Sukses

Bedah Laparoskopi

Bedah laparoskopi suatu prosedur operatif dengan cara pendekatan invasivif minimal sarat dengan teknologi tinggi. Rancang bangun dan rekayasa terus dilakukan pada perlengkapan dan peralatan bedah laparoskopi

Bedah laparoskopi adalah semua tindakan bedah yang tidak membutuhkan sayatan lebar dalam melakukan eksplorasinya, tetapi memerlukan alat bantu kamera, monitor dan instrumen-instrumen khusus melakukan pembedahan melalui layar monitor tanpa melihat dan menyentuh anggota badan pasien.  Bedah laparoskopi merupakan metode baru yang lebih nyaman untuk pasien yaitu bedah invasif minimal. Sejak pertama kali diperkenalkan teknik pembedahan ini memperlihatkan keunggulannya dibanding bedah konvensional sehingga berkembang pesat hingga saat ini.

 

Sejarah Laparoskopi

Membahas bedah laparoskopi tentunya tidak lengkap tanpa mengetahui sejarah berkembangnya laparoskopi. Keinginan untuk melihat ke dalam rongga perut telah dimulai sejak awal abad ke-20.  Lalu teknik ini semakin berkembang sejalan dengan berkembangnya instrumen-instrumen seperti  teleskop, jarum khusus, gunting, pinset yang memungkinkan untuk intervensi dan melihat rongga perut dengan jelas.

 

 

Bedah laparaskopi diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1990, dengan diselenggarakannya telekonferensi antara Amerika dan masyarakat bedah di Jakarta melalui stasiun televisi swasta.  Diikuti kemudian demonstrasi operasi kolesistektomi (pengangkatan kantung empedu) didua rumah sakit swasta di Jakarta. Sejak itu bedah laparoskopik berkembang di kota-kota besar di Indonesia.

 

Keuntungan dan Kerugian

Bedah laparoskopi memiliki banyak keuntungan, tetapi juga memiliki beberapa keterbatasan.  Beberapa keuntungan dari metode ini adalah

  1. Luka operasi yang kecil berkisar antara 2-10 mm sehingga rasa sakit setelah pembedahan jauh berkurang.
  2. Secara kosmetik bekas luka operasi sangat berbeda bermakna dibandingkan dengan parut luka operasi pasca bedah konvensional. Luka bedah laparoskopi berukuran 2 mm atau kurang sampai dengan ukuran 10 mm akan hilang atau tersembunyi di daerah pusar, yang sulit dilakukan dengan bedah konvensional.
  3. Karena nyeri setelah pembedahan minimal dan tidak banyak manipulasi pada organ usus maka masa pulih setelah pembedahan jauh lebih cepat dan masa rawat di rumah sakit menjadi lebih pendek.
  4. Dengan alat yang kecil, segala manufer dan eksplorasi jadi semakin luas dalam rongga daerah dilakukannya operasi.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, teknik bedah laparoskopi juga memiliki keterbatasan, yaitu masih mahalnya alat-alat, seperti trokar yang sekali pakai. Namun biaya keseluruhan operasi menyerupai bedah konvensional karena masa perawatan yang lebih singkat.

Banyaknya keuntungan yang diperoleh pasien dengan teknik bedah laparoskopi menyebabkan teknik ini lebih diminati dan bersahabat kepada pasien.  

 

Perkembangan Laparoskopi

Bedah laparoskopi suatu prosedur operatif dengan cara pendekatan invasivif minimal sarat dengan teknologi tinggi. Rancang bangun dan rekayasa terus dilakukan pada perlengkapan dan peralatan bedah laparoskopi untuk kemudahan melakukan prosedur maupun kenyamanan dan keamanan pasien. Gambran 3 dimensi untuk memberikan citra yang lebih alamiah dan robot asisten yang dapat diaktifkan dengan suara operator telah menjadi kenyataan. Yang sekarang sedang dikembangkan adalah tindakan pembedahan yang dilakukan oleh pembedah yang tidak berada di sisi pasien, di luar, atau jauh dari kamar operasi dikenal dengan sebutan telepresence surgery.

Bedah invasif minimal sekarang merupakan baku emas (gold standar) dari berbagai macam operasi, seperti kelainan kantung empedu, appendisitis (radang usus buntu) akut dan kronik, kelainan sendi di bidang orthopaedi, kelainan pada rongga toraks yang dikenal dengan VATS (Video Assisted Thoracoscopy Surgery ) , kelainan dan penyakit di bidang urologi dan ginekologi (kandungan).

    2 Komentar