Kesehatan Bayi

Kapan Seharusnya Bayi Berhenti Minum ASI?

Tamara Anastasia, 08 Agu 2019

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

ASI adalah makanan paling sehat untuk bayi yang baru lahir. Tapi, kapan seharusnya bayi berhenti minum ASI?

Kapan Seharusnya Bayi Berhenti Minum ASI?

Ketika bayi lahir, Anda dianjurkan untuk memberinya ASI sebagai asupan sehari-hari. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahkan merekomendasikan pemberian ASI secara eksklusif di enam bulan pertama kehidupan si Kecil. Lalu kapan seharusnya bayi berhenti minum ASI?

Prioritaskan ASI eksklusif

ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung nutrisi lengkap untuk bantu tumbuh kembang si Kecil. Dikutip dari laman IDAI, pemberian ASI tetap harus diteruskan meski bayi telah berusia enam bulan.

Namun, menginjak usia tersebut, Anda perlu memberikan makanan pendamping ASI atau MPASI agar kebutuhan nutrisi si Kecil terus terpenuhi.

Pada dasarnya, berapa lama pemberian ASI pada bayi adalah keputusan dari Anda sendiri. Menurut dr. Adeline Jaclyn dari KlikDokter, tidak ada patokan waktu yang tepat kapan bayi harus berhenti meminum ASI. 

“Jika Anda merasa sudah cukup memberikan ASI, berhenti tidak apa-apa. Asalkan ibu sudah memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan. Lalu dilanjutkan sampai dua tahun yang didampingi dengan nutrisi lain dari MPASI,” kata dr. Adeline.

Tak perlu khawatir untuk terus memberikan ASI pada bayi, khususnya di enam bulan pertama usia kehidupannya. Sebab, selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil, memberikan ASI dengan menyusui juga bisa mendatangkan beragam manfaat sehat untuk ibu.

Manfaat memberikan ASI untuk ibu

Menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter ada beragam manfaat sehat yang bisa diperoleh ibu saat menyusui. Dalam fase tersebut, ibu yang menyusui bayi secara eksklusif bisa merasakan manfaat sehat berikut ini:

1. Menurunkan berat badan

Pemberian ASI eksklusif di enam bulan pertama kehidupan bayi dapat membantu ibu menurunkan berat badan lebih cepat. Ini karena tubuh membakar kalori untuk memproduksi ASI (sekitar 500 kalori sehari). Semakin banyak ASI yang diproduksi, semakin besar pula kalori yang dibakar.

2. Mengecilkan rahim

Ketika hamil, kondisi rahim akan menyesuaikan untuk “menampung” ukuran bayi yang besar. Dengan memberikan ASI eksklusif, Anda dapat mempercepat pengecilan rahim dengan merangsang keluarnya hormon oksitosin.

3. Menurunkan risiko depresi

Ibu yang baru saja melahirkan berisiko lebih tinggi untuk mengalami depresi dan sindrom baby blues. Menurut penelitian, ibu yang memberikan ASI eksklusif memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami kondisi tersebut. Ini disebabkan oleh peran oksitosin yang dilepaskan ketika ibu menyusui.

Oksitosin adalah hormon yang dapat membuat ibu lebih merasa bahagia. Ikatan yang terjalin antara ibu dan bayi selama menyusui juga bisa membuat ibu merasa lebih tenang dan nyaman.

4. Menurunkan risiko penyakit

Penelitian menemukan bahwa ibu yang menyusui lebih dari 12 bulan memiliki risiko kanker payudara dan ovarium yang lebih rendah. Selain itu, pemberian ASI secara eksklusif juga dapat melindungi ibu dari penyakit hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, penyakit jantung, dan sindrom metabolik.

5. Kontrasepsi alami

Menyusui eksklusif (minimal 8 kali sehari) dapat mencegah ovulasi dan menstruasi. Ini artinya, memberikan ASI secara eksklusif dapat berperan sebagai kontrasepsi alami yang mencegah terjadinya pembuahan setelah berhubungan seksual.

Mulai saat ini, Anda tidak perlu bingung kapan waktu yang tepat bagi bayi untuk berhenti minum ASI. Selama Anda masih merasa nyaman dan ASI diberikan dengan cara yang tepat, niscaya apa yang dibutukan bayi akan senantiasa terpenuhi.

(NB/ RVS)

Menyusui
MPASI
pola asuh
ASI Eksklusif
Minum ASI
Bayi Minum ASI
Bayi Berhenti Minum ASi
Berhenti Minum ASI