Sukses

Membangun sistim kesehatan yang baik di Indonesia, itulah yang sedang kami usahakan saat ini

Pembahasan mengenai sistim kesehatan yang dilakukan dengan dr. Fahmi Idris memberikan gambaran cukup dalam mengenai kondisi sistim tersebut di Indonesia. Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat ini menjabarkan secara detail mengenai performa dokter sebagai prima

 Oleh : dr. Tri Rejeki Herdiana

Pembahasan mengenai sistim kesehatan yang dilakukan dengan dr. Fahmi Idris memberikan gambaran cukup dalam mengenai kondisi sistim tersebut di Indonesia. Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat ini menjabarkan secara detail mengenai performa dokter sebagai primary dan secondary medical care saat ini. Menurut pandangan beliau sebagai ketua umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sistim kesehatan saat ini seharusnya mengacu kepada Indonesian Health Regio 2008.  Sistim ini akan menghasilkan health outcome yang diharapkan untuk ke depannya.

Sisitim kesehatan sebenarnya sudah ada sejak tahun 1980-an dan diperbaharui melalui keputusan menteri kesehatan tahun 2004. Semua sistim kita seharusnya mengacu kepada peraturan tersebut. Apabila berbicara mengenai sistim kesehatan, akan terdapat 6 bagian sistim yang saling melengkapi yaitu upaya kesehatan baik individual dan publik atau masyarakat, logistik, manajerial, regulasi, dan sumber daya manusia. Dari ke-6 bagian sistim tersebut, upaya kesehatan baik individual atau masyarakat adalah bagian yang paling disoroti.

Sistim kesehatan atau upaya kesehatan di berbagai belahan negara akan selalu bergandengan dengan pembiayaan. Regulasi yang dilakukan oleh Indonesia berdasarkan UU No.40 tahun 2004, sudah menjamin mengenai sistim jaminan pembiayaan kesehatan. Regulasi memang sudah kita miliki namun sayang sekali, menurut beliau, implementasinya tidak berjalan dengan baik. Padahal apabil undang-undang ini berjalan dengan baik, maka seluruh masyarakat di Indonesia akan terjamin kesehatannya. Sistim yang berjalan adalah bagi mereka yang tidak mampu maka pemerintah akan membayarkan biaya kesehatan mereka dengan menggunakan asuransi kesehatan sosial.  Metode paling bagus yaitu terdapat pihak ketiga yang mengendalikan biaya di dalam asuransi kesehatan tersebut.

Tidak dipungkiri bahwa pembiayaan akan berkaitan dengan pelayanan yang baik. Dokter yang aktif di dalam berbagai organisasi ini mengemukakan bahwa pembiayaan dan pelayanan yang baik akan menghasilkan health outcome yang juga baik. Pelayanan yang baik dikenal dengan sistim pelayanan terpadu. Sistim pelayanan terpadu sudah ada namun tidak berjalan dengan baik karena tidak ada yang menopang mekanisme tersebut. Akibatnya, primary medical care (dokter umum atau dokter keluarga) kita sangat lemah dan mengakibatkan semua orang akan lari ke secondary medical care (spesialis).

Sistim pelayanan terpadu yang mendidik dokter keluarga, bertujuan untuk mencetak dokter keluarga yang akan menjaga kesehatan 2500 orang, atau dalam kata lain, 1 dokter untuk 2500 orang. Dokter keluarga ini akan bertanggung jawab terhadap kesehatan 2500 orang dengan menggunakan metode early diagnosis, promotif, dan preventif yang baik. Semakin sedikit orang yang sakit maka semakin berhasil tugas dari dokter keluarga ini.

Dengan memiliki dokter keluarga, seseorang dapat berkonsultasi apabila terdapat masalah kesehatan dan dapat menghubungi dokter tersebut kapan pun juga. Dokter keluarga akan menjalankan upaya yang menyehatkan dan bukan upaya mengobati. Konsep ini hanya dapat berjalan apabila primary medical care kita cukup kuat dengan mekanisme yang dapat menopang sistim dengan baik, serta pembiayaan yang tepat.

Metodologi asuransi pra-bayar akan mendukung sistim pelayanan terpadu ini. Apabila sistim ini sudah berjalan, maka pelayanan kesehatan akan semakin baik dan tentunya dokter juga sejahtera. Sistim kesehatan yamg baik harus terukur pembiayaannya. Seiring dengan pembiayaan makin baik, maka pendapatan ditingkatkan. Primay medical care sebenarnya tidak akan lebih dari Rp 50.000,00 apabila diagnosis tepat, tidak overdiagnosis, dan diberikan obat generik.

Primary medical care yang baik seharusnya hanya merujuk sebanyak 8% dari seluruh kasus yang ditanganinya. Dengan sistim rujukan hanya 8% pasien, maka secondary medical care memang hanya menangani kasus yang spesialistik saja. Saat ini, semua pasien lari ke spesialis sehingga beban dari spesialis tersebut overload. Dengan sistim yang kita jalankan saat ini, sebanyak apapun spesialis, tidak akan pernah cukup untuk menangani pasien. Pada akhirnya, primary medical care kita akan hancur dan akan menjadi sistim spesialisasi yang generalisasi. Tentunya ini bukanlah hal yang kita harapkan.

Undang-undang praktek kedokteran seharusnya mengatur level kompetensi baik primary maupun secondary medical care. Seperti contohnya imunisasi, imunisasi tidak perlu dilakukan oleh dokter spesialis anak, imunisasi adalah level kompetensi dari dokter umum atau dokter keluarga. Seperti layaknya di luar negeri, imunisasi HPV pun tidak dilakukan oleh dokter spesialis kebidanan namun oleh dokter keluarga mereka.

Perbaikan seperti inilah yang sedang diusahakan oleh sistim kesehatan kita saat ini. Apabila sistim ini berjalan dengan baik di Indonesia, maka tidak akan ada lagi masalah kesehatan, tidak ada lagi masalah malpraktek karena miskomunikasi, tidak ada lagi masalah kesejahteraan dokter, dan tidak ada lagi masalah dasar kesehatan yang tidak dapat tertangani dengan baik.[]

Dr. dr. Fachmi Idris, M. Kes.

Dr. dr. Fachmi Idris, M. Kes.
Tempat &Tanggal Lahir:
Palembang, 1 Februari 1968
Alamat Kantor:
Jl. Samratulangi, No. 29, Jakarta Pusat
Status Perkawinan:
Menikah
Isteri:
Dr. Rini Purnamasari, Sp. A
Anak:
Ridho Fachri M, Rizqy Fachri M, Rifa Rahma A

RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL

Pendidikan Kedokteran:
Fakultas Kedokteran UNSRI, Palembang, tamat 1993
Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Pasca Sarjana UI, Jakarta (Lulusan Terbaik), lulus tahun 1998

Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat, Program Pasca Sarjana UI, Jakarta (Lulusan dengan predikat Cum Laude), lulus tahun 2003

RIWAYAT ORGANISASI

Sekretaris I PB IDI (1997–2000)
Sekretaris Jenderal PB IDI (2000–2003)
Ketua Terpilih PB IDI / Wk. Ketua Umum (2003–2006)
Ketua Umum PB IDI (2006–2009)

RIWAYAT ORGANISASI

Sekretaris Bersama 5 Organisasi Profesi Kesehatan
Konfederasi Ikatan Dokter Asia Oceania (Confederation of Medical Association Asia Oceania/CMAAO):
Pembantu Andalan Nasional–Pengabdian Masyarakat,Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Masa Bakti 2003 – 2008 Ketua Umum Terpilih (2007-2009).

RIWAYAT PEKERJAAN

Kepala Puskesmas Makarti Jaya, Sungsang MUBA Sumatera Selatan. (Dokter PTT), 1995
Depdikbud Staff Pengajar FK UNSRI, Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat / Kedokteran Pencegahan(1995-1997)
PNS Depdikbud Staff Pengajar FK UNSRI, Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat / Kedokteran Pencegahan (1997-sekarang)
Pengelolaan Kerjasama UNSRI – Bidang Kerjasama Nasional
Sekretaris Bagian IKM & IKK FK UNSRI
Sekretaris Bagian IKM – IKK FK UNSRI
Koordinator Bidang Penelitian - Unit Penelitian Kedokteran dan Kesehatan (UPKK) FK UNSRI
Keanggotaan Komite / Tim Nasional (Beberapa)

KARYA ILMIAH

Seri Manajemen Pemberantasan Penyakit Menular: Manajemen Public Private Mix Penanggulangan Tuberkulosis strategi DOTS Dokter Praktik swasta. PB IDI
Proceeding Studi Intervensi Penatalaksanaan TB Strategi DOTS pada Dokter Praktik Swasta: Studi di Kab. OKU, kab. Bandung dan Kab. Donggala
Pelayanan Kesehatan yang Berkeadilan: Harapan yang Tidak Kunjung Datang. (Orasi Ilmiah ) Dalam Rangka Dies Natalis Universitas Sriwijaya ke-43
Pengobatan Tuberkulosis Komprehensif Melalui Strategi DOTS, Yayasan Penerbit IDI

0 Komentar

Belum ada komentar