Sukses

Ibu Hamil Pasca Pencangkokan Ginjal

Ginjal memang merupakan organ tubuh kita yang paling vital. Ginjal menyaring darah untuk membuang racun-racun ini melalui air kencing.

Sumber : www.kiatsehat.com

Ginjal memang merupakan organ tubuh kita yang paling vital. Ginjal menyaring darah untuk membuang racun-racun ini melalui air kencing. Lebih  daripada itu ia sekaligus membuat serta mengatur hormon-hormon penting, tekanan darah, air dan bahan kimia lain yang beredar diseluruh tubuh kita, mengaktifkan vitamin D untuk menjaga keseimbangan tulang serta menjaga keseimbangan mineral dalam tubuh.

Ginjal yang tidak sehat bukan hanya menimbulkan penyakit, ia juga dapat menimbulkan banyak masalah seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan pembuluh darah, serangan jantung dan stroke, gagal ginjal, penyakit tulang tertentu, kekurangan darah (anemia), kerusakan saraf (neuropati), bahkan kematian. 

Tak berhenti sampai disitu, masalah pengobatan (mulai obat-obatan hingga HD/cuci darah) dan biaya yang besar yang harus dikeluarkan juga selalu menjadi dilema. Apalagi kalau harus melakukan transplantasi atau cangkok ginjal. Cangkok ginjal merupakan upaya yang dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Bukan berarti membuang ginjal yang telah rusak, tapi justru menambahkan (mencangkok) satu lagi ginjal dari pendonor.

Tapi  bagaimana jika pasien pasca pencangkokan ginjal hamil ? Apakah benar akan membawa  resiko yang sangat besar ?. Menurut Dr. Danu Maryoto Teguh, Sp.OG  dari Rumah Sakit Bersalin NUR  UMI  NUMBI Surabaya, wanita hamil setelah menjalani pencangkokan memang beresiko tinggi, terutama pada bayinya, namun bukan berarti tidak diperbolehkan.

“Semua tergantung pada keputusan pasien yang bersangkutan” ujarnya. Disinilah kerjasama antara dokter kandungan dan dokter neufrologi diperlukan untuk mengontrol kesehatan ibu dan janin dalam kandungan. Hamil setelah pasca pencangkokan memang tidak dianjurkan, tidak absolut. Kehamilan merupakan suatu hal yang membebani fisik ibu luar biasa. Perawatannya pun akan sulit karena pasien harus mengkonsumsi obat-obatan anti penolakan yang  membuat ginjalnya tetap prima. Keadaan ini akan beresiko pada bayi dalam kandungan,  karena kehamilnya sendiri dapat mengganggu fungsi ginjal barunya.

    0 Komentar

    Belum ada komentar