Sukses

Flu Burung

Flu Burung

sumber: kiatsehat.com

Akan kah Memasuki Tahap Pandemi

Penularan virus flu burung dapat melalui sekreta dan eksreta burung, leleran hidung unggas sakit,  debu atau tanah yang terkontraminasi, partikel yang tersebar di udara, peralatan yang terkontaminasi misal sarana transportasi, sangkar, pakaian dan sepatu. Modus dalam penyebaran flu burung yang sering terjadi adalah perdagangan unggas antar wilayah serta migrasi burung liar. Hal ini yang diungkap Rinaldi Rizal Simanjuntak dalam dialog interaktif kesehatan secara rutin oleh Unicef di Radio Antariksa Surabaya.

Dialog Interaktif Kesehatan Bersama Unicef Setiap Hari Rabu (Minggu Pertama) Jam 11.00 WIB di AM1278 Antariksa Radio Info Kiatsehat Surabaya

Dalam hal kelompok resiko tinggi yang dapat terkena flu burung adalah para petani, pekerja peternakan, petugas pemroses produk-produk kesehatan seperti jagal dan pedangan daging, petugas yang terlibat pada pembantaian, transportasi atau pembuang limbah peternakan yang terinfeksi flu burung. Petugas laboratorium yang menangani spesimen pasien flu burung atau hewan sakit. Petugas kesehatan yang merawat atau yang kontak erat dengan pasien flu burung. Gejala klinis yang muncul seperti, influenza tanpa komplikasi yakni timbul demam mendadak, nyeri kepala, nyeri otot dan kelemahan badan, batuk nyeri tenggorokan, demam berkeringat, kemerahan pada tenggorokan, pembesaran kelenjar leher dan ganguan pernafasan ringan. Dalam waktu 2 sampai 5 hari akan berangsur baik kondisi kesehatannya.

Program siaran di Radio Antariksa Surabaya, setiap Rabu pertama di awal bulan selalu memberikan infrormasi kegiatan Unicef di Jawa Timur dan sekitarnya.  Menurut Rinaldi Rizal Simanjutak selaku Avian Influenza Unit, suatu kasus yang dikategorikan akan memasuki tahap pandemi adalah penyakit tersebut terjadi dalam wilayah yang luas. Dan hal ini juga tampak dari penyakit flu burung, yang semakin lama semakin bertambah luas wilayah penyebarannya. Ditambahkan oleh Rizal, sapaan dari Rinaldi Rizal Simanjutak, syarat terjadinya pandemi flu burung juga tampak dari munculnya sebuah subtipe virus influenza baru yang bisa menginfeksi manusia, virus baru tersebut bisa menyebabkan penyakit serius atau kematian pada manusia. Dan virus baru tersebut mudah menular dari manusia ke manusia. Saat ini pola yang dikerjakan dalam memberikan bantuan penderita flu burung di IRD adalah dengan melakukan selseksi penderitanya dengan semua petugasnya menerapkan standar universal precaution. Seleksi oleh perawat terlatih dengan pedoman gejala dan faktor resiko flu burung, seleksi oleh dokter triage untuk anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang DX laboraturium sederhana, foto toraks dan penentuan perawatan pasien.

Di Indonesia saat ini sudah disediakan human influenza vaccine atau vaksinasi untuk virus ini, A H1N1, H3N2 dan Virus influnza B. Namun fungsinya hanya mengurangi kemungkinan antigenic shift melalui proses reassosrtment pada tubuh manusia, bukan mencegah penularan flu burung. Vaksin tersebut diprioritaskan pada usia lebih dari 65 tahun, mengidap penyakit jantung, paru-paru kronis, mereka yang tinggal di dekat peternakan unggas, dan penghuni pantai perawatan dan petugas kesehatan yang terlibat langsung perawatan pasien flu burung. Berita terakhir tentang penderita suspect flu burung terjadi pada balita yang berusia 2 tahun yang saat ini sedang dirawat di ruang isolasi flu burung RSUD Arifien Achmad Pekanbaru Riau.  Balita yang berinisial IS diduga ter-infeksi virus H5N1, penyebab flu burung. Saat ini tim dokter sudah mengambil sampel darah dan usap lendir hidung dan tenggorokan untuk dikirim ke Laboraturium Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Bila dilihat kebelakang, dampak pademi ini sudah bisa terbaca, pada tahun 1918, saat terjadi spanish flu dengan type H1N1 yang mematikan hampir 20 juta sampai 100 juta orang. Tahun 1957 penyakit Asian flu dengan type H2N2 juga telah menelan korban jiwa 2  sampai 3 juta. Kemudian tahun 1968 pandemi Hongkong flu dengan type H3N2. Menurut catatan, potensi dampak pandemi akan terlihat bila pelayanan kesehatan tidak mencukupi, terhentinya pelayanan umum yang vital, tenaga kerja berhenti bekerja, panik ketakutan umum, perubahan besar pada barang pelayanan kesehatan, dan penutupan perbatasan perhentian perdagangan serta perjalanan. Pencegahan yang baik, terutama bagi orang dengan resiko pada flu burung menurut WHO / WPRO 14 Januari 2004 adalah cuci tanggan sesering mungkin dengan memakai sabun atau desinfektan kadar alkhohol 70 %, memakai alat pelindung perorangan seperti sarung tangan, kacamata, masker bagi pekerja yang di peternakan, memberikan vaksinasi virus flu manusia bagi yang terpapar, dan yang utama adalah mereka yang rentan terkena seperti anak–anak, orang lanjut usia, serta menjauhkan penderita penyakit jantung dari tempat jangkitan. Roni

    0 Komentar

    Belum ada komentar