Sukses

Sebuah Gerakan Menyelamatkan Ibu Dari Kematian Akibat Melahirkan & Gizi Buruk

Bermula dari terbitan sebuah niat yang beritikad mulia untuk berinisiatif menekan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia, gerakan Selamatkan Ibu mulai dirintis sejak tanggal 1 Juni 2010. Gerakan ini didirikan dengan target ingin mengajak seluruh anggo


Bermula dari terbitan sebuah niat yang beritikad mulia untuk berinisiatif menekan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia, gerakan Selamatkan Ibu mulai dirintis sejak tanggal 1 Juni 2010. Gerakan ini didirikan dengan target ingin mengajak seluruh anggota masyarakat, baik itu masyarakat awam maupun medis, untuk tanggap terhadap masalah tingginya kematian ibu melahirkan dan ikut menyuarakan pengetahuan dan perhatian serta turut serta secara aktif menekan angka kematian ibu melahirkan yang ada di Indonesia.

Masih banyak insan dari segala lapisan masyarakat yang tidak memperoleh landasan pengetahuan kesehatan untuk ibu, terutama persiapan kelahiran yang layak pada khususnya. Hal ini dapat dilihat dari adanya angka tahun 2008 di Indonesia menunjukkan terdapat 228 kematian di setiap 100.000 ibu melahirkan.

Dalam kata lain, diperkirakan seorang ibu dalam wilayah nusantara meninggal dunia setiap 30 menit. Sampai saat ini, Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia masih merupakan yang tertinggi di Asia. Sampai saat ini, Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia masih merupakan yang tertinggi di Asia. Sampai saat ini, Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia masih merupakan yang tertinggi di Asia.

Agaknya situasi ini tidak hanya dijadikan agenda promosi kesehatan oleh pihak otoritas kesehatan saja, dr. M. Nurhadi Rahman, dr. Aditya Kusuma, Sp.OG., dr. Sophia Hage, S dan Dimas Subagio adalah para pelopor gerakan Selamatkan Ibu.

“Gerakan ini mengandalkan promosi kesehatan melalui sosial media Twitter di internet, namun biarpun demikian, sambutannya di masyarakat positif sekali,” ujar dr. M. Nurhadi Rahman, yang tengah menyelesaikan pendidikan kedokteran spesialis kebidanan dan kandungan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Info yang dibagi dalam jaringan sosial tersebut antara lain tentang pentingnya nutrisi untuk ibu hamil, pentingnya keaktifan ibu hamil untuk memeriksakan kandungannya, dan berbagai macam tindakan pencegahan terjadinya ibu meninggal saat melahirkan.

Untuk merealisasikannya, gerakan ini mempunyai beberapa visi dan misi yang berjangka pendek, menengah, dan panjang. Adapun misi jangka pendeknya adalah setiap tanggal 22 di setiap bulannya, gerakan ini akan melakukan sesuatu yang paling sederhana untuk dilakukan namun akan berdampak luas, di antaranya adalah meluaskan slogan “Selamatkan Ibu, Selamatkan Bangsa!” melalui Twitter dari akun @selamatkanibu pada pukul 14.00 secara serentak agar didengar oleh masyarakat luas.

“Gerakan ini cukup hanya mengandalkan semangat membantu, selebihnya untuk urusan dana dan matei lainnya, nomor sekian. Terpenting adalah niat dan semangat,” jelas dr. M. Nurhadi Rahman yang akrab disapa Adi ini.

Selain itu, Selamatkan Ibu juga merencanakan beberapa acara off air untuk meluaskan misi. Misi jangka menengahnya adalah setiap tanggal 22 Desember merancang sebuah acara besar untuk memperingati Hari Ibu Nasional. Sedangkan visi jangka panjang dari gerakan ini adalah angka kematian ibu turun s/d 107/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.

Be a part of the movement and help promote maternal safety. Selamatkan Ibu, Selamatkan Bangsa![](JRA)

Selamatkan Ibu

0 Komentar

Belum ada komentar