Sukses

A-H1N1 (Flu Babi)

Virus influenza A H1N1 yang saat ini menginfeksi ratusan orang di berbagai negara pada awalnya disebut flu babi. Walaupun disebut demikian

Strain Baru, Ancaman Baru

 

 

Oleh : dr. Puti Naindra Alevia

Virus influenza A H1N1 yang saat ini menginfeksi ratusan orang di berbagai negara pada awalnya disebut flu babi. Walaupun disebut demikian, strain baru ini tidak menginfeksi babi dan tidak pernah ditemukan pada babi. Namun, virus ini mengandung materi genetik yang mirip dengan virus influenza unggas, babi, serta manusia, termasuk elemen dari virus flu babi Eropa serta Asia.

Hipotesis yang diajukan adalah babi berperan sebagai mixing vessel atau tempat percampuran materi genetik virus influenza unggas, babi, serta manusia dengan menghasilkan virus dengan karakter baru. Virus tersebut kemudian tertular ke manusia yang berada di sekitar babi, mengalami adaptasi di dalam sel-sel saluran pernapasan manusia sampai akhirnya dapat menular antar manusia.

Sebetulnya, terdapat binatang lain yang menjadi tempat reservoir virus influenza, seperti anjing, hewan laut, dan kuda. Istimewanya,  hanya babi yang dapat berperan sebagai mixing vessel, terutama virus influenza unggas serta manusia.

 

Mengapa Begitu?
Prof. Agus Sjahrurachman, PhD, Sp.MK, ahli virologi Departemen Mikrobiologi-FKUI menyebutkan bahwa pada sel epitel saluran pernapasan atas babi, terdapat dua jenis reseptor, yaitu a 2,6 sialic acid untuk virus influenza manusia dan babi, serta a 2,3 sialic acid untuk virus flu unggas. Karena itu, kemungkinan terjadinya pencampuran antara ketiga jenis virus tersebut pun lebih besar.

Pada hewan lain, distribusi reseptor tersebut berbeda. Demikian halnya pada manusia, reseptor a 2,6 sialic acid terdapat pada sel-sel saluran pernapasan atas, sedangkan reseptor a 2,3 sialic acid justru banyak pada saluran pernapasan bawah. Karena itu, patogenisitas (keganasan) virus H5N1 yang berasal dari unggas (flu burung) lebih besar karena langsung menyerang organ paru-paru sehingga menyebabkan radang paru-paru pneumonia). Sedangkan, virus H1N1 ini menyerang saluran pernapasan atas manusia, sehingga gejalanya lebih ringan, dan tidak “seganas” H5N1.

 

Mengapa di Meksiko Angka Kematiannya Tinggi? 
Menurut Prof. Agus, alasannya sederhana saja, yaitu jumlah kasus yang lebih banyak karena virus sudah beredar cukup lama. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil akhir dari infeksi sangat kompleks, termasuk faktor hospes (virus), serta faktor manusia itu sendiri.

Yang dimaksud faktor virus adalah virulensi, atau kemampuan virus tersebut untuk merusak jaringan sistem pernapasan manusia, baik secara langsung (replikasi virus menyebabkan kerusakan sel) atau melalui induksi respon imun. Sedangkan faktor manusia adalah sistem daya tahan tubuh manusia serta perawatan yang didapatkan. Sebagai gambaran, angka kematian tertinggi pada pandemi virus influenza H1N1 Spanyol pada tahun 1918, merupakan karena infeksi sekunder oleh bakteri pneumoccocus, bukan karena patogenisitas (keganasan) virus.

Pertanyaan selanjutnya adalah, dari semua negara di dunia, mengapa Meksiko menjadi tempat outbreak pertama infeksi virus influenza A H1N1 ini? Apakah ada faktor yang mempengaruhi terjadinya mutasi genetik yang menyebabkan outbreak tersebut?

Perubahan mutasi genetik yang terdiri dari antigenic shift (mutasi gen yang ada) dan antigenic drift (pertukaran materi genetik dari dua atau lebih jenis virus yang berbeda) terjadi secara spontan dan alami, tidak ada faktor internal yang mempengaruhi. Satu-satunya faktor yang memungkinkan terjadinya mutasi genetik tersebut adalah faktor mixing vessel, dalam hal ini babi. Jika ada hubungan yang cukup erat antara babi dengan unggas serta manusia maka kemungkinan terjadinya pertukaran materi genetik pun lebih besar.

Karena itu, muncul dugaan bahwa di Meksiko terdapat masalah higienisitas peternakan babi yang berdekatan dengan peternakan unggas. Namun, menurut Prof Agus tidak sesederhana itu, perlu diingat bahwa banyak unggas yang dalam hidupnya melakukan migrasi. Selama perjalanan tersebut, unggas akan hinggap-hinggap di berbagai tempat dan negara sehingga kemungkinan adanya kontak langsung antara babi serta unggas pun sulit dikendalikan.

 

Faktor Iklim?
Minggu lalu sempat keluar pernyataan dari Menteri Kesehatan RI, “penyakit influenza akibat infeksi virus H1N1 itu terjadi saat musim gugur dan dingin, saat panas dia tidak bisa hidup. Di sini hampir panas terus, jadi mudah-mudahan tidak muncul.” Menurut Prof Agus, pernyataan ini memang benar dalam konteks daya tahan virus di lingkungan. Sedangkan dalam konteks transmitability, karena status penyebaran virus ini sudah mencapai tahap penularan antar manusia dimana penularan terjadi karena kontak secara langsung, faktor suhu lingkungan menjadi tidak terlalu berpengaruh.

Memang ada pengaruh tidak langsung dari suhu lingkungan, yaitu terhadap mobilitas seseorang. Pada musim dingin, orang cenderung berada di dalam ruangan, sehingga banyak orang berkumpul pada ruangan yang tertutup. Pada keadaan ini, kemugkinan penularan pun tinggi. Sama halnya dengan infeksi inluenza musiman, yang tiap tahun terjadi pada musim gugur dan dingin. Sedangkan pada musim panas, orang cenderung untuk berada di luar ruangan, sehingga jarak antar orang menjauh, dan tejadi efek pengenceran penularan virus. Namun, di Asia, hal ini mungkin tidak terlalu berpengaruh, mengingat padatnya penduduk yang tinggal berdekatan.

                           

Apa Yang Harus Dilakukan Jika H1N1 Masuk ke Indonesia?
Pertama adalah mencegah importasi virus H1N1 ke Indonesia dengan mengawasi orang-orang yang masuk dari negara-negara dimana ditemukan kasus-kasus infeksi H1N1, serta membatasi masuknya produk babi. Walaupun kecil, kemungkinan virus terdapat pada daging babi tersebut tetap ada, apalagi jika dalam perjalanannya, daging babi tersebut disimpan dalam suhu dingin sehingga virus (jika ada) dapat bertahan.

Yang kedua adalah memonitor peternakan babi di Indonesia dengan monitor virologis secara berkala. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya percampuran materi genetik virus H5N1 (flu burung) serta H1N1 yang ada di Indonesia pada babi sebagai mixing vessel. Memang virus H1N1 yang ada di Indonesia berbeda dengan yang ada di Mexico, namun kemungkinan terjadinya percampuran genetik yang menghasilkan strain baru tetap ada. Efek biologis mixing, tidak pasti menghasilkan virus yang lebih patogen, bisa saja lebih “jinak” daripada “induknya”.

Berkaitan dengan program pengawasan ini, disinggung sedikit mengenai flu burung yang sudah banyak memakan korban di Indonesia. Virus H5N1 flu burung sekarang sudah mencapai tahap endemis pada unggas (enzootic). Hal ini ditandai dengan angka kematian unggas yang sudah berkurang, sehingga indikatornya adanya infeksi flu burung menjadi hilang. Namun, bukan berarti virusnya sudah tidak ada, tapi unggas yang terinfeksi tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (sub-klinis). Bukan juga berarti program vaksinasi yang dilakukan berhasil. Di satu sisi, vaksinasi memang membuat unggas menjadi lebih kebal terhadap penyakit, namun tidak terhadap infeksi. Karena menurunkan jumlah virus dalam tubuh unggas, jumlah virus yang beredar pun lebih sedikit. Pada sisi lain, vaksinasi justru bisa menginduksi terjadinya mutasi genetik, sehingga risiko virus menjadi lebih patogen pun meningkat.

Prof Agus menyatakan bahwa hal ini memang kompleks - ada tarik menarik kepentingan. Ternak unggas merupakan adalah sumber protein hewani utama dan menjadi penggerak ekonomi di Indonesia. Karena itu, jika unggas-unggas tersebut tidak divaksinasi, produksi daging unggas menurun, berimbas pada kurang terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat Indonesia. Namun, seperti yang disebutkan di atas, vaksinasi unggas memiliki risiko terjadinya mutasi genetik yang berpotensi menghasilkan virus yang lebih patogen. Karena kedua kepentingan ini memiliki dasar yang logis, pendahuluan kepentingan tergantung dari fase infeksi virus.

 

Up-date H1N1
Saat ini penularan virus H1N1 sudah masuk ke dalam tahap 5 WHO, 1 langkah lagi mencapai tahap pandemi. Walau jumlah kasus di Meksiko sudah berkurang, WHO tetap memperingatkan kemungkinan terjadinya pandemi. Selama ini pandemi influenza sudah terjadi beberapa kali dan akan terus terjadi selama virus influenza masih terus berevolusi. Manusia memang tidak bisa mencegah terjadinya mutasi genetik yang mungkin sangat patogen, namun seperti yang dikatakan oleh Prof. Agus, kita dapat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terjadinya pandemi berikut, yaitu dengan monitor virologis berkala pada hewan yang mungkin menjadi sumber penularan virus tersebut.

Yang kedua adalah dengan mengembangkan vaksin secara berkala. Memang karena evolusi virus yang terjadi terus menerus, vaksin yang dikembangkan hanya efektif untuk jangka waktu 1 tahun. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya pelindungan silang terhadap virus yang strain baru dari subtipe yang sama, baik melalui vaksin atau kekebalan pada orang yang telah terinfeksi virus subtipe serupa sebelumnya.[](PNA)

    0 Komentar

    Belum ada komentar