Sukses

Potret Para Perokok Belia di Indonesia

Jumlah anak perokok di Indonesia tergolong tinggi dan memprihatinkan. Baca fakta-faktanya lebih jauh di sini.

Masih ingatkah Anda dengan Ardi Rizal? Ia adalah anak Indonesia yang sempat membuat heboh dunia beberapa tahun silam. Pada usia dua tahun, ia sudah kecanduan rokok hingga dapat menghabiskan empat puluh batang per hari. Namun, Ardi bukan satu-satunya anak di bawah umur yang merokok. Ibarat fenomena gunung es, puncaknya mungkin terlihat kecil tapi sebenarnya di bagian dasarnya sangat banyak.

Banyaknya perusahaan rokok baik lokal maupun internasional yang gencar beriklan, membuat animo masyarakat untuk membeli dan merokok meningkat. Bukan hanya menarik minat masyarakat dewasa, anak-anak di bawah umur juga ikut tergiur dan mencoba-coba. Bahkan, data yang ada mengungkapkan bahwa di Indonesia, sekitar satu juta anak di bawah usia enam belas tahun merokok secara rutin. Lebih mencengangkan, sekitar sepertiga dari anak Indonesia di bawah usia sepuluh tahun pernah mencoba merokok setidaknya sekali.

Sebenarnya apa saja faktor-faktor yang membuat seorang anak menjadi perokok? Salah satu penelitian di Asian and Pacific Migration Journal oleh Sukamdi dkk. di Pulau Jawa menemukan bahwa tingkat pendidikan dari pengasuh, pengaruh dari teman sebaya, serta dinamika antar anggota keluarga merupakan tiga faktor utama yang dapat mendorong seorang anak untuk mulai merokok.

Berdasarkan faktor yang telah disebutkan, salah satu contoh terkait hal ini adalah mengenai seorang anak berusia dua tahun yang tinggal di daerah kecil di Jawa Timur. Anak ini diasuh oleh kakeknya yang mengizinkannya untuk merokok hingga dua bungkus sehari. Alasan sang kakek memperkenalkan cucunya pada rokok adalah untuk membuatnya nyaman. Bahkan ia menyuguhkan secangkir kopi untuk menemani sang cucu merokok. Sangat memprihatinkan, bukan?

Beberapa solusi sudah diterapkan di Indonesia, seperti pengadaan program berhenti merokok yang disesuaikan untuk masing-masing individu. Selain itu juga dilakukan peningkatan pengendalian dan regulasi perusahaan rokok lokal maupun internasional, serta menampilkan peringatan berbentuk gambar-gambar eksplisit pada kemasan rokok.

Diharapkan adanya strategi-strategi tersebut, serta rencana pemerintah untuk menaikkan harga rokok, dapat mengurangi kehadiran ‘bayi-bayi perokok’ Indonesia di masa depan.

(RS/RH)

Baca juga:

0 Komentar

Belum ada komentar