Sukses

Silent Stroke; Tanpa Gejala, Wajib Diobati

Budi (bukan nama sebenarnya) tidak pernah mengalami gejala yang biasa dialami seseorang yang terserang stroke. Dia tidak pelo, tidak juga mati separo

Hanya Bisa Dideteksi lewat CT Scan

Budi (bukan nama sebenarnya) tidak pernah mengalami gejala yang biasa dialami seseorang yang terserang stroke. Dia tidak pelo, tidak juga mati separo. Budi hanya merasa kemampuan berpikirnya menurun. Khawatir ada yang tidak beres, Budi pun melakukan pemeriksaan CT Scan. Hasilnya, pria paro baya itu divonis menderita silent stroke. Apa pula itu "Penyakit ini hanya bisa dideteksi dengan CT Scan," ujar Prof dr Margono Imam S. SpS, spesialis saraf RSU dr Soetomo. Margono menjelaskan, silent stroke tidak memunculkan gejala seperti stroke pada umumnya. Hanya kecerdasan atau kognitif penderita yang mengalami penurunan. Meski demikian, penyakit tersebut harus diwaspadai dan segera diobati. "Jangan sampai tidak mau minum obat atau terapi karena merasa tidak sakit," tuturnya. Pada penderita kondisi ini, lanjut Margono, pembuluh darah yang tersumbat adalah pembuluh di otak bagian silent area. "Ini seperti banjir di Kota Surabaya. Kalau yang banjir di daerah pinggiran, kepanikan tidak akan sehebat kalau yang banjir Tunjungan atau pusat kota. Meski begitu, jika banjir di pinggiran itu tidak segera ditangani, air bah akan merembet ke pusat," terangnya. Margono menambahkan, sebagaimana stroke pada umumnya, faktor risiko silent stroke juga terbagi dua. Pertama, faktor yang tidak bisa dikendalikan, seperti umur, jenis kelamin, dan genetik. Kedua, faktor yang bisa dikendalikan, misalnya gaya hidup yang buruk. Karena itu, dia mengimbau penderita silent stroke, selain minum obat, juga supaya segera memperbaiki gaya hidup. "Misalnya, berhenti merokok dan minum minuman beralkohol, juga rajin berolahraga," pesannya. Dengan cara itu, tambah Margono, risiko terkena stroke bisa turun hingga 40 persen. "Yang terjadi selama ini, banyak yang meremehkan silent stroke karena tidak ada gejala," ujarnya. Pada orang lanjut usia (lansia), kata Margono, ada 10 persen yang menderita stroke tanpa gejala silent stroke. Kondisi tersebut meningkatkan risiko mereka menderita stroke lebih lanjut. Faktor lain yang meningkatkan risiko silent stroke, di antaranya, tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi. "Penderita kondisi ini juga harus menjaga pola hidup," ingat Margono. Data WHO 1999 mencatat, 5,4 juta orang meninggal karena stroke dan 50 juta cacat karena penyakit itu. Pada 2020, diperkirakan 61 juta orang cacat karena stroke. Sebanyak 80 persen di antaranya berasal dari negara-negara berkembang. Diingatkan Margono, ada lima gejala stroke yang harus diwaspadai semua orang. Pertama, jalannya seimbang atau tidak. Kedua, bicaranya pelo atau tidak. Ketiga, penglihatan menurun, kemudian menghilang tiba-tiba. Keempat, separo badan mati. Terakhir, sakit kepala akut. "Tren penyakit stroke juga berubah dan mulai menyerang usia produktif. Tidak hanya mereka yang berusia di atas 40 tahun," tandasnya.

 

Sumber : Kompas, (PDPI Malang)   

0 Komentar

Belum ada komentar