Sukses

Ayo Awas, Ini Beda DBD dan Chikungunya!

Meski disebabkan nyamuk yang sama, jangan keliru tentang penyakit DBD dan Chikungunya. Yuk, kenali beda DBD dan Chikungunya.

Klikdokter.com, Jakarta DBD dan chikungunya adalah penyakit akibat infeksi virus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Kedua penyakit ini bersifat endemik di berbagai daerah di daerah tropis, termasuk Indonesia. Gejala yang timbul akibat DBD dan chikungunya pun bisa sangat mirip sehingga sulit dibedakan di tahap awal. Jadi, apa sih beda DBD dan chikungunya?

Beda DBD dan chikungunya dapat dilihat berdasarkan penyebab, gejala, bagian yang dirusak, dan hasil pemeriksaan lab. Berikut ulasannya. 

Penyebab

Seperti diungkap sebelumnya, DBD dan chikungunya sama-sama disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Akan tetapi, mereka disebabkan oleh virus yang berbeda. Chikungunya disebabkan oleh Togaviridae alphavirus, sedangkan DBD disebabkan oleh Flavirideae flavivirus

Sementara itu, masa inkubasi virus DBD adalah 4-7 hari. Adapun, chikungunya punya masa inkubasi yang lebih singkat, yakni 2-4 hari. 

Gejala 

Penderita DBD akan mengalami gejala kepala berat atau pusing, sakit pada sendi dan otot, nyeri menelan, batuk, perut tak nyaman atau nyeri dibarengi mual, muntah ataupun diare, demam, perdarahan, dan syok.

Siklus demam DBD memiliki kekhasan, turun naik dengan pola menyerupai bentuk pelana kuda. Penderita akan mengalami fase demam tinggi antara 39-40° Celsius. Kemudian, penderita akan masuk ke dalam fase kritis dengan gejala demamnya menurun drastis (kembali ke 37° C).

Pada fase kritis ini, penderita mengalami shock syndrome yang ditandai dengan penurunan suhu tubuh tiba-tiba, denyut nadi cepat dan lemah, gelisah, kesadaran menurun, ujung tangan dan kaki teraba dingin, bibir kebiruan, serta wajah pucat dan tubuh berkeringat.

Fase kritis ini juga sering disertai perdarahan (mimisan, timbul bintik merah pada kulit, perdarahan usus, muntah darah, gusi berdarah, darah pada tinja atau warnanya kehitaman). Apabila tidak tertangani, penderita bisa berakhir dengan kematian.

Sementara itu, menurut dr. Muhammad Iqbal Ramadhan dari KlikDokter, chikungunya adalah klasifikasi demam berdarah yang paling ringan karena tidak disertai perdarahan.

Gejala penyakit yang sering disebut flu tulang ini adalah demam tinggi sekitar 39-40° Celcius, tetapi tanpa pola yang khas seperti pada DBD. Umumnya, demam berlangsung selama 3-5 hari, lalu mereda.

Selain demam, kulit penderita tampak kemerahan yang muncul pada hari ke-3-5 hari, mata merah, muncul gejala flu, sering disertai kejang, mual, muntah, kadang disertai diare. Pada anak yang lebih besar, dapat diikuti dengan rasa sakit/ngilu yang hebat pada otot dan sendi akibat pembesaran kelenjar getah bening. Pada beberapa kasus, penderita chikungunya bisa tidak memperlihatkan gejala sama sekali.

"Nyeri di persendian yang hebat pada pasien chikungunya dapat terjadi terus-menerus sehingga tangan dan kaki sulit digerakkan," ungkap dr. Iqbal.

Selain itu, kedua penyakit ini juga menimbulkan bintik-bintik merah pada kulit. Bedanya, bintik merah pada DBD tidak pudar saat ditekan, sedangkan bintik karena chikungunya hilang saat ditekan.

1 dari 2 halaman

Bagian yang dirusak

Virus DBD merusak pembuluh darah. Penderita akan mengalami perubahan pada sifat dinding pembuluh darah, yaitu jadi mudah ditembus cairan (plasma) darah. Perembesan ini terjadi sebagai akibat reaksi imunologis antara virus dan sistem pertahanan tubuh.

Akibatnya, plasma masuk ke dalam jaringan berongga/longgar yang akan menimbulkan gejala, misalnya rasa tak enak di rongga perut jika terjadi penumpukan plasma di organ lambung. Perembesan cairan darah secara normal akan berhenti pada fase penyembuhan.

Perembesan plasma yang terus-menerus menyebabkan penurunan jumlah trombosit dalam darah. Trombosit adalah komponen darah yang berfungsi dalam proses penggumpalan darah jika pembuluh kapiler pecah. Jika jumlah trombosit terus menurun hingga tak dapat menghentikan rembesan plasma akibat bocornya pembuluh kapiler, terjadilah perdarahan.

Sementara itu, bagian tubuh yang rusak akibat serangan virus Chikungunya adalah jaringan ikat sendi. Chikungunya tidak mengakibatkan sindrom syok dan perdarahan seperti halnya DBD. Hanya saja, persendian dan otot biasanya mengalami rasa sakit luar biasa sehingga membuat penderita tak bisa berjalan yang sering kali dicurigai mengalami kelumpuhan.

Selewat 5 hari setelah demam mereda, keluhan ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot akan berkurang. Dalam beberapa waktu, penderita bisa kembali menggerakkan tubuhnya.

Hasil pemeriksaan lab

Saat mengalami DBD, penderita akan mengalami penurunan kadar trombosit hingga di bawah normal, yakni 100.000. Kadar hematokrit penderita, yakni yang menandai pengentalan darah, juga terbukti meningkat.

Pada penderita chikungunya, tidak tampak penurunan kadar trombosit yang berarti. Kalaupun ada, tidak sedrastis DBD. Kadar hematokrit juga tak mengalami peningkatan seperti halnya pada DBD. Perubahan signifikan tampak dari kadar leukosit yang meningkat.

Itu adalah beberapa beda DBD dan chikungunya. Oleh karena disebarkan oleh nyamuk, cegah terinfeksi penyakit ini dengan menjaga lingkungan sehat dan bersih. Lakukan langkah 3M, yakni menguras menutup mengubur, untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk.

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar