Sukses

Syukurilah Hidup Ini dengan Melihat Sisi Positif yang Pernah Didapat

Syukurilah hidup ini dengan melihat sisi positif yang pernah didapat, karena karunia Tuhan tidak harus besar setiap harinya

Tidak sulit untuk memulai perbincangan dengan beliau siang itu. Sifatnya yang ramah seakan menebar kebahagiaan ke seluruh sudut ruangan. Prof.DR.Dr.Retno Widowati Soebaryo, SpKK(K), seorang guru besar ilmu kesehatan kulit dan kelamin FKUI-RSCM yang dikenal dengan semangat dan kedisiplinannya. Hingga saat ini beliau telah mengantongi beberapa penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri, dan masih aktif dalam beberapa organisasi baik organisasi profesi maupun masyarakat. Tahun ini pun beliau telah menjabat sebagai ketua program studi S2 selama genap 14 tahun.

Ketika ditanya mengenai kiat sukses beliau, serangkaian kalimat bijak terlontar dengan manisnya: “Hidup adalah misteri Tuhan, manusia tidak akan pernah mengetahui rencana-Nya sampai mereka benar-benar mengalaminya. Dan kita sebagai manusia biasa harus senantiasa bersyukur akan hidup ini dengan melihat sisi positif yang pernah didapat, karena karunia Tuhan tidak harus besar setiap harinya”. Kalimat tersebut bermakna amat dalam dan telah menjadi motto yang terus dipegang dalam menjalani hidup oleh praktisi ahli kesehatan kulit dan kelamin yang akrab dengan sapaan Prof. Kiki oleh orang-orang terdekatnya.

Meski hanya hidup berdua bersama ibunda sepeninggal ayahanda tercinta di usia yang masih sangat muda, hal tersebut tetap tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus berkarya dan berprestasi. Bahkan saat memasuki jenjang kuliah, beliau menyempatkan diri untuk mendaftarkan diri pada seleksi kepada empat jurusan ilmu akademi, diantaranya yaitu jurusan ekonomi, akademi tekstil, biologi, kedokteran yang kesemuanya disambut dengan kabar gembira.

“Kala itu ibu saya memang belum bisa mendukung sepenuhnya, tetapi semangat dan dukungan kakek saya akhirnya telah membawa saya memasuki dunia kedokteran yang sudah tidak bisa saya lepaskan lagi”, kenang Prof.Kiki yang senang makan bakmi goreng ini.

Memiliki kakek yang berprofesi sebagai seorang dokter, dunia medis bukanlah suatu hal yang asing. Namun menjadi seorang dokter bukan sesuatu yang dibayangkannya sejak kecil. Ketertarikan Prof.Kiki dalam bidang kedokteran sebenarnya berawal dari pameran yang diikutinya saat duduk di bangku SMP.

Beliau melihat sebuah patung anatomi tubuh manusia yang menunjukkan banyak serat otot dan pembuluh darah. Darah dalam pembuluh darah tersebut seolah bergerak. Tentunya ini bukanlah pemandangan yang biasa di tahun itu. Serta-merta timbul dorongan yang kuat dalam diri Prof.Kiki untuk menekuni dunia kedokteran sebagai salah satu pilihan hidupnya.

Ini, setelah genap 40 tahun berprofesi sebagai seorang dokter, tentunya beliau memiliki segudang pengalaman dan ilmu pengetahuan yang dapat dibagi dan dijadikan teladan untuk para generasi muda.

“Beruntung saya punya suami yang sangat mendukung sehingga saya bisa berkembang seperti ini, saya tidak pernah dilarang, malah terkadang justru saya yang minta dilarang”, seru Prof.Kiki seraya bercanda.

Dalam pidato purnabakti beliau 29 Januari 2009 lalu yang berjudul “Meretas Karier – Membangun Ilmu, Sarana Menggapai Prestasi Sepanjang Hayat”, beliau sempat mengemukakan sedikit mengenai materi ilmu kesehatan kulit dan kelamin, khususnya di divisi alergi.

Secara epidemiologi, masih banyak ditemukan kasus-kasus kelainan kulit yang seringkali datang dalam keadaan lanjut. Kasus yang sering ditemukan di departemen ilmu kesehatan kulit dan kelamin adalah penyakit kulit akibat infeksi. Khusus di bagian alergi, penyakit kulit yang sering ditemukan adalah dermatitis (eksim) kontak dan alergi obat.

Bilapun ditinjau dari penyebabnya, dermatitis (eksim) kontak paling sering ditemukan pada para pekerja, termasuk ibu rumah tangga. “Hati-hati dengan bahan kimia karena iritan lemah seperti deterjen justru paling banyak ditemukan sebagai penyebab dermatitis kontak pada ibu rumah tangga yang sering mencuci baju”, himbau Prof.Kiki yang memiliki hobi santai dan bepergian ini. Ketika ditanya mengenai penyebabnya beliau berkomentar bahwa hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap perawatan kulit, juga perilaku sering membasuh tangan dengan deterjen setelah mencuci alih-alih air bersih.
“Di masyarakat juga telah terbentuk persepsi bahwa seseorang yang menderita penyakit kulit tidak diperkenankan untuk mandi apalagi menggunakan sabun, yang justru dapat menyebabkan perburukan penyakit kulit tersebut. Di lain pihak, terkadang masyarakat justru menggunakan sabun antiseptik dengan harapan terhindar dari kuman setiap saat, padahal hal tersebut dapat merusak sawar kulit, membuat kulit menjadi kering dan rentan infeksi”, tambah beliau.

Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa keluhan kulit dapat timbul pada pekerja akibat penggunaan sarung tangan. Bahkan yang tidak memiliki kecenderungan alergi juga dapat mengalami keluhan kulit bila sarung tangan tersebut digunakan dalam jangka waktu lama.  Oleh sebab itu sangat dianjurkan bagi para pekerja untuk menggunakan sarung tangan hanya pada saat mereka benar-benar membutuhkan dan menggantinya setiap kali tangan terasa lembab atau berkeringat. Bersihkan dengan air dan sabun kemudian menggunakan pelembab. Khusus yang memiliki kecenderungan alergi dapat dipilih pelembab yang tidak mengandung parfum dengan harapan tidak akan memicu reaksi alergi.

Kasus di atas hanyalah beberapa bukti betapa minimnya pengetahuan masyarakat mengenai perawatan kulit yang benar sehingga dibutuhkan peran praktisi kesehatan untuk sama-sama memberi pemahaman kepada mereka. Tentunya para praktisi kesehatan harus memiliki persepsi yang sama dengan senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. “Kecepatan sudah merupakan suatu kebutuhan, kalau dahulu perbedaan satu menit saja sudah bisa menang perlombaan lari, sekarang kita harus memiliki perbedaan sepersekian detik baru bisa dikatakan menang. Begitupun dengan ilmu pengetahuan, harus diimbangi dengan kecepatan dalam mendapatkan ilmu pengetahuan yang terbaru”, ujar Prof.Kiki bijak.[]

Prof.DR.Dr.Retno Widowati Soebaryo, SpKK(K)

Prof.DR.Dr.Retno Widowati Soebaryo, SpKK(K)
Tempat/tanggal lahir
Solo, 19 Juli 1943
Suami
Dr.Soebaryo Mangunwidodo
Anak
Retno Sri Widanarti, SE
Dr.Danang Tri Wahyudi, SpKK
Cucu
3 orang

PENDIDIKAN FORMAL

Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
1969

Spesialis Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin FKUI
1975

S3 Konsultan Pendalaman
Keilmuan Bidang Clinical Dermatology
University of Amsterdam
1980

Profesor
2005

PENGHARGAAN

Award pada pertemuan ilmiah
The 13th International
Histocompatibility and
Immuno-genetic Congress,
Seattle, 2002

Award pada 14th International
Contact Dermatitis and
7th Asia Pacific Environmental
and Occupational Dermatology
Symposia, Seoul, 2004

Penghargaan Satyalencana
Karya Satya masa bakti
30 tahun dari Presiden RI,
2004

JABATAN SEKARANG

Ketua divisi
alergi-imunologi klinik,
Departemen Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin FKUI

Staf Departemen
Pendidikan Kedokteran
FKUI

Staf tim Ko
Program Pendidikan
Dokter Spesialis FKUI

Anggota panitia
Etik dan Hukum RSCM

Staf ahli BPOM

Staf ahli Askes

ORGANISASI

Wakil Sekretaris Jenderal
Perhimpunan Dokter Spesialis
Kulit dan Kelamin Indonesia
(PERDOSKI), 1983-1989

Koordinator Kelompok Studi
Dermatosis Akibat Kerja
(KsDAK), 1994-sekarang

Sekretaris Jenderal
Perhimpunan Dokter Spesialis
Kulit dan Kelamin
(PERDOSKI), 1999-2001

Asia Pacific Environmental
and Occupational Dermatology
Symposia (APEODS),
wakil Indonesia

Pengurus Kolegium I
Kesehatan Kulit dan Kelamin

Pengurus Perhimpunan Alergi
dan Imunologi Indonesia
(PERALMUNI)

Pengurus Ikatan Dokter
Kesehatan Kerja Indonesia
(IDKI)

 

0 Komentar

Belum ada komentar