Sukses

Herbal: Tak Kenal Maka Tak Sayang

DR. dr. Ernie H Purwaningsih MS adalah seorang dokter lulusan FKUI 1979 yang selama ini aktif dalam penelitian dan pendidikan di bagian farmasi kedokteran. Kecintaannya pada dunia farmasi dan farmakologi mengantarkannya untuk terus mengabdikan diri menj

Oleh: dr. Riska Ismailia Puteri Iskandar

DR. dr. Ernie H Purwaningsih MS  adalah seorang dokter lulusan FKUI 1979 yang selama ini aktif dalam penelitian dan pendidikan di  bagian farmasi kedokteran. Kecintaannya pada dunia farmasi dan farmakologi mengantarkannya untuk terus mengabdikan diri menjadi akademisi dan peneliti  di Bagian Farmasi Kedokteran Universitas Indonesia hingga saat ini.

Mengawali cerita mengenai alasan beliau memilih bidang kedokteran sebagai profesi dalam hidupnya. Ia menceritakan bahwa ia terlahir dari keluarga non eksak. “Keluarga saya banyak yang bergerak di bidang hukum. Namun Ayah menginginkan saya untuk menjadi dokter,” menurutnya. Meskipun beliau lebih senang mendalami bidang farmasi  murni atau masuk Institut Pertanian Bogor (IPB), tetapi akhirnya beliau memutuskan untuk masuk kedokteran.

Selepas lulus menjadi dokter umum pada tahun 1979, sesuai dengan cita-cita awal beliau langsung  masuk. bagian farmasi  kedokteran. Memang  selain farmasi, beliau mengaku juga tertarik dengan bagian parasitologi. Namun mempertimbangkan kesibukannya nanti di bagian parasitologi yang mengharuskan untuk sering ke luar kota dan ditambah saat itu beliau baru saja memiliki anak, maka ia cenderung memilih bagian farmasi kedokteran. Perjalanannya di bidang ini memang tidak pesat, namun perlahan dan pasti. Pada tahun 1986, beliau mengambil S2 di bidang farmakologi yang bertemakan tanaman herbal. Tidak cukup sampai di situ, pada tahun 1998 dilanjutkan dengan mengambil program studi S3 dengan tema drugs delivery system  yang mempelajari cara obat mencapai sel target nya di tubuh.

Menginjak usia 57 tahun, ternyata perjalanan kariernya semakin menanjak. Awal tahun 2009 beliau dipercaya oleh rektor Universitas Indonesia untuk menyusun program studi magister herbal yang baru satu-satunya terdapat di Indonesia dan direncanakan untuk dibuka pendaftarannya pada September 2010.

Sebagai seorang peneliti yang banyak mengetahui mengenai tanaman herbal, beliau berpendapat bahwa herbal di Indonesia sangat terpuruk.  “Semua institusi melakukan penelitian tentang herbal. Terdapat ratusan bahkan ribuan institusi yang sebenarnya melakukan penelitian dengan bahan dan tema serupa. kurang mengerucut dan belum tertata dengan baik,” menurutnya.  “Sebaiknya ada sinergi antara para akademisi , bisnis dan institusi pemerintah, “demikian pendapat beliau.

Meskipun hebal yang identik dengan istilah jamu saat ini  sudah digunakan secara turun temurun beratus-ratus tahun, namun keberadaannya saat ini masih belum diakui sepenuhnya oleh para tenaga kesehatan. “Permasalahan terletak pada belum adanya bukti ilmiah yang mendasari penggunaan jamu dalam penanganan masalah kesehatan. Sayang sekali jamu yang sudah dipakai selama ratusan tahun tidak memiliki data post marketing surveillance.

Berapa juta yang menggunakan, berapa orang yang merasakan khasiatnya, apakah ada efek samping yang dirasakan dan lain sebagainya,”menurutnya. Dengan ditandatangani perjanjian Asian Free Trade Area (AFTA 2010), Indonesia harus bersiap-siap dan melindungi herbal yang terdapat di Indonesia karena negara-negara seperti Cina dan Korea  sudah mulai masuk ke Indonesia. Kelebihan mereka adalah unggul dalam hal data meskipun sebenarnya penelitian yang dilakukan relatif serupa dengan jamu dari Indonesia.
Menjawab permasalahan ini, Menteri Kesehatan dalam Program 100 hari Menteri Kesehatan mencanangkan program scientifikasi jamu. Tujuannya agar jamu yang sudah digunakan ratusan tahun oleh masyarakat memiliki bukti ilmiah.

Menurutnya, terdapat 3 kriteria jenis jamu untuk didaftarkan di Departemen Kesehatan:

  1. Jamu yang sudah dipakai ratusan tahun selama 3 generasi;
  2. Jamu herbal terstandar (diujicobakan ke hewan, dengan farmakinetik dan farmakodinamik) dan 
  3. Fitofarmaka, yang didapat jika telah dilakukan uji klinik. Selain itu, jamu juga harus memenuhi kriteria  aman, berkhasiat, bermutu, dan harga terjangkau.

Beliau juga tidak menampik jika hingga saat ini masih ada industri jamu yang ‘nakal’. “Komposisi yang diproduksi berbeda dengan komposisi jamu ketika didaftarkan,” menurutnya. Di sini terlihat pentingnya peran dari BP POM sebagai badan pengawasan.

Jamu di Indonesia masih harus melewati perjalanan panjang untuk menjadi primadona di negeri sendiri. Semua pihak harus saling bekerja sama untuk menghasilkan produk unggulan nasional, bukan unggulan UI atau unggulan UGM tetapi unggulan nasional. Sehingga produk tersebut kemudian dapat menjadi komoditi ekspor. Sementara di dalam negeri, Departemen Kesehatan sebenarnya sudah memperbolehkan para dokter untuk meresepkan fitofarmaka, namun sayangnya stidak banyak dokter yang melakukannya.

Hal tersebut dapat dikarenakan sosialisasi jenis-jenis fitofarmaka kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang masih dirasakan kurang. Sesuai dengan pribahasa,” tak kenal maka tak sayang.” Selain itu, pada jamu juga harus dilakukan uji toksisitas kronis, untuk mengetahui efek jangka panjang, apakah dapat menimbulkan penyakit kronis. Tidak lupa bahwa masyarakat juga perlu diedukasi mengenai jamu yang aman, karena tidak semua tanaman tradisional aman. Sebagai contoh tanaman kecubung yang mengandung atropin atau digitalis yang memiliki efek pada jantung. Kedua jenis tanaman tersebut memiliki margin of safety ( batas aman) yang sempit, sehingga perlu berhati-hati dalam penggunaannya.

Bila berbicara mengenai tanaman herbal dengan beliau memang selalu menarik. Beliau selalu terlihat antusias dan bersemangat dalam menceritakan mengenai herbal Indonesia beserta potensinya. Sesuai dengan moto hidupnya yaitu cIntai pekerjaan dan lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Beliau juga selalu berusaha untuk tidak menunda pekerjaan. Motto hidup ini dirasakannya sangat membantu dalam menyelesaikan pekerjaannya sehari-hari.[](RIPI)

 

DR. dr. Ernie H Purwaningsih MS

0 Komentar

Belum ada komentar