Sukses

Ada Apa dengan Suku Anak Dalam dan Rokok?

Rokok tidak asing lagi bagi suku Anak Dalam di Jambi. Apa yang membuat mereka sangat ‘dekat’ dengan rokok?

Indonesia merupakan salah satu negara yang dihuni ribuan suku bangsa yang beraneka ragam.

Masing-masing suku memiliki budaya yang sudah turun-temurun sejak nenek moyang mereka. Salah satu kebudayaan unik yang dimiliki negeri ini adalah budaya yang dianut oleh suku Anak Dalam.

Suku Anak Dalam yang berdiam di wilayah Jambi dan Sumatera Selatan ini dikenal juga dengan sebutan suku Kubu atau Orang Rimba. Mereka menganut sistem kemasyarakatan nomaden atau tidak menetap dan mendasarkan hidup pada berburu. Beberapa bulan yang lalu, Menteri Sosial Republik Indonesia berkunjung ke Jambi dan menemui suku Anak Dalam untuk mensosialisasikan pemindahan lokasi mereka. Proses pendekatan dilakukan dengan dengan memberikan rokok pada suku Anak Dalam. Banyak kalangan masyarakat yang tidak menyetujui tindakan ini.

Rokok dan Suku Anak Dalam

Bagi suku Anak Dalam di Jambi, rokok bukanlah benda asing. Meski mereka berdiam di wilayah yang terpencil dan jauh dari peradaban, bukan berarti mereka tidak mengetahui benda ini. Banyak faktor yang membuat rokok sangat diminati oleh suku Anak Dalam di Jambi. Berikut beberapa faktor tersebut:

  • Kurangnya pengetahuan dan pendidikan membuat suku Anak Dalam tidak tahu-menahu tentang efek samping dari penggunaan rokok sejak usia dini.
  • Adanya barter hasil alam yang didapatkan oleh penduduk dengan rokok.
  • Minimnya pengawasan dan penyuluhan kesehatan dari petugas kesehatan di wilayah setempat.

Kebiasaan merokok suku Anak Dalam sebenarnya tidak dapat dianggap sebagai suatu bentuk kebudayaan.  Sebab pengertian budaya itu sendiri berasal dari rasa, karsa, dan ciptaan murni dari suatu masyarakat. Sayangnya aktivitas merokok sudah sangat lekat dan menjadi candu bagi suku Anak Dalam. Begitu kuatnya kebiasaan ini melekat pada keseharian suku ini membuat rokok nyaris menjadi bagian dari ‘budaya’ suku tersebut.

Kebiasaan ini dapat dikurangi dengan melakukan pendekatan dari sisi kesehatan. Misalnya dengan mengadakan penyuluhan kesehatan mengenai bahaya merokok, yang perlu dilakukan perlahan-lahan dan tidak memaksa.

(RS/RH)

Baca juga:

0 Komentar

Belum ada komentar