Sukses

Jujur, Hidup Secukupnya, Menolong Orang Lain, Membina Kehidupan Keluarga dan Sosial yang Harmonis

Beliau adalah penulis dua buku yang memantau pergerakan sejarah Jakarta tahun 1950 – 1960. Seorang dokter yang memiliki cakrawala spektrum luas terhadap pergerakan sosial, kultur masyarakat serta perkembangan budaya kota metropolitan.

Beliau adalah penulis dua  buku yang memantau pergerakan sejarah Jakarta tahun 1950 – 1960. Seorang dokter yang memiliki cakrawala spektrum luas terhadap pergerakan sosial, kultur masyarakat serta perkembangan budaya kota metropolitan.

Pria yang masih terlihat bugar pada usianya saat ini membagi kiat sehatnya dengan cara makan berimbang secukupnya, olahraga secara teratur, mengelola waktu dan emosi dengan baik serta menjauhi segala sesuatu nyang akan mengurangi kesehatan seperti merokok dan bekerja berlebihan.

Kenangannya semasa menjalani studi bangku pendidikan kedokteran di Jakarta dituangkan dalam buku yang berjudulkan “Jakarta 1950an” dan “Jakarta 1960an” dengan mendalam. Dari kacamata kesehatan, beliau melihat perkembangan kesehatan di Jakarta sejak tahun 1950-an, terdapat kemajuan sekaligus masalah.

Kemajuan yang ada melingkupi meningkatnya sarana pelayanan kesehatan. Namun masalah yang ada adalah terutama karena jumlah penduduk yang meningkat dengan pesat sehingga menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti daerah kumuh padat perkotaan, kebersihan lingkungan, polusi terutama udara Jakarta oleh asap kendaraan bermotor, juga pencemaran air termasuk air tanah, kebiasaan merokok, pola makanan banyak fast food sehingga kegemukan meningkat. Untuk ini semua program kesehatan masyarakat perkotaan untuk kota Jakarta harus digalakkan.

“Untuk ini semua program kesehatan masyarakat perkotaan untuk kota Jakarta harus digalakkan,” tambah beliau. Masalah-masalah kesehatan yang ada sangat relevan dengan isu solusi pembiayaan kesehatan yang ideal untuk masyarakat.

 Menurut Anda, program pembiayaan kesehatan yang ideal untuk masyarakat Indonesia berupa seperti apakah?

Program pembiayaan kesehatan yang ideal untuk masyarakat Indonesia ialah yang dikenal sebagai Program Jaminan Kesehatan atau di Amerika disebut Managed Care. Yaitu suatu bentuk asuransi dengan sistem prabayar (prepayment)  berdasarkan kapitasi (per kepala). Bentuk asuransi ini berbeda dengan asuransi konvensional yang sistemnya pasca bayar berdasarkan biaya yang dibayar ke dokter/RS. Sehingga sering tidak disebut sebagai "asuransi" atau insurance, tetapi lebih sebagai jaminan kesehatan atau managed care.

Secara ringkas, Program Jamkes ini akan merekrut dokter-dokter umum layanan primer yang di kita sudah disepakati sebagai dokter keluarga (di Belanda Huisarts, di Jerman Hausartz dan di Inggris dan negara Commonwealth GPs). Masing-masing dokter keluarga akan mencakup atau menangani sejumlah keluarga/orang di sekitar tempat prakteknya. Biasanya sekitar 3.000-4.000 orang atau sekitar 850 keluarga. Badan Pengelola Jamkes akan membayar dimuka kepada masing-masing dokter itu sebesar misalnya Rp.5.000,- per kepala setiap bulannya. Biaya per kepala ini harus dinegosiasikan antara Badan Pengelola dan masing-masing dokter, tergantung misalnya senioritas dan lokasi dokter bersangkutan.

Jadi dokter tersebut akan menerima sekitar Rp.15 juta hingga Rp.20 juta setiap bulannya. Apakah masyarakat yang menjadi tanggungannya itu mau datang sering atau tidak, bayaran dimuka itu tetap besarnya sebegitu setiap bulannya. Karena sudah dibayar dimukia, tentunya dokter bersangkutan akan lebih senang kalau pasien tanggungannya itu tidak sering datang sehingga tidak capek. Bagaimana supaya pasien itu jadi tidak sering datang? Yaitu kalau dokter tersebut melakukan upaya-upaya promotif preventif sehingga pasien tanggungannya tersebut jadi lebih sehat dan tidak akan sering datang berobat. Jadi, Program Jamkes ini berorientasi lebih kepada upaya agar para tertanggung menjadi sehat atau yang sering disebut sebagai paradigma sehat. Ini berbeda dengan asuransi kesehatan konvensional yang dokter dibayar hanya kalau tertanggung jatuh sakit dan berobat ke dia.

Program Jamkes ini akan menekan biaya kesehatan yang dikeluarkan masyarakat, karena dokter keluarga di layanan primer akan menjadi Gate Keeper sehingga pasien tidak akan banyak pergi ke pelayanan sekunder dan tersier di RS yang biayanya mahal. Dokter keluarga akan memberikan pelayanan yang komprehensif dan holistik meliputi berbagai masalah kesehatan/penyakit yang banyak terdapat di masyarakat. Tidak seperti sekarang dimana banyak pasien langsung pergi ke spesialis atau RS sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi mahal. Berdasarkan pengalaman di negara-negara maju yang sudah menerapkan sistem asuransi Jamkes ini, 70-80% dari masalah kesehatan/penyakit cukup ditangani di layanan primer.

Pasien tidak bisa langsung pergi ke RS/spesialis, kecuali dirujuk oleh dokter keluarganya. Pasien yang dirujuk berobat ke RS akan dibayar berdasarkan perjanjian antara RS dan Badan Pengelola Jamkes sesuai dengan tindakan/pengobatan dan biaya perawatan yang disepakati bersama. Jadi setiap RS harus mempunyai standard pembiayaan yang biasanya berupa paket untuk tiap-tiap masalah kesehatan. Jadi misalnya operasi usus buntu, mempunyai paket pembayaran misalnya Rp.5 juta keseluruhan.

Program Jamkes ini harus bersifat universal, artinya mencakup seluruh masyarakat Indonesia. Ini harus diatur melalui UU yang sebenarnya sudah ada yaitu UU SJSN tahun 2004. Hanya saja sejak tahun 2004 itu tidak ada pelaksanaannya. Sistemnya juga dengan cross subsidy (subsuidi silang) yaitu masyarakat kelas atas membantu masyarakat kelas bawah. Premi untuk masyarakat atas akan lebih tinggi untuk membantu masyarakat miskin.

Tentunya misi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang ada untuk kemudiannya akan memberikan keuntungan tersendiri pada perekonomian Indonesia memasuki Area Free Trade 2010 (AFTA 2010).

Berkenaan dengan agenda misi bidang Kesehatan Masyarakat, apakah ada penyusaian kembali pada agenda yang ada terkait proses Indonesia memasuki era AFTA 2010?

Berkenaan dengan AFTA 2010, kita harus sudah mulai membenahi sistem pelayanan kesehatan kita khususnya sistem Jamkes seperti diatas secara sungguh-sungguh. Terutama meningkatkan kualitas praktek dokter umum kita menjadi dokter keluarga yang pelayanannya komprehensif dan holistik. Untuk ini perlu dilakukan pelatihan bagi para dokter-dokter umum untuk bisa menjadi dokter keluarga seperti itu. Dengan begini, kita bisa bersaing/mengalahkan dokter-dokter asing yang mungkin masuk untuk praktek di Indonesia. Juga pelayanan di RS kita harus diperbaiki terutama manajemennya. Untuk ini perlu digalang kerjasama yang erat antara Depkes, Konsil Kedokteran (KKI), Asosiasi Pendidikan Kedokteran (AIPKI), IDI dan Perusahaan Asuransi Kesehatan sepert Askes, Jamsostek, Asabri, Taspen.

Jika memang demikian adanya fokus pembenahan saat ini sepantasnya digerakkan, maka apakah dapat diprediksi isu kesehatan yang akan diketengahkan pada agenda Pilpres 2014?

Isu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia harus menjadi agenda penting sama seperti di AS misalnya. Tuntutan akan adanya universal coverage health insurance bagi seluruh rakyat Indonesia harus diagendakan. Terutama untuk mencapai MDGs yang ditargetkan harus dicapai di tahun 2015.

Tak lebih, semua yang dipikirkan oleh beliau semata untuk mengaplikasikan motto hidupnya, “Adalah bagaimana menjadikan diri saya berguna/bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat/orang lain, dan prinsip hidup saya adalah jujur, hidup secukupnya, menolong orang lain, membina kehidupan keluarga dan sosial yang harmonis,” jawabnya ketika ditanyakan prinsip hidup yang senantiasa dipegang teguh hingga membesarkan dirinya seperti saat ini.[](DA)

Prof. Dr. Firman Lubis, MPH

0 Komentar

Belum ada komentar