Sukses

65,6 Juta Wanita Terpapar Asap Rokok

Sekitar 65,6 juta wanita dan 43 juta anak-anak di Indonesia terpapar asap rokok atau menjadi perokok pasif. Mereka pun rentan terkena berbagai penyakit, seperti bronkitis, paru-paru, kanker usus, kanker hati, stroke, dan berbagai penyakit akibat asap rokok.

Sumber : Kompas 12 Juni 2008 -  PDPI Malang. 12/06/08.


Sekitar 65,6 juta wanita dan 43 juta anak-anak di Indonesia terpapar asap rokok atau menjadi perokok pasif. Mereka pun rentan terkena berbagai penyakit, seperti bronkitis, paru-paru, kanker usus, kanker hati, stroke, dan berbagai penyakit akibat asap rokok.

”Angka kematian global akibat rokok pun meningkat setiap tahun,” kata Soewarta Kosen dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jakarta, Rabu (11/6). Tahun 1998, misalnya, angka kematian di dunia akibat tembakau sekitar 4 juta orang. Tahun 2030 diperkirakan meningkat menjadi 10 juta orang.

Di Indonesia, banyaknya warga yang terpapar asap rokok karena sekitar 91,8 persen perokok merokok di rumah, tidak jauh dari istri dan anak-anak mereka. Perokok di Indonesia sebagian besar dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang mengeluarkan 7,4 hingga 12 persen dari pendapatannya untuk membeli rokok. Sekitar 82 persen rokok yang dikonsumsi merupakan rokok keretek produksi Indonesia.

Sekitar 73,3 persen buta huruf di Indonesia, lanjut Kosen, menjadi perokok. Adapun yang pendidikannya lulusan sekolah dasar sekitar 65,9 persen di antaranya menjadi perokok.

Produksi rokok Indonesia pun sangat besar. Tahun 2006, misalnya, sekitar 230 miliar batang rokok diproduksi oleh sekitar 900.000 pekerja, yang 82 persennya adalah wanita. Cukai yang dihasilkan dari tembakau tahun 2005 sekitar Rp 32 triliun. ”Namun, cukai yang dihasilkan ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan biaya kesehatan dan kerugian yang harus ditanggung sekitar Rp 127 triliun,” kata Kosen.

Widyastuti Soerojo, Kepala Badan Khusus Pengendalian Tembakau-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, mengatakan, dampak parah tembakau akan dirasakan perokok sekitar 20 tahun kemudian.

Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, menyatakan, pertanian tembakau hanya menyumbang 0,1 persen terhadap produk domestik bruto. ”Itu pun hanya ada di Jatim, Jateng, dan Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.

    0 Komentar

    Belum ada komentar