Sukses

Prioritas Menolong Orang

Inilah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia. Totalitas pengabdian diri dan kehidupannya kepada dunia medis dan kesehatan patut diberikan apresiasi tertinggi. Beliau adalah seorang Guru Besar Emeritus dalam bidang Kardiologi di Fakultas Kedokteran Uni

Inilah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia. Totalitas pengabdian diri dan kehidupannya kepada dunia medis dan kesehatan patut diberikan apresiasi tertinggi. Beliau adalah seorang Guru Besar Emeritus dalam bidang Kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Kontribusi tulisannya memperkaya khazanah jurnal ilmiah kesehatan dalam maupun luar negeri. Beliau juga sering menjadi pembicara diberbagai pertemuan ilmiah, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Pria penggemar olahraga golf ini pernah mendapatkan pendidikan tambahan di berbagai Pusat Pendidikan Kedokteran terkemuka di berbagai tempat di dunia, seperti Post Graduate Course in Cardiology Sydney Australia, Ph.D dari Erasmus University Roterdam Belanda, Fellow of American College of Cardiology (FACC) dan di berbagai tempat pendidikan Kedokteran lainnya.

Disamping kesibukannya dalam membina Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia (PERKAPI) sebagai Ketua, dirinya masih memprioritaskan keluarga. Mantan Ketua Ikatan Keseminatan Kardio-serebro-vaskular Indonesia (IKKI), anggota Indonesian Cardiovacular Society (ICS), serta Principal Investigator for Indonesia in the Multi-national Study WHO ini melihat keluarga sebagai sumber segala kebahagiaan.

Beliau juga berbagi resep rahasi kebahagiaan lainnya, yakni menolong orang. Menolong orang lain adlah sebagai perwujudan terimakasih kepada diri sendiri dan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas pemberian yang telah diberikanNya.

Travel Medicine
Dalam agenda pertemuan dengan Klikdokter pekan lalu, Klikdokter berkesempatan diperkenalkan pada sebuah bidang Travel Medicine yang dewasa ini beliau tekuni. Sebuah bidang yang mengetengahkan korvegensi kondisi kesehatan tubuh manusia dengan fenomena perjalanan lintas meridian. Dalam istilah awam acapkali dikenal dengan istilah jetlag.

Menuirut beliau, Kesehatan Wisata (Travel Medicine) meliputi kesehatan perjalanan pada umumnya dan khususnya wisatawan, ialah suatu disiplin baru dalam rangka Kesehatan Masyarakat yang khususnya bertujuan untuk Proteksi dan Promosi Kesehatan Wisatawan.

Wisatawan yang sedang menikmati liburan diharapkan sekembalinya  ke tempat asalnya akan mendapatkan drinya lebih sehat dibandingkan sebelum berwisata, kondisi yang diharapkan tidak lebih menghindari keadaannya oleh karena penyakit yang didapatkan dalam perjalanan. 

Agar mendapatkan keadaan optimal yang diharapkan tersebut, perlu diusahakan rasa tanggung jawab dari wisatawannya sendiri, daerah tujuan yang menerimanya sebagai tamu dan pelayanan kesehatan dimulai dari tempat asal, dalam perjalanan dan daerah tujuan.  Untuk ini diperlukan tindakan Kesehatan Masyarakat yang terorganisir baik untuk memproteksi dan mempromosikan kesehatan warganya. Kesehatan wisata dari satu sisi meliputi semua aspek kedokteran (pencegahan, promosi, pengobatan, rehabilitasi kesehatan masyarakat).

Pada sisi lain memperhatikan kesehatan yang terkait dengan kebutuhan khusus wisata, seperti Thalasso-terapi, sauna dan rekreasi lainnya, juga harus memperhatikan keamanan makanan untuk mencegah terjadinya infeksi enterik, pencegahan terhadap infeksi pernafasan, penyakit melalui hubunga seks dan penyakit menular lainnya. 

Fenomena sosial seperti wisata yang telah berkembang begitu pesat, apalagi dalam era globalisasi dengan kemudahan bepergian dari satu tempat ke tempat lain, memudahkan pindahnya penyahit menular dalam masa inkubasi, sehingga tidak dapat dideteksi/dicegah penularannya.  Untuk mengantisipasi hal ini, maka pada tahun 1983 telah didirikan Pusat Kesehatan Wisata dan Asosiasi Kesehatan Italia. 

Pada tahun 1988 di Rimini, Italia telah berlangsung satu pertamuan Internasional Membahas pencegahan dan pengawasan infeksi wisatawan di Mediterania, yang dilaksanakan dengan bekerjasama World Health Organization (WHO) dan World Tourism Organization (WTO).[](DA/JK)

Prof. Dr. Yahya Kisyanto, PhD, SpJP, SpPD, FACC

0 Komentar

Belum ada komentar