Sukses

Nikmati Susu Bermelamine

Nikmati Susu Bermelamine

Seolah negeri ini tak henti-hentinya mendapat ancaman dari isu makanan dan minuman berbahaya untuk di konsumsi yang beredar bebas di pasaran. Setelah fenomena ancaman distribusi daging gelonggong di pasaran, lalu ancaman peredaran bebas makanan kemasan yang melewati masa kadaluwarsa, kemudian ancaman fenomena daging limbah yang masih segar dari ingatan kita terjadi di pertengahan bulan September lalu , kini masyarakat Indonesia dikagetkan oleh fenomena tercemarnya susu buatan China oleh zat melamine.

Produk buatan China kembali bermasalah. Pemerintah China mengerahkan badan pengawas kualitas China, Administration of Quality, Supervision, Inspection and Quarantine (AQSIQ) untuk melakukan penyelidikan secara nasional atas susu bubuk bayi di negeri tirai bambu tersebut.

Penempuhan langkah tersebut dilakukan pihak otoriter China setelah ditemukan zat melamine pada beberapa produk susu bayi yang beredar bebas di pasaran yang ditenggarai merupakan  penyebab kematian empat bayi serta belasan ribu penemuan kasus penderita batu ginjal pada balita lainnya di propinsi Gansu dan beberapa provinsi lainnya di China.

Kasus kematian bayi akibat batu ginjal tersebut terbilang langka. Ditambah lagi secara bersamaan ditemui kasus berjumlah lebih dari 13.000 bayi lainnya menderita batu ginjal di provinsi tersebut dan beberapa provinsi lainnya dalam rentang waktu di tahun yang sama.

Hasil penyelidikan mengindikasikan mayoritas bayi-bayi malang tersebut menderita setelah mengonsumsi susu formula merek Sanlu. Kembali, kasus ini mengingatkan kembali pada skandal susu formula palsu pada tahun 2004 di China yang menewaskan setidaknya 13 bayi.

Pun, zat melamine - bahan yang bukan kali pertama ini membuat heboh skandal industri makanan & minuman buatan asal China. Sebelumnya di Amerika Serikat pada tahun 2007 pernah terjadi kasus kematian dan sakitnya ribuan binatang peliharaan dengan titik temu investigasi pihak otoriter AS, ditemukannya di salah satu produk makanan peliharaan buatan China.

Penemuan tersebut tidak hanya berhenti di produk makanan peliharaan, namun berlanjut hingga ditemukan juga pada produk pasta gigi buatan China juga.

Sebagaimana yang dilansir dari kantor berita resmi China, Xinhua, Jumat (12/9), pihak produsen susu formula merek Sanlu tersebut, yakni Sanlu Group yang notabene separuh sahamnya dimiliki oleh perusahaan raksasa ekspor asal Selandia Baru, Fonterra Co-operative Group Ltd, telah melakukan penarikan susu formula yang dibuat sebelum tanggal 6 Agustus 2008. Disebutkan sekitar 700 ton susu yang terkontaminasi melamine beredar di pasaran.


“Manfaat” Melamine
 
Melamine adalah bahan yang digunakan dalam produk plastik, pupuk dan produk pembersih.

Melamine merupakan senyawa organik bersifat basa dengan rumus C3H6N6 yang memiliki kandungan nitrogen hingga 66 persen. Unsur ini biasa didapati dalam bentuk seperti kristal putih atau tawas.

Melamine juga biasa digunakan untuk bahan campuran membuat plastik, lem, pupuk dan sebagainya.

Plastik yang berasal dari melamine memiliki karakter yang tahan panas. Oleh karena itu acapkali digunakan secara meluas untuk berbagai perkakas dapur. Secara keseluruhan, melamine yang mengontaminasi produk susu formula berbeda dengan melamin plastik perkakas.

Tindakan pengoplosan zat melamine pada produk susu formula tersebut diawali dari tindakan pengenceran susu dengan air. Pun, pengenceran air pada susu bertujuan untuk mengkali-lipatkan kuantitas produksi susu.

Akibat dari pengenceran tersebut, justru yang terjadi adalah penurunan kandungan protein pada susu formula tersebut. Guna menyeimbangi dekadensi kandungan protein serta mengelabui kadar kandungan protein pada susu formula, para produsen nekat menggunakan zat melamine.

Karena pabrik berbahan baku susu biasanya memeriksa kandungan protein melalui penentuan tinggi-rendahnya kandungan nitrogen.

Memiliki patokan mengukur tinggi-rendahnya protein pada susu formula dengan memeriksa seberapa tinggi kadar kandungan nitrogen pada susu tersebut. Demikian terkutip informasi dari situs badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO).

Penambahan zat melamine ke makanan maupun minuman tidak diperbolehkan oleh otoritas pengawas makanan negara mana pun. Jelas zat yang diciptakan bukan untuk tujuan dikonsumsi manusia secara murni ini berbahaya untuk tubuh manusia.

Jika melamine telah bergabung dengan asam sianurat (yang biasa juga terdapat sebagai pengotor melamin) akan membentuk sebuah kristal yang dapat menjadi ancaman batu ginjal. Batu ginjal ini telah tampak pada hewan-hewan korban kasus pengoplosan melamin di Amerika Serikat 2004 lalu. Batu ginjal inilah yang menyumbat saluran kecil di ginjal yang kemudian dapat menghentikan produksi urine kemudian gagal ginjal dan tidak menutup kemungkinan berakhir pada kematian.

Melamin memang tidak dapat di-metabolisme-kan oleh tubuh. Pada studi dengan menggunakan hewan disimpulkan, asupan melamin murni yang tinggi mengakibatkan inflamasi kandung kemih dan pembentukan batu kandung kemih. Proses demikianlah yang membuat 13.000 bayi di propinsi Gansu, China menderita.

Distribusi Susu Maut di Indonesia

Berbagai negara di Asia memberlakukan larangan masuk pada produk-produk susu dari China. Sementara itu, para orangtua yang khawatir segera membawa anak-anak mereka ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan di tengah meluasnya kekhawatiran mengenai susu tercemar asal China.

Brunei Darussalam, Singapura, Kamboja, dan Taiwan telah melarang semua produk susu dari China. Meningkatnya ketakutan menyebabkan beberapa sekolah dan toko menarik lebih banyak produk asal China sebagai tindakan pencegahan.

Pemerintah Malaysia pun memperluas larangan atas produk-produk hasil olahan susu yang diimpor dari China. Kini semua produk makanan yang mengandung susu, seperti permen, cokelat dan biskuit buatan China dilarang beredar di Malaysia.

Keputusan pelarangan tersebut diambil berdasarkan informasi yang diterima dari otoritas Singapura, Agri-Food and Veterinary Authority (AVA). Otoritas Singapura tersebut telah menemukan kandungan melamine pada permen susu legendaris buatan China yang juga beredar bebas di Indonesia bertahun-tahun, "White Rabbit Creamy Candy".

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah memperingatkan kemungkinan terjadinya penyelundupan susu bubuk bayi tercemar asal China itu melintasi perbatasan negara. Krisis itu semula diperkirakan hanya terbatas pada susu bubuk asal China yang tercemar melamin.

Untuk preventive hal tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia  telah mengancam untuk memidanakan distributor yang terus mengimpor dan mengedarkan produk susu dari China yang diduga terkontaminasi melamine. Pemerintah akan terus mengawasi peredaran produk susu dari China di pasar domestik-yang didistribusikan secara legal melalui perusahaan ritel dan pemasaran berantai atau multilevel marketing maupun ilegal yang diselundupkan dari provinsi Batam.

Pengawasan juga dilakukan terhadap produk susu yang diedarkan kalangan distributor yang telah mengantongi izin impor dari Departemen Perdagangan, baik produk ML (kode untuk produksi luar negeri) maupun MD (kode untuk produksi dalam negeri).

Berikut adalah beberapa produk makanan dan minuman asal China yang mengandung melamine yang telah melalui proses uji coba oleh Agri-Food and Veterinary Authority (AVA) Singapura.

No.

Nama Produk

Jenis

1

Natural Choice

Yoghurt Flavoured Ice Bar With Real Fruit

2

Yii Bean Club

Matcha Trad Bean Ice Bar

3

Yii Bean Club

Red Bean Ice Bar

4

Yii Prestige Chockz

Dark Chocolate Bar

5

Yii Super Bean

Red Bean Chestnut Ice Bar

6

Nestle Dairy Farm

Susu UHT

7

Yii High Calcum

Susu Rendah Lemak

8

Yii High Calcum

Susu

9

Yii 250 ml

Susu murni

10

Yii 1 liter

Susu murni

11

Dutch Lady

Strawberry Milk (Ex. China, Hongkong, Singapore)

12

White Rabbit

Kembang Gula

13

Yii Choice

Dairy Frozen Yoghurt and Pineapple Fruit Pieces

Sumber: Agri-Food and Veterinary Authority (AVA) Singapura

 

Efek Domino Pada Industri Usaha Susu Indonesia

Dari aspek industri usaha, fenomena ini mengundang keprihatinan dari berbagai pihak. 

Tidak hanya mengundang keprihatinan atas jatuhnya koban jiwa di China, namun sedikit banyak juga telah menimbulkan efek kepada dunia industry usaha susu Indonesia.

Tidak luput perusahaan raksasa makanan skala internasional seperti Kraft Foods asal AS sempat ikut terpukul oleh rumor mengenai penarikan sejumlah makanan ringan untuk merek khusus Oreo dan M&M’s.

Namun setelah pengumuman resmi dari BPOM bahwasanya seluruh merek yang mengandung susu yang  diproduksi dari dalam negeri telah bebas dari kontaminasi zat melamine, kondisi pasar yang sempat shock berangsur membaik.

Hal ini juga diamini oleh Ketua Asosiasi Produsen Makanan Bayi (APMB) Indonesia, Budi Isman ketika ditemui dikantornya. 

Kami telah menerima pengumuman dari pihak otoriter BPOM bahwasanya produk dibawah naungan asosiasi kami bebas 100% dari kontaminasi melamine China. Karena seluruh bahan baku yang kebanyakan dipakai anggota kami tidak ada satupun yang mengimpor dari sana (China-Red)” ujar beliau.

Membahas soal ini, jelas sekali suatu produsen susu wabil khusus makanan bayi, dalam setiap langkah produksinya diawasi oleh berbagai pihak.

Hal tersebutlah yang merupakan beban moral bagi para produsen susu dan khususnya makanan bayi untuk mengkonstruksi kepercayaan publik akan produknya.

Kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak otoriter yang berwenang untuk membantu konstruksi kepercayaan publik. Dimana dalam hal ini, justru merekalah yang berkompetensi dalam bertindak sebagai institusi kepercayaan negara.” imbuh Ketua APMB.

Respon Para Badan Pengawas

Fenomena isu susu bermelamine yang terjadi di Indonesia membuat mengundang berbagai pertanyaan kepada BPOM dalam bertindak sebagai badan otoriter yang dipercayakan oleh Republik Indonesia.

Bagaimana bisa makanan berbahaya dapat lolos masuk dan beredar di dalam negeri setelah melewati proses perizinan dari berbagai instansi pemerintah?

Tidak sedikit beberapa pihak yang mengemukakan tindakan BPOM dinilai terlambat dalam merespon kejadian ini.

Sebagaimana terkuti dari harian Koran Seputar Indonesia (27/9) lalu, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta, menilai BPOM terlambat menarik susu dan produk yang mengandung susu dari China. Alasannya, sebelum produk tersebut beredar di pasaran sebenarnya bisa diantisipasi.

Marius menambahkan, BPOM mestinya melakukan uji laboratorium sendiri kandungan setiap produk yang hendak diregistrasi.

Senada dengan Marius, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi turut menyesalkan BPOM yang hanya bergerak pada momen-momen tertenut. Misalnya menjelang hari Raya atau bila ada berita sejumlah media terkait makanan dan minumam yang berbahaya. “Padahal tindakan preventive sangat diperlukan untuk melindungi masyarakat.”

Dengan demikian, kasus-kasus seperti halnya beredarnya permen, pasta gigi, kosmetik, dan apapun halnya yang mengandung zat berbahaya dapat diantisipasi sebelum jatuhnya korban.

Yang terjadi di China, buntut skandal susu terkontaminasi melamine tersebut,  kepala badan pengawas keamanan makanan China mengundurkan diri. Li Changjiang mengundurkan diri karena menilai dirinya gagal menghentikan penyebaran susu formula terkontaminasi melamine. Mundurnya Li dari jabatan Kepala Badan Umum Pengawasan Kualitas, Inspeksi dan Karantina pun telah disetujui kabinet China.

Li memimpin Badan Umum Pengawasan Kualitas, Inspeksi dan Karantina sejak tahun 2001. Setahun yang lalu, Li dan jajarannya berjanji untuk memperbaiki sistem pengawasan menyusul serangkaian kasus ketidakamanan produk buatan China.

Namun terlepas dari semua hal tersebut, skandal susu maut ini merupakan sebuah bahan pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati. Apalagi jika isu tersebut berkaitan dengan kepercayaan publik. Dimana kepercayaan merupakan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan harga murah di era persaingan gobal. [](DA)

 

    0 Komentar

    Belum ada komentar