Sukses

Jatuhnya Simoncelli pasca Kecelakaan

Sebuah tragedi terjadi pada tanggal 23 Oktober 2011, di sirkuit Sepang Malaysia. Honda RC212V yang dikendarai Marco ?Sic? Simoncelli dengan cepat melintas...

Oleh:  dr. Muhammad Deryl Ivansyah

Klikdokter.com - Sebuah tragedi terjadi pada tanggal 23 Oktober 2011, di sirkuit Sepang Malaysia. Honda RC212V yang dikendarai Marco ‘Sic’ Simoncelli dengan cepat melintas tak terkendali di hadapan pembalap asal Amerika Colin Edwards dan rekan satu negara Sic, Valentino Rossi. Kecelakaan tak terelakkan. Tubuh Marco Simoncelli pun tergeletak tak berdaya di tengah Sirkut Sepang setelah secara tidak sengaja terlindas motor Edwards dan Rossi.

Paramedis langsung menuju ke arah Simoncelli, dan melakukan transportasi (pemindahan) dari sirkuit balap ke mobil ambulans. Tim bergegas menuju ambulans, namun terlihat satu anggota jatuh, sehingga tandu berikut tubuh Simoncelli ikut terjatuh. Apa yang terjadi?

Transportasi korban
Transportasi adalah pemindahan korban dari satu tempat ke tempat lain, tujuannya:

  1. Menyelamatkan jiwa korban
  2. Mencegah cacat
  3. Membantu proses penyembuhan
  4. Memindahkan korban dari tempat yang berbahaya ke tempat dengan fasilitas medis yang memadai

Mengetahui tools (alat-alat) yang bisa digunakan untuk transportasi korban sangat penting karena situasi-situasi tertentu mengharuskan kita berpikir lebih kreatif. Tools tersebut adalah man-power (penolong), tandu dan kendaraan. Teknik transportasi yang dilakukan oleh satu orang tentu akan sangat berbeda jika dilakukan oleh tiga atau empat orang. Pertimbangan ketersediaan tandu juga perlu diperhatikan, apakah tandu yang tersedia kuat atau tidak. 

 Untuk dapat melakukan transportasi korban yang aman diperlukan latihan khusus. Orang yang belum mengetahui cara transportasi dengan aman lebih baik tidak melakukan pertolongan atau melakukannya dengan pengawasan seorang yang terlatih (seperti paramedis, petugas pemadam kebakaran, dll).

Ada beberapa teknik transportasi korban. Sebagai contoh untuk transportasi dengan satu penolong, ada yang disebut firefighter (gambar 1).

Teknik ini efektif untuk memindahkan korban ke tempat yang aman jika lokasi aman jauh (50-100 meter), namun perlu latihan untuk menguasainya dan perlu dipertimbangkan jika korban mengalami politrauma. Lain halnya dengan transportasi oleh 4 penolong, contohnya dengan tandu(gambar 2).

Hal yang perlu diperhatikan adalah kerja sama, kepemimpinan, teknik, dan faktor lingkungan sekitar. Hal ini dapat dianalogikan dengan profesionalisme pitcrew formula 1. Setiap orang memiliki tugas masing-masing dengan seorang komando yang mengatakan kapan mulai, kapan berhenti. Jika ada kesalahan komunikasi, biasanya kecelakaan akan terjadi. Entah selang bensin belum dilepas, roda belum terpasang sepenuhnya, atau yang lain. Perlu ada seorang pemimpin yang biasanya berada di dekat kepala korban. Anggota dalam tim yang melakukan transportasi harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh pemimpin. Jika pemimpin mengatakan”jalan”, anggota lain harus berjalan. Hal Ini penting demi keselamatan korban yang ditandu.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa melakukan transportasi korban bukanlah hal yang mudah. Every second counts. Tim penyelamat berusaha secepat dan seaman mungkin dalam memindahkan pasien, namun banyak hal yang dapat terjadi. Pada kasus Marco ‘Sic’ Simoncelli terlihat bahwa saat memindahkan tubuhnya dari lapangan balap ke ambulans penolong yang berada di bagian belakang tandu terjatuh. Faktor-faktor seperti man-power, alat dan lingkungan berperan penting di sini. Mungkin tim penolong tidak memiliki kualifikasi yang diperlukan, mungkin alat tandunya tidak kuat, mungkin juga medan yang dilewati licin sehingga sulit untuk dilewati.

Dari berita yang beredar, Simoncelli sudah meninggal sebelum kejadian jatuh dari tandu tersebut. Namun melihat berita dan video yang beredar, sudah selayaknya pihak penyelenggara melakukan evaluasi agar kejadian “jatuh” tersebut tidak terulang lagi. Bisa diadakan pelatihan ATLS (advance trauma life support) untuk track marshalls, atau evaluasi standar pelayanan kegawatdaruratan. Kejadian seperti ini bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan pada siapa saja. Bukan untuk menyalahkan satu pihak tertentu. Diperlukan latihan rutin kegawatdaruratan (contohnya transportasi) untuk meningkatkan skill dan mengurangi kecelakaan. Seperti kata perpatah “Practice makes perfect”

    0 Komentar

    Belum ada komentar