Sukses

Dedikasi Mendidik Adalah Prioritas

Memiliki ibu yang sangat disiplin mengajarinya untuk selalu berkomitmen terhadap pekerjaan. Itulah yang membuat Prof Retno tidak pernah ragu menjalani pendidikannya di bidang kedokteran gigi hingga akhirnya menyelesaikan program Doktoral pada tahun 1988.

Oleh : drg. Martha Mozartha

Empat puluh tahun mengabdi sebagai staf pengajar tidak sedikitpun mengikis semangat wanita berdarah asli Sumatera Barat ini untuk terus menerus memperluas wawasan dan ilmu pengetahuannya. Dokter gigi yang saat ini merupakan salah satu Guru Besar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dikenal sebagai guru yang memiliki keingintahuan yang sangat besar dan senang belajar. Beliau juga rajin mengikuti perkembangan ilmu melalui internet. Dosen yang akrab dipanggil dengan Prof Retno ini pun sangat terbuka bila ada mahasiswa yang ingin berdiskusi atau bertukar pikiran dengannya di sela-sela kesibukan beliau.

Memiliki ibu yang sangat disiplin mengajarinya untuk selalu berkomitmen terhadap pekerjaan. Itulah yang membuat Prof Retno tidak pernah ragu menjalani pendidikannya di bidang kedokteran gigi hingga akhirnya menyelesaikan program Doktoral pada tahun  1988. Sebagian besar evaluasi dan analisis data penelitian S3 tersebut dilakukan di Faculty Dentistry Kyushu University dengan supervisor Prof Minoru Nakata DDS,PhD. Hal ini dirasa sebagai berkah tersendiri baginya karena mendapat kesempatan untuk menjelajahi negeri sakura dan mendapat banyak pengalaman saat berada disana.

Meski spesialisasinya adalah bidang ilmu kedokteran gigi anak, disertasinya yang mendalami kelainan pertumbuhan dan perkembangan dentokraniofasial pada penderita thalassemia cukup membuatnya kewalahan. Tidak sedikit rekan sejawat yang meragukannya saat itu, karena menganggap bahwa topik tersebut berada diluar cakupan bidang spesialisasinya. “Saya akui saya sedikit idealis, dan saya selalu konsisten dalam apa yang sedang saya kerjakan. Tidak semua orang suka dengan kita, namun itu biasa dalam hidup. Jalani saja dengan selalu berbuat baik,” demikian prinsip yang selalu dianutnya.

Kesulitan yang dihadapi saat menempuh pendidikan S3 membuat dokter gigi yang berpraktek di RS Pondok Indah ini bertekad dengan penuh kesungguhan bahwa Ia harus dapat memberi kemudahan bagi mahasiswa yang berada dalam bimbingannya. Meski begitu tidak berarti keseriusan diremehkan, justru sebaliknya beliau selalu memotivasi mahasiswanya dengan cukup keras.  Terbukti dari mahasiswa program Doktor yang dibimbingnya hingga kini, semuanya lulus dengan hasil memuaskan dan meraih gelar cum laude. “Melihat mahasiswa bimbingan mencapai keberhasilan adalah kepuasan tersendiri bagi saya, bahkan melebihi materi.”

Sejak menjadi staf pengajar, ketua Divisi Pendidikan Kedokteran Gigi di  Konsil Kedokteran Indonesia ini selalu aktif berkontribusi dalam masalah pendidikan di FKG UI. Hingga saat ini pun beliau masih menjadi tim penyusun kurikulum pendidikan, terutama bidang spesialis dan program doktor di FKG UI. “Fakultas Kedokteran Gigi UI saat ini sudah banyak mencapai kemajuan. Sekarang sudah mulai diterapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk meningkatkan mutu lulusan dokter gigi saat akan terjun ke masyarakat. Ke depannya, hambatan yang ditemui dalam implementasi metode pembelajaran saat ini akan terus dievaluasi. ”

Di usianya yang memasuki 65 tahun dan mendekati masa pensiun, Prof Retno terlihat masih bersemangat dalam menelurkan karya-karya ilmiah. Tulisannya cukup banyak yang telah dipublikasikan di forum ilmiah di dalam maupun luar negeri. Beliau juga terlibat penuh dalam penyusunan standar pendidikan dan standar kompetensi dokter gigi dan dokter gigi spesialis dari tahun 2005 di Konsil Kedokteran Indonesia.

Saat ditanya pendapatnya mengenai program internship bagi dokter gigi yang baru lulus yang saat ini sedang ramai diperbincangkan dan direncanakan untuk mulai diterapkan mulai tahun 2010, beliau mengungkapkan bahwa masih banyak yang harus dibenahi, khususnya bila akan diterapkan bagi para dokter gigi baru. Kendala sarana dan prasarana adalah hal yang utama menjadi perhatian, selain kesiapan rumah sakit dan pendamping yang menjadi faktor penentu dalam program tersebut. 

 “Ikhlas adalah kata kunci yang penting dalam menjalani kehidupan. Pengabdian saya sebagai guru saya niatkan sebagai ibadah. Saya berpesan kepada mahasiswa saya untuk tidak mengkotak-kotakkan ilmu. ilmu itu tidak berbatas, siapa saja bisa belajar,” ujarnya menyudahi perbincangan kami siang itu.[](MM)

 

Prof. Dr. Retno Hayati Sugiarto drg. SKM. Sp.KGA

Prof. Dr. Retno Hayati Sugiarto drg. SKM. Sp.KGA
Tempat & Tanggal Lahir:
Purwokerto,3 Juli 1944

RIWAYAT PENDIDIKAN

Lulus Pendidikan Kedokteran:
1969
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Pendidikan Pascasarjana
(Program Strata 2):
1979
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia

Pendidikan Spesialis
Kedokteran Gigi Anak:
1982
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia

Pendidikan Pascasarjana
(Program Strata 3):
1998
Fakultas Pascasarjana
Universitas Indonesia
Disertasi :
“Pola Deformitas Dentoskeletal pada anak Thalassemia dan Faktor Determinannya”

RIWAYAT PEKERJAAN

Staf Pengajar
Metodologi Penelitian & Sefalometri
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia

Staf Pengajar
Ilmu Kedokteran Gigi Anak
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia

Guru Besar
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Indonesia

Ketua Divisi
Pendidikan Kedokteran Gigi
Kondsil Kedokteran Indonesia

0 Komentar

Belum ada komentar