Indonesia. Wabah yang dalam istilah medis dikenal Filariasis ini telah menelan korban 10 juta penduduk yang terinfeksi. Angka penderita kronis sebesar 6500 orang, terutama mereka yang bermukim di desa-desa. Serbuan wabah ini dipicu oleh cacing yang menggunakan nyamuk sebagai perantara. Walau World Health Organisation (WHO) telah menargetkan hingga tahun 2020 untuk memusnahkan penyakit ini. Hanya di Indonesia hingga saat ini kaki gajah belum musnah.

Selagi pemerintah beserta instansi terkait mencoba mengatasi berbagai masalah penyakit yang mewabah, bertambah lagi jumlah macam wabah yang merebak. Setidaknya negara mengalami kerugian 700 miliar rupiah dari dampak penyebaran virus flu burung. Pemerintah terjebak di dalam situasi terjepit, diantara harus mengatasi pasar yang sedang lemah atau mengurangi komoditi pasar peternakan untuk pencegahan penyebaran virus H5N1 tersebut. Flu burung adalah berita buruk bagi industri peternakan yang mempunyai rute perdagangan hingga ke luar negeri. Terdata tepatnya Indonesia telah merugi 7,7 triliun pada tahun 2004 akibat penyebaran virus ini.

Dari aspek korban jiwa, hingga Juli 2008, case fatality rate atau angka kematian akibat penyakit flu burung atau avian influenza di Indonesia meningkat menjadi 81 persen. Dari angka kumulatif kasus flu burung yang mencapai 116 orang, sebanyak 94 orang di antaranya meninggal dunia. Belum kering air mata bumi pertiwi kering menetes, penyakit lainnya menyerang mewabah kembali menambah duka yang mendalam bagi bangsa, AIDS.

HIV/AIDS di Indonesia memasuki tingkat epidemi terkonsentrasi, dengan jumlah penderita yang terus mengalami peningkatan. Penderita secara komulatif penderita AIDS tercatat 11.141 kasus dan HIV 6.066 kasus. Berdasarkan data, jumlah penderita HIV/Aids di Kabupaten Merauke saja, sejak 1992 hingga 2006 mencapai 827 orang, terdiri dari 422 laki-laki dan 359 perempuan, sedang 46 lainnya tidak jelas. Angka ini hanya untuk penderita yang ada di Kabupaten Merauke. Sedang di seluruh Papua, jumlah penderita HIV/Aids tercatat 2.199 orang.

Aids menyerang hampir seluruh semua lapisan masyarakat bangsa Indonesia dan seluruh wilayah Republik Indonesia. Penderita HIV/AIDS yang terbanyak memang perempuan yang menjadi pekerja seks komersial yaitu 132 kasus (15,96%), menyusul kemudian petani 118 kasus (14,26%), nelayan tenaga kerja asing (TKA) 59 kasus (7,13%), buruh 63 kasus (7,61%), ibu rumah tangga 69 kasus (8,34%) siswa/mahasiswa 28 kasus (3,39%), lain-lain 231 kasus (27,93%). Menyusul kemudian pekerja swasta 45 kasus (5,44%), PNS 28 kasus (3,39%), sopir 12 kasus (1,45%), nelayan/ABK 19 kasus (2,29%), TNI/Polri 15 kasus (1,81%), PSK (jalanan) 7 kasus (0,85%) dan mucikari 1 kasus (0,12%).

Para penderita penyakit penurunan kekebalan tubuh itu menurut kelompok umur, ada yang masih di bawah 1 tahun dan 1-4 yaitu tercatat masing-masing 12 kasus, 5-9 tahun 6 kasus, 10-19 tahun 73 kasus, 20-29 tahun 296 kasus, 30-39 tahun 215 kasus, 40-49 tahun 78 kasus, 50-60 tahun terdapat 31 kasus, usia 60 tahun ke atas tercatat 5 kasus dan tidak diketahui 99 kasus.

Penjabaran diatas hanyalah sebagian dari daftar panjang aneka wabah yang menyerang negara ini, belum lagi duka bangsa kehilangan calon penerus bangsa dari ditemuinya tingginya angka kematian balita dari tahun ke tahun yang dipicu dari berbagai macam sebab. Diikuti tingginya juga angka kematian ibu dalam proses kelahiran, semakin mengiris luka duka bangsa semakin dalam.

Jika aneka wabah tersebut tidak ditanggulangi dengan khusus dan serius, tidak menutup kemungkinan kita akan mengalami ‘generation lost’. Dalam  20 tahun kedepan, kita akan kehilangan generasi muda yang berpengaruh besar dalam proses pembangunan bangsa ini.

Sebagian kalangan mengkritik kinerja pemerintah yang dianggap teerlalu lamban dalam bertindak. Dinas kesehatan adalah lembaga pemerintah yang kerap mendapat gugatan. Kiranya persoalan yan gmasih membelenggu pemerintah, khususnya dinas kesehatan adalah analisis sosial atas virus yang berjangkit dan pernah menyerang rakyat. Seperti halnya pemetaan atas sebuah kawasan yang mempunyai potensi  berjangkitnya suatu virus dapat menjadi sarana pencegahan mewabahnya penyakit. Tentunya dengan melibatkan masyarakat secara akitf.

Pentingnya Makna Hidup Sehat

Sedih memang menyaksikan republik ini bertubi-tubi dirundung masalah kesehatan.

Seakan-akan wabah demi wabah silih berganti menyiksa. Meninggalkan penderitaan dalam duka bagi bangsa Indonesia.

Agaknya yang menyulut daftar panjang aneka wabah yang mewarnai maraknya kiprah negara dalam proses berkembang adalah tidak lain kemiskinan. Ditemui, siklus penyebab wabah terus menerus melanda yang melanda kebanyakan kaum menengah kebawah yakni stagnan dalam faktor biaya kesehatan yang mahal, sanitasi lingkungan yang buruk dan gizi makanan yang rendah.

Sungguhlah dimengerti, kebutuhan utama akan pekerjaan sebagai sumber penghasilan finansiil untuk menopang hidup para penduduk negeri yang dilanda krisis dan segala tetek bengek kesulitannya mampu menggeser posisi kebutuhan hidup sehat hingga ke urutan yang paling akhir. Mengakibatkan kesadaran hidup sehat terabaikan hingga baru benar-benar sebuah penyakit hadir mengganggu siklus kehidupan sehari-hari.

Masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan belum mengetahui makna kesehatan; Sejahtera Tanpa Penyakit. Sejahtera disini janganlah dikaitkan dengan kuantitas kepemilikan harta. Kekayaan sebenarnya yang hadir dari dalam hati. Kesadaran hidup sehat belum seutuhnya diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia. Disini sektor pendidikan berperan penting, semakin banyak rakyat yang buta huruf maka secara otomatis semakin banyak juga rakyat yang masih mengalami minimnya pengetahuan kesadaran hidup sehat.

Peranan Penting Masyarakat

Setidaknya aspek pendukung terciptanya makna kesehatan guna dapat menjalani hidup yang sehat terdiri dari berbagai perilaku; tidak merokok, olahraga teratur, dan pola makan yang sehat.

Lingkungan yang sehat terpengaruh dari terjaganya kebersihan fisik tubuh, air bersih yang cukup, faktor sosial dan budaya. Lingkungan hanya menjalankan porsinya sebanyak 15%. Sisa 85% banyak diperankan oleh perilaku sehat yang disebutkan diatas.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Banyak yang mengetahui makna pentingnya hidup sehat bebas dari masalah penyakit. Namun sedikit yang baru sadar akan pentingnya makna tersebut.

Jelas sekali peranan masyarakat dalam membangun lingkungan yang sehat besar sekali. Pemerintah cukup mendukung dengan sarana dan prasarana yang ada. Bahkan, tanpa menunggu dukungan pemerintah pun sesungguhnya untuk membangun lingkungan yang sehat masyarakat mampu melakukannya.

Diperlukan kesadaran pentingnya makna hidup sehat dalam benak segenap rakyat Indonesia. Jika ditelusuri kembali, semua wabah yang menjangkiti berbagai daerah di Indonesia dimulai dari perilaku hidup penduduk yang tidak mendukung kearah kesehatan. Jentik larva nyamuk pembawa penebar ancaman Malaria, demam berdarah serta virus Dengue tidak akan berkembang jika masyarakat mampu menjaga kebersihan lingkungannya masing-masing serta menjaga lingkungan air untuk bersih dan mengalir dengan baik tanpa meninggalkan genangan dalam waktu yang lama.  Kemunculan bakteri E.coli 0517 yang menjadi pemicu mewabahnya muntaber tidak akan berkembang jika masyarakat mampu menjaga dan mengolah sanitasi air limbah rumah tangga dengan sehat dan baik. Virus H5N1 avian influenza dapat dipotong distribusi penularannya jika terdapat penanganan unggas yang terintegrasi dengan baik dan lain sebagainya. Bahkan AIDS sekalipun mampu dicegah jika masyarakat mampu mengimplementasikan gaya hidup yang sehat.

Bicara memang mudah, namun inilah yang dialami bangsa ini. Rakyat tidak membutuhkan pasukan dokter dan insan medis yang memberikan obat-obatan impor maupun yang generik dengan notabena tingkat kemanjuran tinggi, tetapi juga kesadaran masyarakat akan perubahan lingkungan sekelilingnya.

Kesadaran hidup bersih dan sehat perlu kembali dibentuk dan digalakan. Menciptakan kembali arti sesungguhnya kebebasan dari segala bentuk penindasan termasuk penindasan kekejaman penyakit. [](DA)

    0 Komentar

    Belum ada komentar