Sukses

Urgensi Keberadaan Kode Etik Layanan Kesehatan Online/eHealth

Dewasa ini, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa penggunaan internet telah merasuk hampir di semua aspek kehidupan manusia. Baik sebagai sarana untuk berkomunikasi, berbagi informasi, kegiatan jual beli hingga berbagai macam dimensi kehidupan lainnya. Salah satu yang kini makin berkembang adalah fenomena eHealth.

Internet telah berhasil mengubah tren konvensional pelayanan kesehatan di berbagai macam tempat di belahan dunia. Pasien yang sebelumnya hanya dapat berkonsultasi dengan dokter di tempat praktiknya, kini memiliki kemudahan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Internet memungkinkannya tanpa membuat pasien harus bertatap muka dengan dokter.

Selaras dengan praktik layanan kesehatan umum yang mengedepankan adanya kode etik pelayanan kesehatan, layanan kesehatan berbasis internet harus pula memiliki kode etik tersendiri. Ini pekerjaan yang cukup rumit, karena perbedaan fundamental yang ada diantara kedua jenis praktik dan pelayanan kesehatan ini.

Selain itu, usaha ini juga harus melibatkan kerjasama seluruh stakeholder terkait demi menciptakan lingkungan dan hubungan yang dapat dipercaya. Tujuannya untuk menjamin informasi dan layanan kesehatan yang berkualitas tinggi serta untuk menghormati privasi pasien.

Untuk mencapai tujuan mulia tersebut, sebuah organisasi nonprofit internasional, Internet Healthcare Coalition, mengumumkan peluncuran Kode Etik eHealth internasional pada Mei 2000. Kode etik ini bermaksud untuk memastikan setiap orang di dunia dapat dengan percaya diri mengerti potensi internet dan segala risikonya di dalam pengelolaan kesehatan pribadi maupun oleh profesional terkait.

Internet Healthcare Coalition sendiri menjabarkan Kode Etik eHealth dalam delapan butir prinsip dan pedoman dasar bagi pelayanan kesehatan online.

  1. Candor (keterbukaan). Penyedia jasa layanan kesehatan diwajibkan untuk mengungkapkan informasi yang mungkin akan memengaruhi pemahaman konsumen, penggunaan situs atau pembelian/penggunaan produk dan layanan. Proses transparansi harus mencakup kejelasan kepemilikan situs dan kepentingan finansial pemilik pada situs tersebut, tujuan keberadaan situs, dan hubungannya dengan pihak sponsor.
  2. Honesty (kejujuran). Penyedia jasa layanan kesehatan harus memastikan bahwa informasi, termasuk konten dan klaim terkait produk kesehatan, adalah benar dan tidak menyesatkan.
  3. Quality (kualitas). Penyedia jasa layanan kesehatan diwajibkan untuk menyediakan informasi yang akurat, mudah dimengerti, selalu diperbarui dan dibutuhkan pengguna untuk membuat pertimbangan pribadi terhadap informasi produk maupun layanan kesehatan yang disediakan.
  4. Informed consent (persetujuan/izin dari pasien). Penyedia jasa layanan kesehatan harus menghormati hak pengguna untuk menentukan data apa saja dan bagaimana data pribadi mereka dikumpulkan, digunakan, atau dibagikan.
  5. Privacy (rahasia pribadi). Penyedia jasa layanan kesehatan diharuskan untuk menghormati serta melindungi privasi pengguna. Mereka harus memastikan keamanan layanan mereka untuk mencegah akses yang tidak sah terhadap penggunaan data pribadi.
  6. Professionalism in online health care (profesionalisme dalam pelayanan kesehatan online). Dokter, perawat, dan praktisi kesehatan lain yang memberikan nasihat atau perawatan medis secara online harus mematuhi kode etik masing-masing profesi. Para profesional harus menjelaskan keterbatasan rekomendasi terapi maupun diagnosis yang dilakukan secara online.
  7. Responsible partnering (kemitraan yang bertanggungjawab). Sponsor atau afiliasi yang bekerjasama dengan penyedia jasa layanan kesehatan harus dapat dipercaya serta mematuhi hukum yang berlaku dan menjunjung tinggi standar etika yang sama.
  8. Accountability (akuntabilitas). Penyedia jasa layanan kesehatan wajib untuk menyediakan kesempatan bagi para pengguna  jasa untuk memberikan umpan balik, dalam bentuk saran, kritik, mau pun pengawasan kepatuhan situs terhadap kode etik eHealth.

Melalui penjabaran delapan butir prinsip diatas, diharapkan agar pembaca dapat mengetahui urgensi dari keberadaan Kode Etik Layanan eHealth ini serta manfaatnya bagi keberlangsungan layanan kesehatan berbasis internet, terutama di tengah semakin menggeliatnya aktivitas pelayanan kesehatan online di Indonesia.

(BN/RH)

Baca juga

0 Komentar

Belum ada komentar