Sukses

Networking : Membangun Kekuatan, Menunjang Keberhasilan

Bagi orang yang mengenalnya, tentu tidak sulit melihat bahwa pria yang dilahirkan di Jakarta 52 tahun silam ini gemar mengobrol dan sering menyelipkan canda di tengah pembicaraan.

Bagi orang yang mengenalnya, tentu tidak sulit melihat bahwa pria yang dilahirkan di Jakarta 52 tahun silam ini gemar mengobrol dan sering menyelipkan canda di tengah pembicaraan. Tak sulit baginya untuk memulai pembicaraan bahkan pada orang yang belum lama dikenalnya. Tidak peduli apakah orang itu lebih muda atau tua, atau apa latar belakang dan status orang tersebut. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa dokter gigi yang saat ini mengepalai Departemen Biologi Oral di FKG UI ini memiliki banyak teman dan relasi.

Saat ditemui di ruang kerjanya, drg. Ariadna Djais, M.Biomed, PhD tengah menyusun buku ajar Mikrobiologi Oral sebagai panduan untuk mahasiswa S1 Fakultas Kedokteran Gigi  Universitas Indonesia. Beliau telah menjadi staf pengajar di Departemen Biologi Oral FKG UI sejak tahun 1983. Dokter gigi yang akrab dipanggil drg. Ari ini menyelesaikan pendidikan Kedokteran Gigi di FKG UI pada tahun 1981.

Sosok ayah yang juga berprofesi sebagai dokter membuat Ari muda termotivasi untuk dapat mengikuti jejaknya. Bidang mikrobiologi yang ditekuni sang ayah, Prof. dr. Slamet Djais, telah dikenalnya sedari kecil. Setelah mendapatkan gelar Master Biomedik dari Fakultas Kedokteran UI, ayah dari tiga orang putri ini mendapatkan kesempatan untuk lebih memperdalam ilmu tentang oral microbiology di Niigata University, Jepang.

Menjadi mahasiswa bimbingan Prof. Hoshino Etsuro yang merupakan penemu metode “Lesion Sterilization Tissue Repair(LSTR)” merupakan keuntungan tersendiri bagi beliau. Setelah mempelajarinya dari sang Guru, Ari memperkenalkan metode tersebut ke tanah air dan mengembangkannya dengan melakukan penelitian bersama beberapa rekan staf pengajar dan didanai oleh Japan Society for the Promotion of Science (JSPS). Meski masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan akademisi di bidang kedokteran gigi, Ari optimis bahwa kedepannya metode tersebut dapat membawa lebih banyak manfaat bagi masyarakat.

Prinsip-prinsip dalam pergaulan terus dijalankannya saat sedang menjalankan studi di Jepang, dan network yang berhasil dibangunnya saat itu masih tetap terjaga dengan baik hingga saat ini. Beberapa kali pria yang pernah menjabat sebagai Manajer Kerja Sama dan Ventura FKG UI ini diundang kembali ke Jepang berkaitan dengan kerja sama yang telah dirintisnya sewaktu sekolah di sana. Kerja sama itu membuahkan hasil yang baik, kini telah terbentuk memo kesepakatan di bidang pendidikan dan penelitian antara FKG UI dan universitas di Jepang yaitu School of Dentistry University of Hokkaido dan Graduated School of Medical and Dental Sciences Niigata University.

“Saya percaya semua orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan saya selalu berusaha untuk dapat mengambil sisi positifnya. Bukankah lebih enak bila kita dapat menjalin hubungan baik dengan siapa saja. Kelak hubungan baik itu bisa jadi membawa manfaat dan menjadi kekuatan bagi kita,“ paparnya. Cara pandang seperti  inilah yang membuat Dosen Teladan ke-II FKG UI tahun 2000 ini selalu bersikap optimis dalam menyikapi masalah dalam hidup, karena saat menemui hambatan apapun beliau selalu mendapat dukungan dari orang-orang disekitarnya.

Di sela-sela kesibukannya sebagai dokter gigi yang berpraktek dan mengelola klinik di daerah Jakarta Selatan, pria penggemar lagu-lagu The Beatles ini selalu menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan sosial, baik yang diadakan oleh mahasiswa maupun yang dikoordinirnya sendiri. Sejak mulai jadi staf pengajar hingga saat ini, nyaris setiap kegiatan selalu diikutinya di berbagai daerah di Indonesia. Seringnya beliau berpartisipasi dalam kegiatan mahasiswa membuat penggemar rujak cingur ini juga dekat dengan para mahasiswa. Beliau juga masih aktif dan menjadi pengurus di organisasi profesi seperti di PBOI (Persatuan Biologi Oral Indonesia) dan Iluni Pusat yaitu ikatan alumni Universitas Indonesia.

“Dokter gigi itu selain bisa berpraktek juga dituntut untuk memiliki kepekaan sosial dan jiwa enterpreneurship. Maka itu jangan terpaku pada pekerjaan di klinik saja, tapi juga harus bisa berkiprah di bidang lain,” demikian pesannya bagi para dokter gigi muda.[] (MMz)
 

Drg. Ariadna Adisattya Djais, M.Biomed, Ph.D

Drg. Ariadna Adisattya Djais, M.Biomed, Ph.D
Tempat, Tanggal Lahir:
Jakarta, 26 April 1956
Istri :
Drg. Reni Anggraeni Sp.Ort.
Anak:
1. Ajeng Ayu Arainikasih S. Hum.
2. Diski Parasayu
3. Anisla Triayu

RIWAYAT PENDIDIKAN

Lulus kedokteran gigi,
1981
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Lulus Master Biomedik,
1995
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Graduate School Medical and Dental, Niigata University, Japan
 2005

RIWAYAT PEKERJAAN

Timko LP2M FKG UI
1997-1999
Sekretaris Bagian Oral Biologi FKGUI
1999-2001
Wakil Direktur Proqurement QUE Project batch 3
2000-2001
Anggota Senat FKG UI
2001-2001
Manager Kerjasama dan
Ventura FKGUI
2006-2008

RIWAYAT MENGAJAR

Oral Biologi 1 untuk
S1,FKG UI, Jakarta
1997-1998
Tehnik Laboratorium untuk
S2,FKG UI, Jakarta
2000-2001
Tehnik Laboratorium untuk
S2,FKG UI, Jakarta
2001-2002
Oral Biologi untuk
S3,FKG UI, Jakarta
2007

RIWAYAT ORGANISASI & PROFESI

Aktif dalam berbagai perhimpunan nasional seperti;
PDGI, PERMI, IADR, PBOI

PRESTASI ILMIAH

Asaccharolytic anaerobic gram negative coccobacilli (AAGNC) isolated from infected root canals and periodontal pockets.
2006

Analisa urutan gen 16S rRNA dari bakteri oral yang tidak dikenal.
2003

Status karies gigi para anggota di lingungan Mabes TNI-AL Cilangkap Jakarta.
1998

The Immunoglobulin A levels in saliva of smokers and non-smokers with periodontal disease.
1997

0 Komentar

Belum ada komentar