Sukses

Stent Arteri Koroner

Penyakit jantung koroner merupakan pembunuh utama di dunia dengan 16,7 juta kematian setiap tahunnya. PJK adalah keadaan dimana terdapat plak yang menyumbat di dalam pembuluh darah

Sekilas mengenai Penyakit Jantung Koroner (PJK)

PJK merupakan pembunuh utama di dunia dengan 16,7 juta kematian setiap tahunnya. PJK adalah keadaan dimana terdapat plak yang menyumbat di dalam pembuluh darah arteri. Hal ini menyebabkan suplai darah ke jantung berkurang. Plak adalah gabungan lemak, kolesterol, kalsium, dan bahan lain di dalam darah. Walaupun laki-laki sering dikaitkan dengan PJK namun wanita menopause juga berisiko terserang penyakit tersebut. Di kalangan laki-laki, faktor risiko utams PJK adalah merokok. Selain itu faktor risiko lainnya adalah usia lanjut, kurang berolahraga, riwayat keluarga PJK, dan sakit kronik (kolesterol, obesitas, tekanan darah tinggi, diabetes melitus). Angioplasti dan bedah pintas koroner (CABG) atau bypass merupakan terapi standar untuk penanganan plak arteri.

 

 

DEFINISI STENT

Apa yang dimaksudstent arteri koroner?

Stent (berbentuk cincin) arteri koroner adalah kawat stainless steel berbentuk tabung yang digunakan untuk membuka pembuluh darah arteri koroner yang tersumbat di dalam prosedur angioplasti. Stent tersebut dikecilkan hingga diameter terkecil dimana di dalamnya terdapat kateter balon. Stent dan balon tersebut akan diarahkan ke area yang tersumbat. Ketika balon dikembungkan, maka stent juga membesar, sesuai dengan ukuran dan bentuk serta melekat di dinding dalam pembuluh darah. Hal ini menjaga arteri tetap terbuka ketika balon dikecilkan kembali dan dikeluarkan. Stent tersebut menetap di arteri secara permanen, menjaganya tetap terbuka, meningkatkan aliran darah ke otot jantung, dan menyembuhkan gejala Penyakit Jantung Koroner (biasanya nyeri dada). Seiring dengan berjalannya waktu, dinding arteri akan menyembuh dan bagian dalam dari arteri (endothelium) akan tumbuh di sekital kawat metal dari stent untuk menjaga arteri tetap membuka.

Stent arteri koroner merupakan salah satu prosedur angioplasti. Angioplasti adalah terapi minimal invasif yang dilakukan di rumah sakit untuk membuka arteri yang tersumbat menggunakan kateter dengan balon di ujungnya. Selang panjang berbentuk tabung tipis yang dikenal sebagai kateter dimasukkan melalui inguinal (selangkangan) atau pergelangan tangan dan kemudian berjalan melalui pembuluh darah utama menuju tempat penyumbatan. Balon dengan ukuran kecil diletakkan di ujung dari kateter, balon tersebut kemudian dipompa sehingga menjadi besar untuk melebarkan arteri dan mengurangi sumbatan.

 

 

PROSEDUR PEMASANGAN STENT

Bagaimana prosedur pemasangan stent?

Penggunaan stent tergantung dari beberapa kondisi tersumbatnya arteri. Hal ini termasuk ukuran arteri dan lokasi dari sumbatan. Kateter jantung dimasukkan ke arteri melalui inguinal atau lengan. Di bawah visualisasi x-ray, ujung kateter tersebut menuju ke jantung. Tekanan diukur, dan angiogram atau film dari jantung dan pembuluh darah direkam. Sementara itu zat pewarna iodine atau zat kontras disuntikkan ke arteri melalui kateter. Zat kontras tersebut membantu arteri koroner agar dapat tervisualisasi melalui angiogram. Setelah mengevaluasi film x-ray tersebut, ahli jantung dapat menentukan ukuran dari arteri koroner serta sumbatan dan dapat memilih tipe balon kateter dan kawat pemandu yang akan digunakan untuk menterapi. Pada kebanyakan kasus, stent arteri koroner didahului dengan angioplasti. Hal ini disebut “pre-dilatasi”, yang membantu membuka sumbatan dan membuat lebih mudah untuk memasukkan stent.

Kawat tipis tersebut merupakan pemandu jalan bagi balon kateter menuju arteri yang tersumbat. Balon tersebut akan terus dikembangkan di tempat sumbatan selama 30 – 60 detik dan kemudian dikempiskan. Stent yang dibawa oleh balon tersbut sekarang sudah dibenamkan di dinding arteri yang tersumbat, menjaga agar arteri tetap terbuka. Pemasangan stent adalah prosedur yang sering dikerjakan, pada faktanya sekitar 70% dari prosedur angioplasty koroner adalah pemasangan stent.

Sebelum pemasangan stent dilakukan, pasien akan diinstruksikan untuk meminum aspirin selama beberapa hari. Aspirin dapat menurunkan kemungkinan terbentuknya bekuan darah selama prosedur dilakukan. Karena anestesi akan dilakukan selama prosedur, maka pasien puasa setelah tengah malam di hari sebelumnya. Pasien akan tetap terjaga selama prosedur pemasangan stent dan sedasi ringan digunakan untuk menjaga relaksasi dan kenyamanan. Pemasangan stent akan berlangsung selama 30 – 60 menit, tergantung dari tingkat kesulitan kasus.

Seberapa aman prosedur stent ini?

Di tangan seorang ahli jantung yang berpengalaman dan dengan ketersediaan teknologi modern, risiko kematian selama prosedur pemasangan stent umumnya kurang dari 1%. Komplikasi berat berkisar 4%, terjadi pada 1 atau 2 per 1000 pasien. Risiko serangan jantung dan perdarahan yang membutuhkan transfusi darah lebih tinggi bila dibandingkan dengan kateter jantung. Bagaimanapun juga, risiko yang terjadi lebih rendah bila dibandingkan dengan keuntungan yang didapat.

Apakah pemasangan stent koroner dilakukan pada setiap kasus?

Jawabannya adalah tidak. Meskipun stent lebih superior dibandingkan angioplasti, namun stent lebih sulit dimasukkan pada plak atau sumbatan yang sangat keras dan sempit di pembuluh darah (umumnya deposit calcium). Stent sendiri juga tidak dapat digunakan pada pembuluh darah arteri yang sangat kecil. Saat ini, pemasangan stent dilakukan pada 50 – 75% dari seluruh tindakan angioplasti.

 

 

PASKA PEMASANGAN STENT

Apakah dapat terjadi penyempitan kembali setelah pemasangan stent?

Ya. Penyempitan kembali atau restenosis adalah masalah yang dapat terjadi akibat pemasangan stent. Restenosis biasanya terjadi dalam 3 – 6 bulan setelah penanaman stent, tapi sangat jarang terjadi setelah 12 bulan. Beberapa tahun terakhir ini para dokter sudah menggunakan stent tipe baru yang disebut Drug Eluting Stents (DES) yaitu stent berlapiskan obat dan polymer (bahan kimia) yang bekerja secara lepas lambat dan mencegah pertumbuhan dari jaringan parut yang dapat menyebabkan pembuluh darah arteri menyempit kembali. Polimer tersebut  membawa dan melindungi obat di stent sebelum dan selama prosedur pemasangan stent. Kemudian, sekali stent tersebut sudah diimplantasikan (dipasang) di arteri koroner, polimer tersebut membantu mengontrol pelepasan obat ke dinding arteri. Perlu menjadi perhatian bahwa pasien yang sudah melakukan prosedur pemasangan stent jenis apapun sebaiknya meminum obat anti pembekuan seperti yang disarankan oleh dokter. Penyempitan kembali sendiri, merupakan kombinasi berbagai macam faktor termasuk elastisitas pembuluh darah arteri dan pembentukan serta pertumbuhan jaringan di area yang sudah diterapi.

Apa saja yang perlu dilakukan setelah pemasangan stent?

  1. Setelah prosedur

Setelah stent dipasang, pasien akan dirawat selama 1 – 3 hari di rumah sakit untuk pengawasan

  1. Aktivitas

Ikuti instruksi yang diberikan oleh dokter. Pengembalian aktivitas ke normal dilakukan secara perlahan-lahan.

  1. Obat-obatan

Pasien yang sudah melakukan prosedur stent sebaiknya meminum 1 atau lebih obat anti koagulan. Contohnya adalah aspirin dan clopidogrel. Obat-obatan ini membantu mencegah pembekuan darah yang terjadi pada stent dan menyumbat arteri kembali. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa pembekuan darah dapat terjadi dalam waktu 1 tahun atau lebih setelah pemasangan stent pada DES. Karena itulah sangat penting untuk mengkonsumsi obat-obatan yang disarankan oleh ahli jantung anda. Aspirin pada umumnya dikonsumsi seumur hidup dan clopidogrel dikonsumsi antara 1 – 12 bulan (tergantung tipe stent) setelah prosedur dilakukan. Clopidogrel dapat menyebabkan efek samping, jadi pemeriksaan darah lengkap akan dilakukan secara rutin. Apabila anda mengkonsumsi obat tersebut, perlu diingat bahwa sebaiknya anda tidak menghentikan pengoatan anda tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli jantung anda. Laporkan segala efek samping obat-obatan yang ada.

  1. Follow-up

Kunjungan kontrol setelah tindakan perlu dilakukan. Selam kunjungan ini, dokter akan memonitor perkembangan dan mengevaluasi obat, status dari Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang diderita, dan seberapa jauh stent berfungsi bagi anda.

Untuk 4 minggu ke depan alat scan MRI sebaiknya tidak dilakukan tanpa persetujuan kardiologis. Namun detector metal tidak mempengaruhi stent.

(Diambil dari berbagai sumber)

    0 Komentar

    Belum ada komentar