Sukses

Ultraviolet Memacu Risiko Katarak

Angka kebutaan Indonesia terbilang tinggi. Tiap menit, ada satu orang yang menjadi buta. Sebagian besar penderita kebutaan

Peringatan World Sight Day

Angka kebutaan Indonesia terbilang tinggi. Tiap menit, ada satu orang yang menjadi buta. Sebagian besar penderita kebutaan justru berasal dari kalangan sosial ekonomi lemah (miskin). Katarak menjadi penyebab utamanya.

Karena itu, dalam peringatan World Sight Day (9/10), kebutaan menjadi prioritas penanganan secara intensif. "Khususnya, katarak dan retinablastoma (penyakit ganas retina)," kata Prof dr Diany Yogiantoro SpM(K), spesialis penyakit mata dari RSU dr Soetomo Surabaya.

Menurut dia, saat ini ada pergeseran usia penderita katarak. Beberapa tahun lalu, katarak diderita oleh kaum lansia. Saat ini, katarak banyak ditemukan di kalangan usia 40. "Salah satu pencetusnya, paparan sinar ultraviolet matahari secara langsung," jelasnya.

Kondisi lapisan ozon yang menipis membuat paparan ultraviolet mengenai mata. Hal tersebut membuat lensa mata mengeruh. Kekeruhan pada lensa mata inilah yang dikenali sebagai katarak. "Pekerja lapangan lebih rentan mengalaminya," jelas dokter yang juga menjabat sebagai wakil direktur pelayanan medis Surabaya Eye Clinic (SEC) itu.

Dijelaskan, kondisi tersebut hanya terjadi di negara tropis. Termasuk, Indonesia. Sebab, warganya hampir setengah tahun merasakan panasnya sinar matahari. "Di negara empat musim, penderita katarak rata-rata dialami kelompok usia 60. Itu pun disebabkan pengaruh usia (degeneratif), bukan paparan sinar matahari," terang Diany.

Sayang, sulit mengurangi angka kejadian katarak. Masalahnya, lanjut ketua Dewan Kehormatan Etika Kedokteran (DKEK) Pusat Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia) itu, Indonesia merupakan negara kepulauan. Masyarakat di pedalaman yang tak terjangkau pelayanan kesehatan. "Ini merupakan tantangan bagi para dokter mata," paparnya. Kesulitan lainnya, masih banyak masyarakat yang tak berobat walau menunjukkan gejala katarak. Tak sedikit yang beranggapan bahwa penglihatan kabur dan silau bila terkena sinar matahari wajar dialami oleh lansia. Padahal, bila tak segera diobati, kondisi tersebut berujung kebutaan.

Yang jelas, katarak bisa diobati asalkan terdeteksi sejak dini. Dalam kondisi tipis, setengah matang, ataupun matang, katarak bisa diobati. Namun, bila sudah masuk tahap katarak terlalu matang, dokter mata justru sulit menanganinya. Kalaupun bisa ditangani, hasilnya tak optimal. "Di sinilah pentingnya sosialisasi dan edukasi ke masyarakat," tambahnya.

Langkah pencegahan atas sengatan matahari perlu ditempuh. Di antaranya, selalu menggunakan kacamata pelindung, topi, atau payung ketika berada di luar rumah. "Bila memang ada yang tak enak pada mata, segera berobat," saran Diany.

Retinoblastoma tak hanya mengakibatkan kebutaan, tapi juga mengancam kehidupan. Angka kejadian retinoblastoma adalah 1:14-20 ribu kelahiran hidup.

"Jumlah penderitanya cenderung meningkat," ujarnya. Sebagai panduan, orang tua harus bisa mendeteksi dini penyakit tersebut. "Mata menjadi mirip mata kucing menjadi gejala dominan retinoblastoma," tutur Diany. Atau, gejala sinar terlihat memantul dari mata maupun juling.

 

Sumber : Jawa Pos -  PDPI Jatim

    0 Komentar

    Belum ada komentar