Sukses

Pria Insomnia Memiliki Tingkat Angka Kematian

Seringkali kita menganggap remeh insomnia sebagai masalah yang hanya berpengaruh terhadap kesehatan mental. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa insomnia dapat
Oleh : dr. Jessica Florencia

Seringkali kita menganggap remeh insomnia sebagai masalah yang hanya berpengaruh terhadap kesehatan mental. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa insomnia dapat memberikan dampak secara fisik.

Sebuah studi yang telah dilakukan selama 14 tahun dan melibatkan 1741 pria dan juga wanita menunjukkan bahwa pria yang memiliki insomnia memiliki risiko angka kematian 4 kali lebih besar dari pada pria yang memiliki siklus tidur normal  selama 6 jam. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti di Penn State, dr. Alexandros N. Vgontzas dan rekan-rekannya.

Angka kematian bahkan meningkat hingga 7 kali lipat, jika pria yang insomnia tersebut memiliki penyakit diabetes atau hipertensi.

Peningkatan angka kematian ini ditemukan pada mereka yang mengaku mengalami insomnia dan ketika diperiksa di laboratorium tidur menunjukkan bahwa mereka hanya tidur kurang dari 6 jam setiap harinya. Mereka yang mengaku tidak mengalami insomnia namun tidur kurang dari 6 jam setiap harinya tidak menunjukkan peningkatan risiko kematian. Begitu juga dengan mereka yang mengaku mengalami insomnia namun tidur lebih dari 6 jam setiap harinya.

Dr. Vgontzas menyebutkan bahwa insomnia sangat berhubungan dengan masalah fisik sehingga menjadi masalah kesehatan yang sama seriusnya dengan sesak napas di saat tidur.
Hasil penelitian ini datang dari para pria saja sementara. Penelitian terhadap wanita baru dimulai 5 tahun setelah penelitian terhadap pria dimulai. Selain itu, wanita juga memiliki kecenderungan memiliki usia lebih panjang daripada pria, sehingga hasil dari penelitian terhadap wanita belum dapat ditentukan.

Dalam penemuan awal, dr. Vgontzas dan timnya menemukan bahwa baik wanita maupun pria dengan insomnia lebih sering mengalami tekanan darah yang lebih tinggi, diabetes dan defisit neurokognitif jika dibandingkan dengan mereka yang tidur secara normal.

Dr. Lisa Shives, direktur medis di Northshore Sleep Medicine, Evanston, Illinois mengatakan bahwa mereka dengan insomnia mengalami suatu keadaan stress yang naik turun. Ketika tidur, tubuh kita mengistirahatkan diri. Denyut jantung dan tekanan darah menjadi lebih rendah, sistem persarafan berisitirahat. Dan diperlukan 7-8 jam setiap hari untuk mengistirahatkan tubuh manusia. Jika tidak bisa mendapatkan hal tersebut, seseorang menjadi mengalami keadaan stres kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

Untuk itu, insomnia harus ditangani dengan lebih serius. Konsultasi dengan dokter, menyangkut pemilihan obat serta terapi CBT (Cognitive and Behavioural Therapy) sebagai alat terapi psiko-emosional diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Mengatasi insomnia merupakan perpaduan dalam mengontrol pikiran dan juga tubuh manusia.[](JF)

    1 Komentar