Sukses

Berperang Melawan Kecacatan

Peran Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Bidang ilmu ini diperlukan dalam penanganan berbagai kondisi sakit atau penyakit, baik yang terpapar komplikasi timbulnya kecacatan atau tidak. Perannya dalam mempertahankan at
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) kembali mengukuhkan dua orang guru besar tetap. Bersamaan dengan dikukuhkannya Prof. Dr. dr. Endang Sri Murtiningsih Basuki, MPH sebagai guru besar tetap dalam bidang Ilmu Kedokteran Komunitas, Prof. Dr. dr. Angela Bibiana Maria Tulaar, SpKFR(K) dikukuhkan sebagai guru besar tetap dalam bidang Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Pengukuhan tersebut dilakukan di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Sabtu (26/6/2010).

Peran Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Bidang ilmu ini diperlukan dalam penanganan berbagai kondisi sakit atau penyakit, baik yang terpapar komplikasi timbulnya kecacatan atau tidak. Perannya dalam mempertahankan atau memulihkan kapasitas fungsi seseorang yang karena penyakitnya terpaksa harus menjalani tirah baring yang lama juga tidak dapat diremehkan.

Hari itu, Prof. Angela membawakan pidato pengukuhan yang berjudul “Peran Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dalam Membangun Masyarakat Sehat, Produktif dan Berkualitas”. Beliau mengawali pidatonya dengan menyebutkan bahwa berdasarkan data yang dimiliki oleh WHO, tercatat ada 650 juta penduduk dunia yang hidup dengan kecacatan dan disabilitas. Bahkan di Indonesia, diwakili oleh data di Departemen Rehabilitasi Medik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, tercatat ada 16.677 pengunjung dengan gangguan muskuloskeletal selama tahun 2009.

Kecacatan merupakan istilah umum yang seringkali dipakain untuk menggambarkan kelainan kemampuan atau keterbatasan fisik seseorang. Lebih dalam lagi, Prof. Angela menambahkan, “Dalam Ilmu kedokteran fisik dan rehabilitasi, sesungguhnya, kecacatan merupakan keterbatasan seseorang dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-harinya, serta menghambat orang tersebut dalam menjalankan peran dan keterlibatannya pada berbagai situasi kehidupan di masyarakat.”

Wanita yang sepanjang hidupnya aktif memberikan kontribusi untuk dunia kesehatan ini melanjutkan, “Peran kedokteran fisik dan rehabilitasi sendiri adalah sedini mungkin memberikan pelayanan holistik kepada seseorang terhadap masalah atau gangguan fisik yang dihadapi agar tetap dapat berfungsi optimal dan mandiri.”

Prof. Angela menegaskan bahwa sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran, Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi memfokuskan keilmuannya untuk mengoptimalkan kemampuan fungsional seseorang (human functioning), terutama dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Lebih jauh lagi menjelaskan peran dokter spesialis KFR, Prof. Angela menuturkan bahwa pada dasarnya, seorang dokter spesialis KFR memandang pasien dengan gangguan fungsi bukan dari ketidakmampuan orang tersebut, tetapi fungsi apa yang masih dimiliki untuk dioptimalkan agar mampu melakukan ativitas fungsional yang maksimal.

“Pelayanan rehabilitasi juga tidak lagi diletakkan pada akhir suatu pelayanan kesehatan. Upaya pencegahan kecacatan kini dilaksanakan dalam berbagai tingkatan sehingga sifatnya adalah promotif, preventif, dan kuratif,” papar beliau.

Menjelang akhir pidatonya hari itu, Prof. Angela menyebutkan mengenai pentingnya pengetahuan mengenai ilmu kedokteran fisik dan rehabilitasi sehingga perlu diperkenalkan sejak awal pendidikan kedokteran. Jumlah spesialis KFR pun masih sedikit, padahal, angka kecacatan yang sedemikian tinggi saat ini membutuhkan jumlah sumber daya yang tinggi dan berkualitas untuk menanganinya. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang kecacatan, terutama pencegahannya perlu ditingkatkan.

Menutup pidatonya, Prof Angela mengingatkan mereka yang berkiprah di dunia medis untuk terus menghormati dan memberikan pelayanan terbaik penuh kasih sayang kepada semua pasien. Dan bagi mereka yang sedang mempelajari dan mendalami ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi untuk terus belajar menguasai semua kompetensi bidang ilmu tersebut agar dapat diterapkan dengan optimal.

Prof. Dr. dr. Angela Bibiana Maria Tulaar, SpKFR(K)

RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI
Nama:
Prof. Dr. dr. Angela Bibiana Maria Tulaar, SpKFR (K)
Tanggal L ahir:
Ujung Pandang, 14 Februari 1948
Agama:
Katolik
Status:
Menikah, dianugerahi 2 anak

 RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL
Program Pasca Sarjana Strata 3:
Jurusan Kedokteran Universitas Indonesia 2004
Program Pendidikan Dokter Konsultan:
Departemen Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
1999

Program Pendidikan Dokter Spesialis:

Physical Medicine and Rehabilitation Specialist, Faculty of Medicine and Surgery, University of Santo Tomas, Manila, The Philippines
1984

Lulus Pendidikan Kedokteran

Doctor of Medicine (MD), Faculty of Medicine & Surgery, University of Santo Tomas, Manila, The Philippines
1975

RIWAYAT PENDIDIKAN NON-FORMAL

2010

Asian NMO Advocacy Initiative in Hemophilia, WFH, Manila

2009
Kursus PE KERTI, UI Jakarta

2008
Course on Musculoskeletal Ultrasonography, Jakarta

2006
Kursus AA,UI Jakarta

2005
Workshop Assessment & Treatment of Developmental Coordination Disorder (DCD) in Children and Adloescent, Singapore;

2005
Kursus Fasilitator KURFAK, FKUI Jakarta;

2004
Pelatihan Rehabilitasi Medik Krdio-Respirasi IV, Batam
2004
Pelatihan Rehabilitasi Medik Pediatrik IV, Bukit Tinggi

2003
Pelatihan Ortotik-Prostetik III, Denpasar-Bali
2003
Pelatihan Rehabilitasi Medik Sports III, Denpasar-Bali

2003
Pelatihan Rehabilitasi Medik Pediatrik III, Manado
2003
Pelatihan Rehabilitasi Medik Kardio-Respirasi III, Padang

2002
Clinical Research Skills Workshop for Investigators, Jakarta;
Medical Education Workshop FKUI, Jakarta;

2002
Pelatihan Penggunaan Alat Cybex Isokinetik dan Gait Analyzer, IRM, RSCM, Jakarta

2002
Malang Course in Basic Immuno-Rheumatology I, Mal

2001
Pelatihan Ortotik Prostetik I, Jakarta

2001
Pelatihan Rehabilitasi Medik Sports I, Jakarta

2001
Pelatihan Rehabilitasi Medik Pediatrik I, Jakarta

RIWAYAT JABATAN FUNGSIONAL DAN STRUKTURAL
1996-Sekarang
Tenaga Pengajar FKUI

1997-Sekarang
Pokja Pelayanan Terpadu Penderita Hemofilia, RSUPNCM

1987-2007
Koordinator Pendidikan, Unit Rehabilitasi Medik, RSCM

1999-2007
Ketua Program Studi, Program Pendidikan
Dokter Spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi, FKUI

1997-2000
Badan Pengarah Diploma III FKUI

KEPENGURUSAN/KEANGGOTAAN DALAM ORGANISASI PROFESI
2008-Sekarang
Sekretaris Jenderal, Indonesian Society of Neuro Restoration and Rehabilitation (ISNRR)

2007-Sekarang
Council Member, Asia Pacific Hospice and Palliative Care Network

2006-Sekarang
Rpresentatif MPI di APHN (Asia Pacific Hospice and Palliative Care Network)

2005-Sekarang
Pengurus Indonesian Spine Society (ISS) (Bidang Ilmiah)

2005-Sekarang
Pengurus Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (Wakil Sekretaris; Ketua Harian)

2004-Sekarang
Member Executive Board, AOSPRM (Asia Oceanian Society of Physical Medicine & Rehabilitation)

2003-Sekarang
Wakil Ketua Indonesian Pain Society, Cab. Jakarta

2002-Sekarang
Pengurus, Indonesian Pain Society (IPS) (Executive Board, Bidang Pendidikan)

2006-2009
Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) (Komisi Akreditasi 2000-2006, Komisi Pendidikan

2000-Sekarang
Sekretaris/Bendahara 2009-2012)

1999-Sekarang
Pengurus, Masyarakat
Paliatif Indonesia (MPI)

1992-Sekarang
Member, ASIA PACIFIC League Against Rheumatism (APLAR)

1991-Sekarang
Anggota Pengurus Yayasan Stroke Indonesia (YASTROKI) (Bendahara, Ketua bidang Rehabilitasi Medik, Konsultan MEDIA STROKE)

1991-Sekarang
Anggota dan Pengurus, Perhimpunan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Indonesia (PERDOSRI):
Ketua Badan Khusus Pendidikan-1998;
ketua Kolegium 1998-2010;

1989-Sekarang
Anggota Pengurus, Bidang Rehabilitasi & Sosial, Yayasan Kanker Indonesia (YKI)

1986-Sekarang
Member, International Rehabilitation Medicine Association (IRMA)/International Society of Physical and Rehabilitation Medicine Association (ISPRM)

1982-Sekarang
Anggota dan Pengurus Ikatan Rheumatology Indonesia (IRA) (Sekretaris Jenderal, Hubungan Internasional, Pengabdian Masyarakat)

1977-Sekarang
Anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia)

0 Komentar

Belum ada komentar