Sukses

Bidan Merupakan Sahabat Perempuan

Bidan berperan dalam membantu menjaga status kesehatan ibu dan bayi. Sekaligus menjadi peran kunci dan menjadi ujung tombak dalam usaha menekan masalah tingginya angka kematian bayi dan ibu melahirkan di Indonesia. Bidan menolong persalinan sesuai prosedu

Indonesia masih berusaha keras mengatasi masalah masih tingginya angka kematian ibu (AKI). Sedikitnya setiap dua jam, terdapat dua persalinan dengan kematian ibu melahirkan. Fenomena memprihatinkan ini bukan urusan sepele, dan bukan sembarangan orang pula yang dapat bekerja keras untuk menekan angka kematian ibu dan bayi ketika melahirkan. Salah satunya, DR. Hj. Harni  Koesno, MKM, Ketua Bidan Ikatan Bidan Indonesia.

Bidan berperan dalam membantu menjaga status kesehatan ibu dan bayi. Sekaligus menjadi peran kunci dan menjadi ujung tombak dalam usaha menekan masalah tingginya angka kematian bayi dan ibu melahirkan di Indonesia. Bidan menolong persalinan sesuai prosedur, mengontrol kondisi bayi, memastikan nutrisi ibu dan bayi terpenuhi, dan mengusahakan prioritas kesehatan ibu dan bayi diatas segalanya.

“Kami telah mengusahakan sejak ulang tahun Ikatan Bidan Indonesia pada 2009 lalu, untuk melakukan langkah-langkah mempercepat pencapaian Millennium Development Goals (MDGs / Sasaran Pembangunan Milenium). Kami menaruh fokus pada MDG 4 dan 5 (MDG 4: Meningkatkat Kesejahteraan Anak; MDG 5: Meningkatkan Kesejahteraan Ibu– Red) tanpa meninggalkan langkah peraihan MDG 3 dan 6 (MDG 3: Persetaraan Gender; MDG 6: Menekan Angka Penularan Penyakit Seks dan Wabah lainnya – Red),” jelas Ibu Harni Koesno.

Komitmen luhur para bidan di Indonesia bukan sembarang ambisi. Para bidan telah dilatih sebelumnya untuk menunjang percepatan pencapaian gol-gol yang ditargetkan.

Hasilnya? Penurunan angka kematian terjadi di Depok pada dua tahun terakhir ini. Jika di Depok pada tahun lalu terdapat 68 ibu yang meninggal dunia dari 26.000 ibu yang melahirkan, kini telah menurun pada akhir-akhir ini menjadi 13 orang dari 32.000 ibu yang melahirkan.

Walaupun sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari angka 307 per 100.000 kelahiran hidup, angka tersebut masih dalam ambang batas tinggi. Karena pada target MDG, angka kematian pada 2015 diharapkan turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.

Hambatan agaknya dirasa masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya eksistensi bidan di Indonesia. Fenomena yang banyak dijumpai di beberapa lapisan masyarakat kelas atas lebih memilih melahirkan dibantu oleh dokter obstetric genokology Mayoritas masyarakat yang banyak terdapat dominan di kelas menengah ke bawah lebih memilih dukun beranak. Padahal, bidan sendiri sejatinya menempati posisi sebagai sahabat kaum perempuan dalam aspek kesehatan.

“Kita nggak bisa nutup mata, Mas. Instansi lembaga usaha yang memberikan fasilitas kesehatan melahirkan pada karyawannya pun lebih memilih dokter obstetric genokology. Tapi walaupun demikian, kita masih optimis. Bidan adalah sahabat perempuan,” tutur Ketua IBI yang memiliki kegemaran hobi jalan-jalan ini.

“Syukur hobi saya travelling, seperti belum lama ini saya mengunjungi teman-teman bidan daerah di lereng gunung Slamet, Jawa Tengah. Disana itu terdapat 3 desa yang memiliki angka persalinan 28 hingga 30 persalinan setiap bulannya. Sementara suntik KB terdapat 100 peserta KB suntik. Angka seperti ini harus diperhatikan secara intens dalam hal kertejangkauan masyarakat terhadap kebutuhan pelayanan KB,” tukas perempuan ramah ini.[](DA)

 

DR. Hj. Harni Koesno, MKM

0 Komentar

Belum ada komentar