Sukses

Pertemuan pertama antara petugas kesehatan dengan pasien adalah 'moment of truth'

Salah satu di antara dua guru besar tersebut berasal dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI, yaitu Prof. Dr. dr. Endang Sri Murtiningsih Basuki, MPH, atau yang lebih akrab dipanggil Prof. Endang. Pembawaannya yang sangat ramah dan keibuan membuat

Beberapa waktu lalu, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) kembali berbahagia menyambut pengukuhan dua orang guru besar yang sangat berdedikasi di bidangnya.

Salah satu di antara dua guru besar tersebut berasal dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI, yaitu Prof. Dr. dr. Endang Sri Murtiningsih Basuki, MPH, atau yang lebih akrab dipanggil Prof. Endang. Pembawaannya yang sangat ramah dan keibuan membuat banyak orang di sekitar beliau merasa nyaman, seolah terhanyut oleh aura kegembiraan yang dipancarkan oleh Prof. Endang siang itu.

Dalam kesehariannya, nenek dari Mariana Salma Saraswati ini memang terkenal dengan keramahan dan keceriaannya. Bahkan di usianya yang telah menginjak dekade ke-6, semangat beliau tidak kalah dengan semangat para generasi muda di sekitarnya.

Meski dengan berbagai pencapaiannya selama berkiprah lebih dari 30 tahun menjadi dokter, beliau pun tidak lantas berbangga diri. Saat berhadapan dengan teman sejawat baik yang seusia maupun yang berusia lebih muda, beliau selalu menampakkan pribadi yang sederhana dan rendah hati.

Begitu pula saat berhadapan dengan pasien. Menurut beliau, pasien dan/atau keluarga pasien merupakan klien unik, yang perasaan serta emosinya tidak dapat disamakan dengan klien pada umumnya. Tidak seperti klien yang hendak membangun rumah, membeli mobil, atau menikahkan anaknya dan bersedia membuat foto prapernikahan dengan biaya spektakuler, klien dalam pelayanan kedokteran memiliki 3 hal yang berkecamuk dalam pikirannya.

Hal pertama adalah mengenai penyakit yang diderita, antara lain apakah penyebabnya, dapatkah disembuhkan, berapa lama dapat bertahan hidup, bagaimana dengan nasib keluarga setelah ditinggalkan, dsb.

Selanjutnya, setelah mengetahui penyakit yang diderita, tentu diperlukan biaya dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mengatasi penyakit tersebut. Faktanya, sebagian besar penduduk Indonesia tidak terlindung oleh jaminan kesehatan yang memadai.

Sebagai contoh adalah pada kasus gagal ginjal, berapa besarkah persentase penyandang gagal ginjal yang dapat memperoleh fasilitas cuci darah tanpa harus merogoh uang langsung dari saku masing-masing? Jika keluarga miskin (Gakin) masih dapat tersenyum dan bercanda saat mengantarkan salah satu anggota keluarga mereka untuk cuci darah, maka keluarga yang berpenghasilan pas-pasan dan tidak terlindung oleh jaminan kesehatan harus berpikir lebih keras bagaimana cara membiayai cuci darah di hari-hari berikutnya.

Kemudian hal yang tidak kalah mengkhawatirkan pasien adalah mengenai tipe dokter yang akan dihadapinya. Tentu pasien telah mendengar banyak keluhan dari teman atau bahkan mengalami sendiri bagaimana perilaku tidak baik sebagian petugas kesehatan. Bagi dokter, konsultasi mungkin hanya merupakan bagian dari rutinitas harian, namun bagi pasien dan keluarganya konsultasi dapat merupakan hal yang sangat penting dan seringkali mengkhawatirkan.

Dengan demikian pihak yang paling menyadari kesenjangan komunikasi antara petugas kesehatan dengan klien adalah pihak klien itu sendiri, karena mereka memiliki masalah dan harapan yang ingin dipenuhi oleh petugas kesehatan, di antaranya adalah mendapatkan kenyamanan dan kebutuhan untuk dimengerti.

Hal ini hanya dapat dicapai dengan komunikasi yang baik, sayangnya kebutuhan ini justru sulit untuk dipenuhi oleh petugas kesehatan karena beberapa alasan, seperti keterbatasan waktu, tenaga, masalah efisiensi, dsb.

Padahal berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa hasil pengobatan akan menjadi lebih baik jika petugas kesehatan menunjukkan empati yang baik pula sehingga kecemasan, perasaan kesendirian, depresi, atau kemarahan pasien dapat diturunkan.  

Lebih lanjut lagi beliau menjelaskan bahwa pertemuan pertama antara petugas kesehatan dengan klien merupakan salah satu “moment of truth”, yaitu periode emas saat petugas kesehatan berpeluang mendapat kepercayaan klien untuk dapat memberikan pertolongan.

Di negara tetangga, waktu yang disediakan untuk pertemuan pertama umumnya lebih lama daripada pertemuan berikutnya. Klien dapat mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin untuk memperoleh informasi yang diinginkan. Bahkan pada pertemuan kedua klien diharapkan telah menyiapkan beberapa pertanyaan sehingga kepuasan klien dapat terpenuhi.

Dampak dari lemahnya komunikasi antara petugas kesehatan dengan klien adalah larinya pasien ke teknik pengobatan alternatif yang efektivitas dan keamanannya tidak dapat dipertanggungjawabkan, atau fasilitas kesehatan lain di luar negeri. Data menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah pasien yang berobat ke luar negeri semakin meningkat. Lebih dari 100 ribu warga Indonesia berobat ke Singapura, Malaysia, dan Guang Zou setiap tahunnya. General Manager National Healthcare Group International Business Development Unit (NHG IBDU) mengungkapkan bahwa sebanyak 50% pasien internasional yang berobat ke Singapura adalah warga Indonesia.

Sepertinya tidak hanya mereka yang “sangat beruang” yang mencari pelayanan kesehatan ke luar negeri, bahkan golongan menengah pun rela menjual harta benda mereka untuk berobat ke luar negeri. Meski tidak tersedia data yang resmi dari pemerintah, jumlah devisa negara yang tersedot diperkirakan mencapai US$600 juta setiap tahunnya.

Berangkat dari keprihatinannya terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia, beliau mengangkat isu komunikasi ini sebagai topik utama dalam pidato pengukuhan beliau sebagai guru besar tetap FKUI beberapa pekan lalu.

Dalam pidatonya yang berjudul: “Komunikasi Petugas Kesehatan dengan Klien dalam Pelayanan Kedokteran di Indonesia”, beliau menekankan pentingnya kualitas komunikasi yang terjadi antara dokter dengan pasien ataupun antara dokter dengan keluarga pasien.

Dalam kesempatan siang itu, Prof. Endang juga mengajak para dokter dan pengajar FKUI yang hadir untuk bekerja sama menghadapi tantangan dalam bidang komunikasi kesehatan.

Tantangan yang cukup berat mengingat hambatan sebenarnya bukanlah berada di luar, namun berada dalam diri individu masing-masing. Pertanyaan selanjutnya adalah: “maukah kita berubah untuk masa depan generasi penerus yang lebih baik?

Maukah kita berubah untuk memberikan layanan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia? Maukah kita berubah untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat?”.

“Hendaknya kita dapat menumbuhkan “belas-kasih” kita dengan senantiasa menganggap pasien adalah keluarga kita sendiri. Selalu berempati setiap berhadapan dengan pasien atau mitra kerja akan menghasilkan luaran yang sangat membahagiakan.

Dan pada akhirnya, derajat kesehatan di tanah air tercinta Indonesia juga turut meningkat”, ucap profesor yang pernah menjadi konsultan penelitian John Hopkins University serta konsultan pengembangan modul dan film pelatihan komunikasi interpersonal dari Church World Service.[]SO

 

Prof. Dr. dr. Endang Sri Murtiningsih Basuki

RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI
Nama lengkap:
Prof. Dr. dr. Endang Sri Murtiningsih Basuki, MPH
Tempat dan tanggal lahir    :
Solo, 21 Agustus 1946
Agama:
Islam
Status pernikahan:
menikah,
dianugerahi 3 orang anak

RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL
1971:
Lulus dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
1980:
Master of Public Health, School of Public Health, University of   California,
Berkeley

2003:
Lulus program pascasarjana strata 3, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia

RIWAYAT PENDIDIKAN NON-FORMAL
27-30 April 2009
National Communication Skills Teaching Course”. A Four Day Residential Course for Undergraduate & Postgraduate Communication Teachers, Cambridge, United Kingdom
2005
Pelatihan e-learning
November 1996
Training on Cancer Epidemiology, The Second Annual Jakarta International Epidemiology Course for Clinicians, Jakarta
Mei 1992
HIV Risk Reduction Counseling Training of Trainers Program conducted by Indonesian Medical Association in collaboration with AED/AIDSCOM, Jakarta
Februari 1992
HIV Risk Reduction Counseling Training Program conducted by Indonesian Medical Association in collaboration with AED/AIDSCOM, Jakarta
1990
Pelatihan Konseling HIV/AIDS, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
1990
Training in Epidemiology of AIDS, conducted by University of Indonesia in collaboration with UCLA, Jakarta
1990
Kursus Penyegar Penerapan Epidemiologi dalam Penelitian Kedokteran, Jakarta
1987
Training on Qualitative Method conducted by NFPCB (BKKBN) and University Research Corporation, Jakarta
26 November-10 Desember 1984
Latihan & Lokakarya Metodologi Penelitian Morbiditas & Mortalitas Bayi & Anak
1983
Training on Program Management on Human Reproduction, JHPIEGO, Baltimore
1-6 November 1974
Penataran tentang Usaha-usaha Penanggulangan Masalah Narkotika di Wilayah DKI Jakarta
2 Januari-30 Juni 1974
Penataran di Bidang Epidemiologi dan Statistik Kedokteran

RIWAYAT JABATAN STRUKTURAL
2007-sekarang
Ketua Subdepartemen Administrasi dan Manajemen Kedokteran, Departemen
Ilmu Kedokteran Komunitas
1986-1990
Koordinator Penelitian, Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu
Kedokteran Pencegahan FKUI
1982-1986
Koordinator Pengabdian Masyarakat, Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan
Ilmu Kedokteran Pencegahan FKUI
1980-1987
Kepala Puskesmas Pendidikan FKUI Kelurahan Kayu Putih
1974-1977
Kepala Rumah Bersalin Pembina Kayu Putih/Kepala Puskesmas Kayu Putih

RIWAYAT JABATAN FUNGSIONAL
Juni-Oktober 2010
Konsultan WSLIC-2, KEMENKES/World Bank
Maret 2010-sekarang
Anggota Kelompok Kerja Pendidikan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)
Maret-Desember 2009
Mewakili FKUI/UI dalam Tim Evaluasi Kinerja Pemprov DKI Jakarta tahun 2005-2009, Bappenas
2009
Anggota tim pengajar peserta Pelatihan Dokter dari Afganistan
2007 dan 2009
Konsultan penelitian: “Evaluation of the Use of MCH Handbook, Kabupaten Garut”. Tahap pre-intervention dan post-intervention.
2008-sekarang
Pembimbing dan pengajar disertasi mahasiswa program doktor FKUI
2008-sekarang
Anggota Senat Akademik Fakultas
2008-sekarang
Ketua Modul Empati, Bioetika untuk Pengembangan Pribadi dan Profesi Kedokteran dalam Konteks Humaniora
2008
Anggota tim penilaian
kurikulum 2005 FKUI
2008
Staf pengajar FK Universitas Tanjungpura, Pontianak
2008
Staf pengajar FK Universitas Abdurrab, Pekanbaru
2007-sekarang
Staf pengajar pascasarjana, Program Spesialis Kedokteran Okupasi
2006-sekarang
Pembimbing akademik mahasiswa pascasarjana program Magister Kedokteran Okupasi
2006
Principal Investigator in Health Sector Support Program Baseline Assessment in NTB and NTT. Step 1, Desk Study, DEPKES dan GTZ
2005-sekarang
Staf pengajar mahasiswa FKUI kelas Internasional
2003-sekarang
Staf pengajar pascasarjana, Program Magister Kedokteran Okupasi
2001-2005
Konsultan penelitian, John Hopkins University Bloomberg
2001
Konsultan pengembangan modul dan film pelatihan komunikasi interpersonal, Church World Service
2000-2002
Staf pengajar D3 Keperawatan, FKUI
1997-2003
Staf pengajar program pascasarjana UI, Epidemiologi
1995-1997
Koordinator/Peneliti Tim Knowledge, Attitude, Behavior, Practice pada penelitian HIV/AIDS di Kramat Tunggak, Jakarta Utara
1988-sekarang
Pembimbing tesis mahasiswa pascasarjana
1987-1990
Peneliti utama penelitian multisenter: “Improving the Acceptance and Quality of Voluntary Surgical Contraception Services through the Identification, Screening, Referral and Follow-up of Voluntary Surgical Contraception Clients”. An Operational Research. Kerja sama Perkumpulan Kontrasepsi Mantap dengan University Research Corporation dan dibiayai oleh USAID.
1986-1990
Kepala Proyek Klinik Keluarga Berencana Perkotaan di Jakarta, Surabaya, dan Medan, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat bekerja sama dengan the Pathfinder
1981-1985
Master trainer, Badan Keluarga Berencana Nasional
1974-sekarang
Pembimbing tesis mahasiswa FKUI kelas Regular
1974-1979
Staf pengajar FK Universitas Trisakti
1974-1977
Staf pengajar Sekolah Perawat RSCM
Staf pengajar Akademi Perawat

RIWAYAT ORGANISASI PROFESI
2004:
Anggota Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI)
1991-1992:
Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi
Indonesia (POG)
1986-1990:
Bendahara II Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Jakarta
1976:
Anggota Ikatan Ahli Kesehatan masyarakat Indonesia (IAKMI), Jakarta
1972:
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

0 Komentar

Belum ada komentar