Batuk pada dasarnya merupakan respons refleks
saluran pernapasan saat membersihkan lendir maupun partikel asing. Masalah batuk
pada balita memang lumrah terjadi selama masa pertumbuhan, khususnya saat anak
terserang infeksi saluran napas atas. Namun, saat
kondisi batuk tak kunjung reda, frekuensinya kian sering, atau serangannya
tampak makin menyiksa fisik si kecil, kewaspadaan orang tua tentu perlu
ditingkatkan.
Kondisi batuk berkepanjangan semacam ini patut
dicurigai sebagai gejala batuk rejan, atau dalam terminologi medis
dikenal sebagai pertusis. Infeksi bakteri Bordetella pertussis ini
sangat mudah menular antar manusia melalui percikan droplet pernapasan.
Serangan batuk rejan tergolong paling berisiko saat menyerang bayi dan anak
usia dini karena potensi gangguannya terhadap jalan napas serta risiko
komplikasi fatal.
Mengenal Apa Itu Batuk Rejan
Secara klinis, pertusis atau batuk rejan
adalah infeksi saluran pernapasan akut yang fase
awalnya sangat mirip dengan batuk pilek biasa. Tahap awal ini kerap ditandai
dengan gejala ringan berupa hidung berair, hidung tersumbat, demam ringan,
serta batuk sesekali.
Memasuki minggu pertama hingga kedua, fase
penyakit mulai bergeser menjadi serangan batuk keras yang beruntun dan
melelahkan. Mengingat durasi infeksinya yang sangat panjang, masyarakat awam
mengenalnya dengan sebutan batuk 100 hari. Rentang durasi batuk rejan sendiri
umumnya berkisar antara 4 hingga 8 pekan, bahkan bisa lebih lama jika tidak
segera ditangani.
Perbedaan Karakteristik Batuk Biasa
dan Batuk Rejan
Batuk biasa akibat flu musiman umumnya
berangsur membaik dalam hitungan hari sejalan dengan pulihnya daya tahan tubuh.
Sebaliknya, kasus batuk rejan justru menunjukkan intensitas batuk yang makin
menghebat dari hari ke hari dengan pola serangan yang khas.
Ciri klinis dari serangan batuk rejan yang
perlu diwaspadai meliputi:
- Serangan batuk terjadi beruntun
tanpa jeda hingga anak tampak kesulitan berhenti bernapas.
- Muncul tarikan napas berbunyi
melengking tinggi (whooping sound) begitu serangkaian batuk mereda.
- Batuk hebat kerap diakhiri dengan
muntah akibat tekanan lambung yang terdorong.
- Wajah atau bibir anak tampak
memerah hingga kebiruan saat serangan batuk berlangsung.
- Kondisi fisik anak terlihat sangat
lemas sesudah serangan, meski tampak normal kembali di sela-sela antar-episode.
- Intensitas keparahan batuk
cenderung meningkat tajam pada malam hari.
- Khusus pada bayi usia di bawah 6
bulan, suara napas melengking (whoop) sering kali tidak terdengar,
melainkan langsung berupa henti napas sesaat (apnea).
Karakteristik inilah yang mendasari mengapa
kasus batuk tak kunjung reda pada kelompok balita tidak boleh disamakan dengan
batuk biasa, terutama jika polanya kian berat dan berulang.
Mengapa Penyakit Batuk Rejan Sangat
Berbahaya?
Infeksi pertusis membawa ancaman komplikasi
serius pada saluran napas anak kecil. Komplikasi sekunder yang paling sering
dilaporkan adalah pneumonia (radang paru akut). Pada derajat
keparahan tinggi, batuk rejan berisiko memicu hipoksia (kekurangan oksigen), henti napas (apnea),
kejang akibat demam tinggi, hingga kerusakan saraf atau ensefalopati.
Tingkat keparahan batuk rejan melonjak drastis
pada bayi yang belum pernah memperoleh imunisasi lengkap. Oleh sebab itu, orang
tua perlu mencermati setiap perubahan ritme batuk dan tidak menunda pemeriksaan
medis ketika gejala awal mulai mencurigakan.
Kapan Balita Perlu Segera Dibawa ke
Dokter?
Segera bawa anak ke fasilitas gawat darurat
medis apabila batuk disertai tanda bahaya berikut:
- Frekuensi napas menjadi sangat
cepat atau anak tampak kesulitan menarik napas.
- Terdapat jeda nafas yang nyata
atau anak mendadak berhenti bernapas (apnea).
- Area bibir, lidah, atau ujung jari
tampak pucat dan membiru.
- Asupan cairan menurun drastis
hingga menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.
- Episode batuk selalu memicu muntah
berulang secara terus-menerus.
- Frekuensi serangan batuk makin
rapat dan makin menyiksa.
- Anak tampak sangat lemas, pasif,
atau kesadarannya menurun setelah batuk.
Perlu diingat bahwa pada bayi muda, ancaman
henti napas dapat timbul tanpa didahului bunyi batuk khas, sehingga perubahan
sekecil apa pun pada pola napas harus segera ditangani tenaga medis.
Langkah Efektif Pencegahan Batuk
Rejan
Pencegahan utama batuk rejan dilakukan melalui
pemberian vaksinasi yang mengandung komponen pertusis (vaksin DTP/DTaP). Rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO)
menegaskan bahwa rangkaian dosis imunisasi dasar terbukti menurunkan risiko
komplikasi berat dan kematian akibat pertusis pada bayi secara signifikan.
Langkah preventif tambahan yang perlu
diterapkan di antaranya:
- Memisahkan balita yang dicurigai
mengidap pertusis dari bayi atau anak lain guna memutus rantai penularan lewat
droplet.
- Memastikan terapi antibiotik dari
dokter dikonsumsi sampai tuntas sesuai anjuran agar infeksi bakteri musnah dan
daya tularnya berhenti.
- Menjaga sirkulasi udara dan
higienitas lingkungan di sekitar tempat tinggal anak.
Batuk yang berlangsung berminggu-minggu pada
balita memang tidak selalu berarti batuk rejan. Namun, bila batuk tak kunjung
reda, polanya datang menyerang secara beruntun, serta memicu muntah atau
gangguan napas, evaluasi dari dokter spesialis anak adalah langkah medis mutlak
demi mencegah komplikasi fatal sejak dini.
Lindungi paru-paru mungil si kecil dari
ancaman fatal batuk rejan. Pastikan anak Anda mendapatkan imunisasi dasar
DTP/DTaP sesuai jadwal dari WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Booking
jadwal vaksinasi anak Anda dengan mudah di Vaccination
Hub hari ini!
- World Health
Organization. (2024). Pertussis.https://www.who.int/health-topics/pertussis
- World Health
Organization. (2024). Pertussis: What You Need to Know.https://www.who.int/europe/publications/pertussis-what-you-need-to-know
- World Health
Organization. (2023). Pertussis: Vaccine Preventable Diseases Surveillance
Standards.https://www.who.int/publications/m/item/vaccine-preventable-diseases-surveillance-standards-pertussis
- World Health
Organization. (2020). Pertussis Vaccines: WHO Position Paper.https://www.who.int/teams/immunization-vaccines-and-biologicals/policies/position-papers/pertussis
- World Health
Organization. (2014). Laboratory Manual for the Diagnosis of Whooping
Cough Caused by Bordetella pertussis-Bordetella parapertussis.https://www.who.int/publications/i/item/laboratory-manual-for-the-diagnosis-of-whooping-cough-caused-by-bordetella-pertussis-bordetella-parapertussis.-update-2014
:format(webp)/article/_UQwCLLgmMLgH77pcUwaN/original/t94a28rp4clhjvrdio42q5rg43o7ao34.jpg)