HomeInfo SehatKesehatan LansiaJepang Meneliti Solusi Kebutaan Akibat Menua
Kesehatan Lansia

Jepang Meneliti Solusi Kebutaan Akibat Menua

Tim Redaksi KlikDokter, 04 Sep 2020

Peneliti Jepang telah mendapatkan izin dari pemerintahnya untuk memulai uji klinis terapi sel punca untuk Age-Related Macular Degeneration (AMD), penyakit penyebab utama kehilangan penglihatan pada pasien lanjut usia.

Jepang Meneliti Solusi Kebutaan Akibat Menua

KlikDokter.com - Terapi Sel Punca untuk Penyakit Age-Related Macular Degeneration. Peneliti Jepang telah mendapatkan izin dari pemerintahnya untuk memulai uji klinis terapi sel punca untuk Age-Related Macular Degeneration (AMD), penyakit penyebab utama kehilangan penglihatan pada pasien lanjut usia.

Terjadinya AMD ditandai dengan adanya kerusakan progresif pada epitel pigmen retina (Retinal Pigmen Epithelium, RPE), lapisan pelindung sel non-saraf yang terletak berdekatan dengan fotoreseptor di belakang mata. Kerusakan ini disebabkan oleh  adanya neovaskularisasi (pembentukan pembuluh darah baru).

Selama ini terapi untuk  penyakit AMD adalah penyuntikan EYLEA atau LUCENTIS, obat yang menghambat terjadinya neovaskularisasi, tetapi terapi tersebut tidak memperbaiki kerusakan epitel pigmen retina yang sudah terjadi.

Artikel Lainnya: Buta Warna Total

 

Jepang Meneliti Solusi Kebutaan Akibat Menua

Sel Punca atau Stem Cell merupakan sel yang memiliki kemampuan untuk memperbanyak diri sendiri dengan menghasilkan sel-sel berkarakteristik sama dengan sel induknya serta dapat berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel dalam tubuh.

Sel punca menawarkan cara baru untuk mengobati masalah penglihatan yang disebabkan oleh penyakit AMD. Uji klinis ini pertama kali dilakukan dengan menggunakan  terapi sel punca yang berasal dari sel-sel pasien sendiri (autologus).

Rencananya, para peneliti akan mengambil sel-sel kulit dari pasien AMD dengan melakukan biopsi pada kulit lengan atas sepanjang  4 mm.

Sel-sel kulit kemudian akan dikulturkan untuk menghasilkan induced pluripotent stem cells (iPSCs). Kultur iPSCs tersebut akan didiferensiasikan menjadi epitel pigmen retina (RPE) yang akan ditransplantasikan kembali pada pasien. Seluruh proses ini membutuhkan waktu sekitar 10 bulan.

Setelah transplantasi pasien akan dipantau  dan di ‘follow-up’ selama empat tahun. Uji ini akan dimulai tahun 2014 di Kobe pada 6 pasien dan dilakukan oleh Riken Center for Developmental Biology and the Institute of Biomedical Research and Innovation.

Penelitian ini menerbitkan harapan untuk solusi ancaman kebutaan yang menghantui siapapun yang berisiko. Karena dengan perkiraan angka penderita kebutaan pada 2020 menjadi 55 juta jiwa di seluruh dunia, kebutaan sudah saatnya menjadi fokus dunia kesehatan untuk mengantisipasi ancaman ini. (PA/DA)

Artikel Terkait

Lihat Semua
Lansia Bersikap seperti Anak Kecil, Faktor Medis atau Psikologis?

Lansia Bersikap seperti Anak Kecil, Faktor Medis atau Psikologis?

Kesehatan Lansia20 Jun 2022

Kondisi lansia bersikap seperti anak kecil memang bisa terjadi. Hal tersebut disebabkan oleh faktor medis atau psikologis? Simak di sini.

Tips Menangani Nyeri Lutut pada Lansia

Tips Menangani Nyeri Lutut pada Lansia

Kesehatan Lansia09 Jun 2022

Semakin bertambah usia, nyeri lutut makin rentan dirasakan lansia. Anda juga mengalaminya? Simak cara mengatasi nyeri lutut pada lansia berikut.

Daftar Masalah Kulit yang Dapat Menyerang Lansia

Daftar Masalah Kulit yang Dapat Menyerang Lansia

Kesehatan Lansia18 Mei 2022

Lansia perlu waspada. Ada sejumlah masalah kulit lansia yang bisa menyerang. Ketahui daftar masalah kulit pada lansia dan cara merawatnya di sini.

Aqua Panas Ujan
Pepsodent Sensitive Mineral Expert