Sukses

Berikan kemampuan terbaik bagi orang banyak

Dr. Budi Iman Santoso merupakan seorang dokter kebidanan dan kandungan lulusan FKUI tahun 1987. Pada usianya yang terbilang cukup muda, kini beliau telah menjabat sebagai seorang Kepala Departemen Kebidanan dan Kandungan FKUI RSCM dan sebagai seorang staf

Dr. Budi Iman Santoso merupakan seorang dokter kebidanan dan kandungan lulusan FKUI tahun 1987. Pada usianya yang terbilang cukup muda, kini beliau telah menjabat sebagai seorang Kepala Departemen Kebidanan dan Kandungan FKUI RSCM dan sebagai seorang staf pengajar divisi uroginekologi rekonstruktif Departemen Kebidanan dan Kandungan FKUI RSCM.

Tidak ada alasan yang spesifik bagi dirinya ketika ditanya alasan utama untuk menerjunkan diri menjadi seorang dokter. Bahkan diakui olehnya bahwa beliau sebenarnya lebih berminat menjadi ahli elektro. Namun karena permintaan orang tua yang mengharapkan dirinya menjadi seorang dokter, maka dengan ikhlas beliau menuruti keinginan orang tuanya. Menurutnya, tidak ada cara lain untuk membalas budi orang tua selain dengan menuruti keinginan mereka.

Ternyata, harapan kedua orangtuanya tidak sia-sia. Dr.Budi Iman Santoso mampu melewati pendidikan kedokteran dengan lancar dan mampu menjadi dokter kandungan dan kebidanan yang berguna bagi orang banyak. Dimulai dengan pengabdiannya di RS Bentul selama 2 tahun untuk meningkatkan kualitas pelayana di RS tersebut hingga kini beliau menjabat sebagai kepala departemen kebidanan dan kandungan FKUI RSCM. Kesuksesan tersebut didapatkan beliau bukan tanpa kerja keras. Setiap tugas yang diberikan kepadanya selalu dilakukannya dengan sebaik-baiknya dan penuh keikhlasan.

Menurut bapak dari 3 orang anak ini, yang dikatakan sebagai orang sukses bukanlah seseorang dengan harta yang banyak, namun orang sukses adalah orang yang memiliki suatu keterampilan yang terbaik dimana hasilnya dapat dirasakan oleh orang banyak. Dengan memiliki keterampilan yang baik, tanpa disadari maka rezeki akan turut mengikuti. Karena itu, lakukanlah yang terbaik dan jangalah mengharapkan pamrih terhadap setiap pekerjaan yang dilakukan.

Melihat angka kematian ibu di Indonesia yang masih tinggi beliau mengungkapkan bahwa hal tersebut terkait dengan masih kurangnya pengetahuan masyarakat serta masih kurangnya jumlah dokter kebidanan dan kandungan di indonesia.

Mengenai adanya perbedaan angka kematian ibu yang kontroversial antara versi DEPKES (228/100.000 kelahiran hidurp) dengan versi UNDP (420/100.000 kelahiran hidup) menurutnya itu adalah hal yang wajar karena keduanya menggunakan cara pengukuran, cara analisa dan cara pemilihan sample yang berbeda sehingga didapatkanlah hasil yang berbeda.

“Perbedaan tersebut tidak perlu terlalu diperdebatkan, karena kedua hasil tersebut tetap menunjukkan angka kematian ibu yang tinggi di Indonesia. Yang penting untuk dipikirkan saat ini adalah bagaimana usaha yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kematian tersebut”, ungkap pria yang hobi membaca dan mendengarkan musik ini.

Disamping tingginya angka kematian ibu, tingginya angka kanker leher rahim di Indonesia juga cukup mengusik pikiran beliau. Menurutnya, cara terbaik untuk menurunkan angka kematian karena kanker leher rahim adalah dengan meningkatkan usaha promotif dan preventif.

Usaha promotif yang dapat dilakukan dengan meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai cara penularan virus HPV sementara  usaha preventif yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan vaksinasi HPV. Menurutnya, tanpa bantuan dari pemerintah untuk menanggung biaya vaksinasi di RS Pemerintah, sulit untuk meningkatkan upaya pencegahan kanker leher rahim di Indonesia.

“Memang masih banyak kekurangan dalam sistem kesehatan di Indonesia, namun saya percaya suatu hari nanti Indonesia akan mencapai masa kejayaannya”

 

dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K)

0 Komentar

Belum ada komentar