Sukses

Kuman Tangguh, Terapi TB Harus Tuntas

Persoalan tuberkulosis (TB, dulu disebut TBC) di negara kita tak bisa dianggap sepele

Sumber : Jawa Pos, 9 September 2008 - 10/09/08

Persoalan tuberkulosis (TB, dulu disebut TBC) di negara kita tak bisa dianggap sepele. Betapa tidak, Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Tiongkok dan India.

Disampaikan dr Soedarsono SpP(K), dari kelompok studi TB Institute of Tropical Disease Unair, berdasar data pada 2007, jumlah pengidap TB di Indonesia tak kurang dari 593 ribu per tahun. Di Jatim, tercatat ada 37.664 pengidap TB per tahun. Mengerucut ke area Surabaya, kasusnya mencapai 2.108 per tahun. Itulah sebabnya, perang terhadap TB belum berakhir.

Dilanjutkan Soedarsono, kasus TB sekarang ini lebih banyak pada kasus yang tak tuntas. Maklum, karena pengobatannya termasuk jangka panjang, banyak pasien yang tak tahan. Apalagi, tablet yang harus diminum berukuran besar. Sehingga, begitu keadaan dirasa membaik, pengobatan langsung dihentikan. Padahal, pengobatanyang tak tuntas tersebut akan meningkatkan risiko Multi Drug Resistance (MDR). 'Bakteri penyebab TB akan kebal terhadap obat-obatan yang diberikan,' kata spesialis paru ini. Kondisi MDR ini bisa meningkat menjadi Extremely Drug Resistance. Bila ini terjadi, selain diberikan obat lini pertama juga ditambahkan obat lini kedua. 'Kondisi ini tentu menyulitkan pasien karena biayanya teramat mahal,' tambahnya.

Pengobatan tuberkulosis (TB) memang harus dilakukan jangka panjang. Pada pasien baru (pertama terjangkit TB), pengobatan minimal dilakukan enam bulan. Pada mereka yang terjangkit TB kembali lantaran putus berobat bisa berlangsung minimal 8 bulan.

Mengapa lama begini Menurut Prof Dr dr Ni Made Mertaningsih MS SpMK, yang juga masuk dalam jajaran kelompok Studi TB Institute of Tropical Disease Unair, kuman TB, Mycobacterium tuberculosis, merupakan jenis kuman yang tangguh. Dinding-dinding tubuhnya kuat seperti jamur sehingga tak mudah digempur obat.

Mycobacterium tuberculosis juga termasuk bakteri ulet. 'Saat diobati, sebagian bakteri mungkin saja mati. Namun, sebagian yang lain bisa bersembunyi baik di jaringan paru maupun di dalam sel tubuh,' paparnya.

Itulah sebabnya, pengobatan TB menggunakan obat kombinasi. Sebab, tak semua obat mampu mengejar kuman TB hingga ke tingkat sel. Maka, ketika satu jenis gagal, tugas tersebut dilanjutkan oleh obat yang lain. 'Pada pengobatan lini pertama, misalnya jenis rifampisin dan pirazinamid yang mampu mengejar kuman TB hingga ke dalam sel,' imbuh dr J. F Palilingan SpP(K).

Bakteri yang bersembunyi ini cukup cerdik. Selama ditempat persembunyian, mikroorganisme tersebut hanya berdiam diri, tidak beraktivitas maupun berbiak (dorman). Nah, pada fase inilah biasanya pengidap TB merasa kondisinya membaik dan kerap meninggalkan pengobatan.

Padahal, meski diam, pada suatu waktu kuman TB bisa muncul kembali. Serangannya tak hanya di daerah paru. Tapi, bisa di kulit (TB kulit), menyerang selaput paru (pleura) yang mengakibatkan paru-paru basah, dan pada anak bisa menyerang otak (meningitis).

    1 Komentar