Sukses

Peneliti IPB Tidak Mengetahui Merek Susu yang Diteliti

Penemuan bakteri E. sakazakii bermula ketika ketidaksengajaan DR. drh. Sri Estuningsih (50) pada saat fokus meneliti korelasi susu formula bubuk...

Penemuan bakteri E. sakazakii bermula ketika ketidaksengajaan DR. drh. Sri Estuningsih (50) pada saat fokus meneliti korelasi susu formula bubuk dan keadaan diare pada bayi. “Awalnya saya tidak mencari mengenai E. sakazakii karena di Indonesia belum ada kasus. Saya lebih menyoroti Salmonella, Shigella, dan E. coli karena ada kejadian diare pada bayi, walaupun tidak mewabah. Ketika bayi diare dikatakan susu atau makanannya tidak cocok, saya pikir ada hubungannya dengan produk yang dikonsumsi. Produk yang berkaitan dengan bayi hanya ada dua, susu formula dan follow-on formula. Jadi mungkin ada relevansi antara kontrol higiene dengan produk tersebut,” tuturnya.

Pada awalnya, dosen ilmu Patalogi yang mengajar sejak 1990 ini sangat tertarik meneliti streptococcus agalactiae yang menjadi hambatan utama dalam peningkatan produksi susu sapi perah. Beliau juga menjelaskan, bahwa bakteri ini adalah penyebab penyakit sepsis dan meningitis neonatal pada manusia. Namun, Dr drh Sri Estuningsih mengaku bahwa ia tidak tahu menahu tentang merek susu yang ditelitinya.

“Saya melakukan penelitian awal di Jerman karena laboratoriumnya terakreditasi dan Jerman ditunjuk oleh WHO (Badan Kesehatan Dunia) sebagai koordinator pengawasan mutu makanan dan susu bayi. Tahun 2003, Salmonella dan Shigella hasilnya negatif. Tapi ditemukan E. sakazakii sebanyak 13,5% (10 dari 74 sampel),” tambahnya.

Bakteri enterobactersakazakii pada dapat menyebabkan penyakit meningitis atau radang selaput otak. Kemudiannya IPB pun mengajukan proposal dana penelitian ke Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan langsung disetujui. Lebih lanjut, proses penelitiannya mengambil fokus; ”Potensi Kejadian Meningitis pada Mencit Neonatus Akibat Infeksi Enterobacter Sakazakii yang Diisolasi dari Makanan Bayi dan Susu Formula”.

Hasil penelitiannya, pada 2003–2006 menggemparkan masyarakat sebab mengungkap 22,73% susu formula (dari 22 sampel) dan 40% makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan pada April–Juni 2006 telah terkontaminasi enterobacter sakazakii.Hasil penelitian ini diterbitkan di jurnal kampus pada 2008. Namun, pada tahun 2009,sudah tak ditemukan lagi bakteri enterobacter sakazakii di semua sampel susu formula dan makanan bayi yang diujinya.

Hal ini diamini oleh dr. Widodo Judarwanto, Sp.A., “Infeksi bakteri ini sangat jarang dan relatif tidak mengganggu untuk anak sehat. Tetapi pada kelompok anak tertentu dengan gangguan kekebalan tubuh tetap dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa. Gangguan tersebut di antaranya adalah infeksi saluran kencing, neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), sepsis (infeksi berat) dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna),” tutur dokter spesialis anak yang aktif berpraktik di RS. Bunda Jakarta ini.

Seyogyanya pemerintah mengambil tindakan bijak dalam merekomendasikan, bahwa memang susu komersial bukan produk steril sebagaimana rekomendasi WHO dan USFDA.  Dengan demikian resiko lebih ringan, karena masyarakat sudah lebih waspada sebelumnya dalam pencegahannya. Tindakan yang bijak dan wajar yang dapat dilakukan sebagaimana pernah terjadi di beberapa negara maju. Sebaliknya bila susu bubuk komersial tetap dianggap aman, masyarakat tidak waspada atau lengah dalam proses penyajiannya.

Pada hasil penelitian Sri Estuningsih pada 2009,sudah tak ditemukan lagi bakteri enterobacter sakazakii di semua sampel susu formula dan makanan bayi yang diujinya. Keadaan tersebut berujung tuntutan dari David Tobing, seorang pengacara, bapak dua anak, yang khawatir anaknya ikut mengonsumsi susu formula tercemar.David menuntut IPB dan pemerintah untuk memublikasikan merek-merek produk susu formula dan makanan bayi yang dimaksud.[](DA/JRA)  

    0 Komentar

    Belum ada komentar