Sukses

Sayangi Jantung Anda!

Sekitar 17,5 juta orang per tahun meninggal akibat penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah. Penyakit ini menyumbangkan 30 persen

Sumber :   Kompas - PDPI Jatim

Sekitar 17,5 juta orang per tahun meninggal akibat penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah. Penyakit ini menyumbangkan 30 persen penyebab kematian di seluruh dunia dewasa ini. Membaca angka-angka penyakit jantung semacam itu bisa bikin jantungan!

Sejumlah ahli penyakit jantung dan pembuluh darah, dalam acara yang diadakan Bayer Healthcare di Shanghai, akhir September silam, memaparkan sejumlah angka statistik berikut perkembangan penyakit ini. Tema ”Know Your Risk, No Heart Disease” agaknya pas untuk mengefektifkan pengenalan risiko penyakit sejak dini demi mencegah angka-angka itu bertambah di kemudian hari.

Penyakit yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan sebutan CVD alias cardiovascular disease itu langsung meroket dan menjadi penyebab utama kematian di dunia saat ini. Di China, satu orang meninggal tiap 15 detik gara-gara CVD dan satu orang terkena penyakit ini saban 22 detik. Di Indonesia, 23,6 persen orang meninggal pada tahun 2004 akibat CVD.

Peluang terkena CVD bisa berasal dari berbagai sudut. Sebut saja diabetes, hipertensi, stroke, hingga kegemukan punya andil sebagai pintu masuk orang terkena CVD. Sejumlah 1,7 juta orang dewasa di seluruh dunia sudah kegemukan. Begitu juga dengan jumlah penderita diabetes. Bila tahun 2000 penderita diabetes berjumlah 171 juta orang, tahun 2030 diramalkan 366 juta orang terkena penyakit ini.

Tingginya angka-angka statistik penyakit itu tentu ada penyebabnya. Gaya hidup yang tidak sehat, olahraga yang kurang, stres berlebihan, hingga faktor genetis merupakan bagian dari penyebab penyakit CVD maupun aneka penyakit yang menjadi pintu masuk ke CVD.

Untuk faktor genetis, sejauh ini masih sulit dicarikan solusinya, kecuali mematuhi pantangan mencegah timbulnya penyakit lain yang menjadi pintu masuk ke CVD.

Gaya hidup
Gaya hidup yang tidak sehat merangkum berbagai hal, mulai dari merokok sampai pola makan yang tidak sehat karena asupan garam, gula, dan lemak yang berlebihan. Masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas tentu tidak punya banyak pilihan untuk menu makan mereka. Asal murah dan kenyang, cukuplah. Pertimbangan kesehatan nyaris tidak ada. Kalaupun memilih menu sayur atau tempe, misalnya, lebih disebabkan harga yang murah.

Namun, bukan berarti masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah hingga atas tidak bisa terserang penyakit ini. Ragam makanan tidak selalu membuat orang memilih yang sehat karena yang sehat belum tentu enak. Lagi-lagi urusan lidah bersaing dengan masalah kesehatan. Konsumsi daging relatif meningkat dibandingkan dengan sayur-mayur.

Seorang kawan yang bekerja sebagai humas di perusahaan kesehatan di Jakarta bahkan enggan menghabiskan makan siang berupa salat, roti isi tuna, sebutir apel, dan jus jeruk. ”Makanan ini terlalu sehat buat saya,” katanya separuh guyon.

Makanan cepat saji di restoran waralaba umumnya lebih mudah diterima kendati dari kacamata kesehatan, makanan ini tidak memenuhi syarat. Begitu pula dengan aneka makanan khas Indonesia yang sarat dengan lemak jenuh yang bisa menggumpal dan menyumbat pembuluh darah.

Begitu pula dengan urusan olahraga dan stres. Keseharian manusia modern zaman kini dengan aktivitas harian yang padat, ruang publik yang terbatas, kemacetan lalu lintas, serta faktor keamanan yang masih minim ikut memengaruhi stres.

Mengendarai sepeda di kota seperti Jakarta baru dilakukan sebagian orang saja. Tata kota yang buruk dan lalu lintas yang terlampau padat sekaligus mempersempit jalur pemakai sepeda membuat berkurangnya pilihan bersepeda. Di Yogyakarta, kebiasaan naik sepeda justru ditinggalkan lantaran kredit sepeda motor semakin murah.

Pada anak-anak, kesempatan untuk bermain di luar rumah menjadi sesuatu yang mewah karena lahan bermain yang sangat terbatas. Belum lagi kekhawatiran orangtua akan keamanan anak bermain di luar pagar rumah, termasuk dengan maraknya kasus penculikan anak.

Sementara itu, industri menciptakan aneka permainan yang memakai teknologi dengan ruang terbatas. Sebut saja games online yang bikin anak gandrung dan menghabiskan waktu berjam-jam di atas kursi warnet. ”Satu anak bisa menghabiskan waktu lima jam sehari untuk bermain games,” kata Devi, pemilik warnet di Kota Padang, Sumatera Barat.

Holistik
Melihat penyebab sakit jantung yang sudah ruwet itu, penyelesaiannya tentu tidak bisa sepotong. Ketua Departemen Riset Ilmiah Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) Dr Anwar Santoso mengingatkan bahwa masalah kesehatan ini harus menjadi perhatian bagi seluruh elemen masyarakat.

Peningkatan kesadaran makanan sehat, misalnya, perlu terus disosialisasikan secara lebih efektif, bukan sekadar lewat spanduk atau leaflet saja. Kampanye makan sehat perlu melibatkan ahli nutrisi serta pengusaha makanan untuk menghasilkan makanan yang enak, sehat, dan (seharusnya) murah.

”Sejumlah makanan di Indonesia mengandung lemak jenuh dan garam yang tinggi. Perlu keterlibatan ahli nutrisi untuk memodifikasi makanan daerah agar tidak meninggalkan kekhasan makanan, tetapi memakai bahan dan metode pengolahan yang sehat,” tutur Anwar.

Pemasyarakatan ulang permainan tradisional juga perlu dipikirkan kembali karena ragam permainan tradisional umumnya merangsang gerak tubuh anak.

Kegelisahan memperbaiki hidup demi mencegah CVD juga dikerjakan negara lain. Profesor Runlin Gao, ahli CVD dan pengajar di sejumlah perguruan tinggi di China, mengungkapkan, kesadaran untuk mencegah CVD mulai dilakukan Pemerintah China.

”Intinya adalah edukasi. Departemen Kesehatan China membuat komunitas kesehatan masyarakat untuk memopulerkan pencegahan CVD di seluruh provinsi, selain juga edukasi lewat pendidikan formal. Kami ingin membiasakan masyarakat berjalan minimal 40 menit serta lebih banyak mengonsumsi sayur. Pemerintah juga meningkatkan fasilitas kesehatan berikut obat-obatan untuk mengatasi CVD,” kata Gao.

Dari dunia medis, sejumlah obat pencegah CVD mulai dikembangkan. Bayer, salah satu produsen obat, mengeluarkan jenis Aspirin yang bisa membantu mengurangi risiko seseorang terkena CVD.

Kalangan dokter juga membutuhkan satu kata untuk menangani CVD. Urusan jantung dan pembuluh darah ini memang bukan hanya pekerjaan dokter spesialis jantung, tetapi juga membutuhkan campur tangan dokter lain lantaran sejumlah penyakit berpeluang menjadi pintu masuk CVD.

”Kami tengah menyusun panduan penanganan penyakit jantung secara menyeluruh yang bisa diterapkan oleh semua dokter, termasuk dokter umum,” kata Anwar.

Sinergi merupakan upaya menjaga si jantung agar tetap sehat dan tidak jantungan lagi membaca angka-angka statistik penyakit ini di masa datang.

 


 

    0 Komentar

    Belum ada komentar