Sukses

Seorang Panutan yang Sangat Pantas Untuk Diteladani

Kesan pertama kala bertemu tokoh kesehatan legendaris ini ialah menyenangkan. Profesor dr. Raden Koestedjo, menampilkan seorang sosok yang begitu ramah, segar namun dengan cara berbicara yang masih demikian tegas.
Kesan pertama kala bertemu tokoh kesehatan legendaris ini ialah menyenangkan.

Profesor  dr. Raden Koestedjo, menampilkan seorang sosok yang begitu ramah, segar namun dengan cara berbicara yang masih demikian tegas. Pria yang genap berusia 92 tahun Agustus lalu ini masih mewarnai hidupnya dengan penuh semangat nasionalisme. Terlihat jelas sekali pada setiap tutur berkatanya. Prof. Koes – begitu panggilan akrabnya- lahir di Purbalingga tanggal 5 Agustus 1916. Saat ini sudah lebih dari 60 tahun beliau mengabdikan diri dalam dunia kesehatan. Selama itu pula, banyak yang telah beliau berikan untuk kemajuan dunia pendidikan kedokteran Indonesia maupun organisasi profesi. Beliau lulus sebagai dokter dari Ikadaigaku (Institusi Sekolah Kedokteran Pada Masa Jepang-red) pada permulaan tahun 1944, dan langsung ditempatkan di bagian mata RSUP Jakarta di bawah pimpinan Prof. R. Soemitro Hadibroto.  Namun tidak lama kemudian, seperti halnya kebanyakan pemuda jaman penjajahan,  Prof. Koes juga ikut serta dalam berbagai lembaga perjuangan termasuk PETA (Pembela Tanah Air), BKR (Barisan Keamanan Rakyat), TKR (Tentara Keamanan Rakyat), TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan TNI (Tentara Nasional Indonesia) hingga tahun 1950. Beliau mengundurkan diri untuk mengikuti pendidikan ahli bedah di Semarang dan Universitas Indonesia di Jakarta. Alasannya karena saat itu semua ahli bedah Belanda telah pulang ke negaranya dengan alasan politik, meninggalkan hanya 10 orang ahli bedah di Indonesia yang begitu luas. Saat itu timbul harapan beliau agar bisa mengisi kekosongan tersebut, sekaligus membagi keahliannya pada calon-calon dokter bedah lain. Pada tahun 1957 beliau menetap di Bandung. Bertepatan dengan resmi dibukanya Universitas Padjajaran (UNPAD) dengan Prof. Koes sebagai kepala bagian bedah, maka terbuka lebar kesempatan untuk mendidik mahasiswa menjadi dokter umum, yang nantinya akan menjadi calon dokter bedah.  Pada tahun 1965 beliau dikukuhkan sebagai guru besar ilmu bedah di UNPAD dan mendapat fellowship dari DAAD (Deutsche Akademische Austausch Dienst) untuk meninjau beberapa universitas di Jerman Barat. Melihat perkembangan kedokteran di sana, beliau menjadi semakin bersemangat dan percaya diri untuk memajukan pendidikan kedokteran bedah di Indonesia agar tidak kalah dari ahli bedah barat. Selama 20 tahun berikutnya, kurang lebih 20 ahli bedah telah dapat diluluskan dan telah tersebar di seluruh tanah air. ”Dengan demikian cita-cita saya telah terkabul! Ini merupakan suatu kebahagiaan tersendiri untuk seorang guru yang sampai usia senja dapat menyaksikan bekas murid-muridnya saat ini menduduki posisi-posisi yang cukup penting dan ikut berbakti pada Negara”. Bicara mengenai pengalaman dan prestasi,  Prof. Koes tentunya memiliki segudang cerita yang dapat dijadikan teladan. Tim redaksi klikdokter sempat diajak beliau berkeliling rumah, melihat koleksi penghargaan dan hasil karyanya yang tersusun rapi. Semakinlah menegaskan betapa pengabdian dan perjuangan beliau untuk tanah air yang dicintai patut menginspirasi setiap pemuda Indonesia. Bahkan di usianya yang menginjak 92 tahun ini, beliau masih aktif memimpin sebuah lembaga yang bersifat sosial.  Di samping itu, sudah 10 tahun ini beliau menjadi direktur RS Halmahera Bandung.

Di dunia ini, hanya sedikit orang yang dikaruniai banyak bakat - Prof. Koes adalah salah satunya. Selain sederet prestasi yang didapatkannya dalam dunia kedokteran, beliau ternyata juga memiliki bakat melukis. Hal ini terbukti dari banyaknya lukisan Prof yang menghiasi setiap sudut rumahnya. Bahkan beberapa ada yang ditampilkan pada pameran lukisan di Taman Ismail Marzuki. Belum habis bicara mengenai lukisan, beliau ternyata juga menguasai bermacam cabang olahraga, mulai dari tenis, tenis meja, hoki, hingga berkuda. Saat ditanya mengenai rahasia kebugaran dan kesehatannya, beliau menjawab; “Biasakan berolahraga setiap harinya, makan juga yang secukupnya saja, tidak berlebihan”. Pada peringatan 60 tahun sebagai dokter pada tahun 2004. Prof. Dr. R. Koestedjo dinamakan ”Seorang Panutan Yang Sangat Pantas Untuk Diteladani” oleh dekan FK-UNPAD. Beliau juga mendapatkan piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat dan Lembaga Lanjut Usia Indonesia Jawa Barat sebagai Lansia berusia lebih dari 80 tahun, “Tetap Aktif Berkarya dan Peduli Lansia” pada tahun 2007. Sesungguhnya, sosok dan semangat Prof. Koes memang layak diteladani dan menjadi inspirasi baik setiap pemuda ataupun lansia di penjuru dunia.[] (SO)

PENGHARGAAN

  • Satyalencana Karya Satya Kelas 2 dari Pemerintah Agustus 1978
  • Gelar kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI September 1981
  • Piagam “Satya Karya Bhakti” dari UNPAD September 1982
  • Piagam Penghargaan dari Yayasan Kanker Indonesia Pusat Mei 1985
  • Penghargaan dari Angkatan ’45 Dewan Harian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dalam rangka pengabdian yang tulus & ikhlas bagi cita-cita angkatan ’45 semasa masih mahasiswa Agustus 1985
  • Penghargaan dari Ikatan Dokter Indonesia cabang Bandung Oktober 1986
  • Bintang LVRI karena Dianggap Telah menyumbangkan jasa bakti secara luar biasa Januari 1993
  • Penghargaan dari Yayasan Kanker Indonesia Pusat untuk masa bakti lebih dari 10 tahun Februari 1994
  • Commemorative Modal in recognition of this selection as MAN OF THE YEAR for outstanding community and professional achievement presented by The American Biographical Institute 1994
  • Piagam Penghargaan dari RS Dr. Hasan Sadikin Bandung dalam Pembinaan Klinik Kanker 17    Agustus 1995
  • Piagam Penghargaan & Medali Perjuangan Angkatan ’45 dari Dewan Harian Nasional ‘45
  • New Cenry Award Member of The Asia 500 (American Biographical Institute) 1999
  • Piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Barat dan Lembaga Lanjut Usia Indonesia Jawa Barat sebagai Lansia berusia lebih dari 80 tahun, “Tetap Aktif Berkarya dan Peduli Lansia” 2007
  • Piagam Anugerah Padjajaran Utama dari Universitas Padjajaran Bandung 2008

 PENGALAMAN ORGANISASI PROFESI/SOSIAL

  • Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
  • Anggota Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI)
  • Anggota Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi (PERABOI)
  • Anggota Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI)
  • Anggota Perhimpunan Ahli Bedah Thorax-Vasculair
  • Anggota kehormatan Perhimpunan Ahli Bedah Orthopedi Indonesia (PABOI)
  • Penasehat Yayasan Kanker Indonesia wilayah Jawa Barat
  • Penasehat Yayasan Celah Bibir dan Langit-langit Bandung
  • Anggota Yayasan PETA (YAPETA) Bandung
  • Anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI)
  • Anggota Badan Penggerak Pembina Potensi Angkatan ’45 Jawa Barat
  • Anggota Dewan Penasihat LLI (Lembaga Lansia Indonesia Jawa Barat)

Prof. dr. R. Koestedjo, SpB, SpBOnk

Prof. dr. Raden KoestedjoTempat Tanggal Lahir : Purbalingga (Banyumas), 5 Agustus 1916Istri :  Alm. R.r. Soertiti SoerjadiAnak: 3 putri dan 2 putra 8 cucu dan 1 cicitHobby:  berkebun, melukis, olahraga Musik favorit: Musik Pop

RIWAYAT PENDIDIKAN

Lulus Dokter : HIS, MULO, AMS-B, Geneeskundige Hodgeschool dan IKADAIGAKU April 1944

Lulus Spesialis : Dokter Spesialis Bedah Umum dan Urologi dari UI, Jakarta Desember 1956

Kursus Pelatihan : Bedah Paru, Jepang (Colomboplan) Oktober s.d. April 1966

Lulus Spesialis : Dokter Spesialis Bedah Tumor (Onkologi) November 1979RIWAYAT PEKERJAAN Dokter PETA di Negara (Bali) dengan pangkat Eiseichudancho April 1944 s.d. September 1945 Dokter Barisan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), & Tentara Nasional Indonesia (TNI)   Resimen IV Div. Diponegoro di Cilacap dengan pangkat Letnan Kolonel.

Mengikuti perjuangan di front barat Semarang, Jawa Barat bagian Timur dan di RS Siawi sebagai anggota tim Medan. September  1945 s.d. September 1947 Dokter Bagian Bedah RSUP Semarang Oktober 1950 s.d. Juni 1954 Dokter Bagian Bedah RSUP Jakarta, merangkap Dokter Poliklinik Jawatan Kesehatan Tentara di Kebayoran Baru. Juli 1954    Kepala Bagian Bedah RS Rancabadak, Bandung Januari 1957 s.d. Januari 1977 Dosen Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (P&K) merangkap kepala bagian bedah RS. Rancabadak (DEPKES) November 1961 Rektor Kepala Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Januari 1962 Pembantu Dekan Bagian Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran 1962-1965 Diangkat menjadi Guru Besar dalam mata pelajaran Ilmu Bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Januari 1965 Supervisor Dharma Karya di Kalimantan Barat (Trikora) Juni 1965 Dekan Fakultas Kedokteran UNPAD 1971-1972 Mengikuti Penataran P4 tingkat provinsi Maret 1979 Pensiun (SK Presiden No. 33/81) September 1981    Direktur RS Khusus Bedah Halmahera Siaga 1998KEGIATAN DI BIDANG SOSIAL Dokter PMI Cabang Semarang Bagian Transfuse Darah, 1952-1954

Dokter YPAC (Yayasan Penderita Anak Cacat) cabang Bandung 1961-1964

Pengurus Yayasan Kanker Bandung, Lembaga Kanker Indonesia dan Yayasan Kanker Indonesia wilayah Jawa Barat, 1965 - sekarang

Pengurus Yayasan Penderita Celah Bibir dan Langit-langit, 1979 - sekarang

Anggota Dewan Penasehat LLI (Lembaga Lansia Indonesia) Jawa Barat, 2002

0 Komentar

Belum ada komentar